
Oleh: L. Nur Salamah, S.Pd.
Pengasuh Kajian Mutiara Ummat Batam
Ramadan disebut sebagai bulan yang di dalamnya terdapat keberkahan, bulan yang penuh dengan curahan rahmat dan ampunan. Setiap amalan dilipatgandakan. Maka, seyogianya umat Islam bergelimang keberkahan.
Realitas berbicara. Kita memang masih diberikan kesempatan oleh Allah ﷻ untuk mendekap dan menikmati Ramadan serta menjalankan berbagai ibadah. Namun, keberkahan seolah tidak kita rasakan.
Mengapa berkah itu seakan hilang dan sulit untuk kita dapatkan?
Bagaimana berkah itu akan hadir jika diri kita, masyarakat, dan negara kita menjalani dan mengisi kehidupan ini jauh dari ketentuan syariat?
Padahal keberkahan itu sebenarnya mudah kita dapatkan asalkan kita melaksanakan apa yang telah Allah tetapkan sehingga meraih rida-Nya.
Sebagaimana telah disinggung juga dalam atsar/khabar yang dinukil dari Wahb bin Munabbih:
إِنِّي إِذَا أُطِعْتُ رَضِيتُ، وَإِذَا رَضِيتُ بَارَكْتُ
“Ketika Aku ditaati maka Aku akan rida. Ketika Aku rida, maka Aku akan memberikan keberkahan.”
Ketika berkah itu telah kita dapatkan, tidak akan ada batasan dan pasti berlimpah.
Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 96:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ
“Andaikan penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa (dengan sebenar-benarnya), pasti Kami akan bukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi.”
Oleh karena itu, jangan biarkan Ramadan tahun ini hadir dan disambut sebagai ritual tahunan belaka tanpa ada perubahan sikap yang berarti.
Mari kita wujudkan Ramadan ini sebagai momentum untuk menggapai limpahan berkah itu dengan membangun ketaatan.
Ketaatan yang dimaksud bukan sebatas dalam aspek individu, namun ketaatan total dalam seluruh dimensi kehidupan.
Bukan taat secara parsial, sebatas masalah ibadah, namun juga dalam aspek muamalah, termasuk dalam aspek sosial, ekonomi, politik, dan hukum.
Apabila kita saksikan bagaimana kondisi hukum yang ada saat ini, jauh dari kata adil. Tak ubahnya seperti pisau dapur yang tajam ke bawah, tumpul ke atas. Maka wajar jika kriminalitas dan kezaliman kian merajalela.
Demikian halnya untuk aspek-aspek yang lain. Sistem ekonomi ribawi dilumrahkan, sehingga wajar jika kita hidup jauh dari keberkahan.
Oleh karena itu, mari kita jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk mewujudkan ketakwaan yang hakiki dengan menegakkan hukum Allah ﷻ dalam seluruh aspek kehidupan yang akan mendatangkan keberkahan.
Wallahu a’lam.

0 Komentar