
Oleh: Anis
Pegiat literasi
Lenyapnya ribuan korban tanpa jejak, diduga akibat amunisi yang begitu mematikan, menjadi bagian paling mengerikan dari kezaliman Zionis laknatullah: ketika “perdamaian” justru dijadikan dalih untuk pembombardiran, nyawa manusia seakan dibuat menguap begitu saja, sementara hayat mereka terus bersandar pada kebatilan dan bisikan iblis.
Ribuan warga Palestina dilaporkan “hilang” dan diduga berkaitan dengan jenis senjata yang digunakan militer Israel di Jalur Gaza sejak perang pecah pada Oktober 2023. Yang dimaksud “hilang” di sini adalah para korban tidak dapat ditemukan jenazahnya, diduga karena penggunaan amunisi termal dan termobarik.
Dugaan terkait pemakaian amunisi termal dan termobarik tersebut merujuk pada laporan investigasi khusus Al Jazeera, media berbasis di Qatar. Laporan itu, sebagaimana diberitakan Al Jazeera dan dikutip Anadolu Agency, dimuat dalam program investigasi “The Rest of the Story” yang tayang pada Senin (9/2) waktu setempat.
Dalam laporan tersebut, lenyapnya ribuan warga Palestina dikaitkan dengan penggunaan senjata bersuhu tinggi oleh Israel, yang diduga mampu membuat jaringan tubuh manusia menguap tanpa meninggalkan jejak. (Detik, 13/2/2026)
Jika dugaan itu benar, maka ini bukan sekadar perang biasa. Ini adalah langkah sistematis untuk menghancurkan Gaza dan seisinya, demi memuaskan dahaga kekuasaan yang tak pernah kenyang. Ketika ambisi dijadikan kompas, kehancuran dan kematian berubah menjadi “harga” yang dianggap wajar.
Di titik inilah wajah kezaliman menjadi telanjang. Yang tampak bukan lagi manusia dengan nurani, melainkan perilaku yang turun ke taraf kebuasan (bahkan lebih hina daripada binatang) karena binatang tidak membungkus kekerasan dengan propaganda, sementara Zionis melakukannya dengan mata gelap, moral gelap, dan hidup yang jauh dari kebenaran.
Akibatnya, apa pun yang diinginkan seolah harus diraih lewat penghancuran dan pembunuhan. Dan di saat seperti ini, wajar jika muncul pertanyaan yang menyesakkan: andaikata ada negara Islam yang benar-benar menjadi perisai (junnah) bagi umat, mungkinkah jiwa-jiwa Palestina akan terhampar seperti yang kita saksikan hari ini?
Dalam Islam, nilai nyawa begitu agung: membunuh satu jiwa dipandang setara dengan membunuh seluruh manusia. Karena itu, kejahatan yang merampas nyawa dan memusnahkan manusia tanpa jejak bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga pelanggaran yang berat dan tidak bisa dianggap remeh.
اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًاۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا
“Barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.” (QS. al-Maidah: 32)
Dalam Islam, seluruh aspek kehidupan diatur berdasarkan wahyu Allah ﷻ. Karena itu, tindakan membenarkan (apalagi mendukung) kezaliman di muka bumi jelas bukan sesuatu yang Allah kehendaki; bahkan Allah membencinya, dan ancaman bagi para pelaku kezaliman adalah siksa neraka. Ironisnya, sebagian penguasa di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya Muslim justru tampak berdiri di barisan yang mendukung kezaliman hari ini. Mereka seakan terbius oleh logika kapitalistik: iming-iming keuntungan, transaksi kepentingan, dan angka-angka duniawi yang meninabobokan nurani.
Jika materi dijadikan tujuan utama, ke mana arah masa depan negeri ini akan dibawa? Bila ukuran kebenaran hanya sebatas bongkahan dunia, pantaslah kita bertanya sekaligus merenung: sebenarnya ada apa dengan negara ini?
Padahal dalam surah al-A'raf ayat 96 Allah ﷻ menerangkan:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
Pengkhianatan terhadap ayat-ayat Allah menjadi awal keruntuhan: ketika dunia dan seisinya lebih memilih aturan buatan manusia, kerusakan (fasad) pun tak terelakkan karena hukum manusia selalu terbatas, dipengaruhi nafsu, dan sarat kepentingan. Padahal, jika aturan Allah yang dijadikan pijakan negara, keberkahan dari langit dan bumi bukan sekadar janji, melainkan buah dari iman dan takwa yang benar-benar diwujudkan dalam sistem kehidupan. Dari sanalah persatuan umat akan lahir, bukan persatuan seremonial, melainkan ikatan kokoh yang menguatkan langkah dan meneguhkan kemenangan Islam.
Karena itu, persatuan harus dijadikan langkah awal kebangkitan umat: menegakkan syariat dan menghadirkan khilafah sebagai naungan penerapannya. Iman dan takwa bukan hanya slogan, tetapi modal utama untuk membangun kehidupan yang berkah; syariat ditegakkan, ketakwaan dikuatkan, dan iman menjadi fondasi yang memandu arah kebijakan serta keberpihakan.
Dalam naungan khilafah, pembelaan terhadap rakyat Palestina yang tertindas bukan pilihan, melainkan kewajiban yang ditunaikan dengan cara yang nyata dan terukur. Khilafah bukan sekadar simbol persatuan, tetapi instrumen yang mampu menghentikan kezaliman, menantang hegemoni yang menindas, dan menegakkan keadilan dalam tatanan dunia.
Wallahu a’lam bisshawab.

0 Komentar