
Oleh: L. Nur Salamah, S.Pd.
Thalibah Batam
Syair adalah istilah yang familiar di telinga kita. Ia merupakan salah satu bentuk sastra yang mirip dengan puisi, namun dengan karakteristik tersendiri. Sebagai bagian dari warisan sastra klasik, syair memiliki tempat yang penting dalam budaya banyak masyarakat, termasuk dalam tradisi Islam.
Namun, tahukah Anda bahwa syair memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam Islam? Bahkan, syair dalam sejarah Islam memiliki kekuatan yang luar biasa, yang tak kalah pentingnya dengan militer dalam mempengaruhi masyarakat. Keberadaan syair bukan hanya sekadar seni, tetapi juga alat yang sangat efektif dalam membentuk opini dan menyebarkan pesan.
Mengapa syair dikatakan demikian berpengaruh? Karena melalui syair, seseorang dapat menyampaikan pesan-pesan moral, politik, atau bahkan ajaran agama dengan cara yang memikat hati. Syair dapat menggugah perasaan dan mempengaruhi sikap seseorang, sehingga tidak jarang digunakan sebagai alat propaganda, baik oleh individu maupun kelompok.
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika pada masa Rasulullah ï·º, para penyair memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Bahkan, di beberapa riwayat, disebutkan bahwa kedudukan seorang penyair begitu dihormati sehingga ketika seseorang dikenal sebagai penyair ternama, masyarakat akan merayakan dan mengadakan pesta besar sebagai bentuk penghargaan.
Salah satu penyair yang sangat terkenal di masa Rasulullah ï·º adalah Hasan bin Tsabit. Hasan bukan hanya terkenal karena syair-syairnya, tetapi juga karena ia mewarisi bakat seni dari sang ayah yang juga seorang penyair. Bahkan, usianya mencapai 120 tahun, sebuah usia yang sangat panjang pada masa itu.
Namun, sebelum memeluk Islam, syair-syair yang digubah oleh Hasan adalah syair-syair jahiliah, seperti kebanyakan penyair pada zamannya. Hal ini wajar, karena seseorang menulis dan berperilaku sesuai dengan pemahaman yang dimilikinya pada waktu itu. Baru setelah memeluk Islam di usia 60 tahun, Hasan menggubah syair-syair yang bernafaskan Islam, menyuarakan nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang diajarkan oleh Rasulullah ï·º.
Keistimewaan Hasan bin Tsabit sebagai penyair tidak hanya terletak pada usianya yang panjang atau darah penyair yang mengalir dalam dirinya, tetapi juga pada dedikasinya terhadap Islam. Rasulullah ï·º sangat menghargai karya-karya syair Hasan. Bahkan, dalam suatu peristiwa, Rasulullah meminta Hasan untuk menggubah syair sebagai balasan terhadap syair yang dilantunkan oleh Abu Sufyan yang berisi makian terhadap Rasulullah ï·º.
Selain Hasan bin Tsabit, terdapat juga penyair terkenal lainnya seperti Kaab bin Zuhair. Syair yang dilantunkan Kaab penuh dengan puji-pujian terhadap Rasulullah ï·º, seolah-olah ia tengah jatuh cinta. Pujiannya sangat memukau hati Rasulullah hingga beliau memberikan Burdah, sebuah selendang yang menjadi simbol penghargaan atas syair tersebut. Sejak saat itu, syair pujian terhadap Rasulullah ï·º dikenal dengan nama Burdah.
Dengan demikian, syair bukan hanya sekadar karya seni, tetapi juga alat dakwah yang sangat efektif, yang mampu menyampaikan pesan moral dan spiritual kepada umat.
Wallahu'alam bish-shawwab.

0 Komentar