KENAPA SETELAH BERBUKA KITA JUSTRU MENGANTUK?


Oleh: Abu Fatih
Penulis Lepas

Menjelang azan Magrib, suasana rumah berubah pelan-pelan. Gelas berisi teh manis dan sirup dingin mulai disusun, kolak mengepul hangat, gorengan tersaji seolah menunggu detik pembebasan. Setelah hampir tiga belas jam menahan lapar dan haus, semua itu terasa wajar, bahkan seperti hadiah yang sah untuk “dibalas tuntas”.

Namun, justru pada saat paling dinanti itu, tubuh sedang menghadapi sesuatu yang jarang disadari: kejutan metabolik. Puasa membuat sistem tubuh tenang dan stabil. Lambung kosong, kadar insulin rendah, dan energi diambil perlahan dari cadangan. Tubuh bekerja hemat, teratur, dan efisien. Tetapi, ketika azan berkumandang lalu yang pertama masuk adalah gula berbentuk cair maupun padat atau karbohidrat sederhana dalam jumlah besar, tubuh seperti dipaksa berlari setelah lama duduk diam.

Gula darah melonjak cepat. Tubuh harus mengimbanginya dengan produksi insulin yang besar dalam waktu singkat. Jika ini terjadi sesekali, tubuh masih mampu menoleransinya. Namun, ketika pola itu berulang setiap hari sepanjang Ramadan, yang terjadi bukan adaptasi sehat, melainkan siklus naik-turun tajam: stabil saat puasa, lalu melonjak sesaat setelah berbuka.

Tanpa sadar, banyak orang menjadikan waktu berbuka sebagai pelampiasan. Rasa lapar yang menumpuk dilunasi sekaligus: minuman manis lebih dulu, lalu karbohidrat berlebihan, sementara serat dan protein tertinggal. Semua dimakan cepat karena dorongan naluri. Padahal, tubuh yang kosong tidak butuh kejutan; ia butuh penyesuaian.

Akibatnya terasa beberapa menit kemudian. Kantuk berat datang, badan lemas, kepala terasa berat. Ironisnya, momen yang diharapkan memulihkan tenaga justru diikuti rasa tak bertenaga. Puasa sering disalahkan, padahal penyebabnya bukan ibadahnya, melainkan cara mengakhirinya.

Jika berlangsung terus-menerus, lonjakan gula darah yang berulang tidak berhenti pada rasa mengantuk. Tubuh perlahan kehilangan sensitivitas terhadap insulin, lemak mudah menumpuk di perut, peradangan meningkat, dan risiko penyakit metabolik ikut naik. Energi menjadi tidak stabil (tinggi sebentar lalu turun tajam) membuat tubuh terasa cepat lelah sepanjang malam.

Padahal, solusinya tidak rumit. Tubuh hanya perlu diperlakukan secara bertahap. Air terlebih dahulu untuk menghidupkan kembali sistem yang kering. Sedikit gula alami untuk memberi sinyal energi. Lalu, makanan hangat dan bergizi sebelum karbohidrat utama. Ketika makanan masuk perlahan, gula darah naik perlahan, energi bertahan lebih lama, dan tubuh tidak perlu panik menyeimbangkan dirinya.

Di titik inilah makna puasa menjadi lebih dalam. Ia bukan hanya latihan menahan lapar, tetapi juga latihan mengendalikan respons. Saat berbuka dilakukan dengan sadar, tubuh terasa ringan, ibadah malam lebih fokus, dan stamina bertahan lebih panjang. Puasa berubah menjadi sarana pemulihan, bukan sekadar ritual harian.

Pada akhirnya, meja makan saat Magrib bukan hanya tempat memuaskan rasa lapar. Di sanalah kita menentukan apakah puasa menjadi sumber kesehatan atau justru jebakan yang kita buat sendiri.

Posting Komentar

0 Komentar