
Oleh: Abd Mukti
Pemerhati Kehidupan Beragama
Puasa Ramadan yang disyariatkan Allah atas orang-orang beriman itu bukan sekadar menahan diri untuk tidak makan dan minum sejak fajar sampai Maghrib, tetapi juga menahan lisan, pandangan, pendengaran, dan hati dari hal-hal yang dilarang, karena dapat merusak pahala puasa.
Tujuan akhir puasa Ramadan adalah takwa kepada Allah ﷻ (QS. Al-Baqarah: 183). Konsekuensinya, puasanya harus baik sesuai sunah Rasulullah ﷺ. Seorang shaimun harus benar-benar paham apa saja yang dapat merusak puasa Ramadan yang pahalanya cukup menggiurkan, yaitu diampuni dosa-dosa yang lalu, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ dalam hadis:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ulama berbeda pendapat: ada yang mengatakan dosa kecil, dan ada yang berpendapat dosa besar dan dosa kecil.
Mengapa penulis katakan menggiurkan? Karena syarat masuk surga itu harus bersih dari dosa. Jika seseorang masih berdosa karena dosanya belum diampuni Allah, ya, transit dulu di neraka sebagai hukuman sesuai dengan banyak-sedikitnya dosa. Ini bagi mukmin yang berdosa. Sementara itu, jika orang musyrik atau kafir sampai mati tidak bertobat, di neraka selamanya, kekal abadi. Na‘udzubillahi min dzalik.
Sudah seharusnya kita dalam berpuasa memahami syariatnya. Jangan sampai salah. Kalau salah, tidak akan dapat pahala dari Allah ﷻ.
Berdasarkan Ramadan-Ramadan yang lalu, ada beberapa kesalahan yang selalu berulang, seolah tak mau tahu bahwa perilakunya di bulan suci ini menodai ibadah shaum Ramadan. Antara lain kesalahannya:
1. Melakukan kemaksiatan
Sebagian orang yang berpuasa masih suka maksiat di bulan Ramadan: masih suka bohong, mengumpat, dan sangat suka melihat konten porno di ponsel. Padahal, ini jelas haram hukumnya, apalagi di bulan mulia ini.Maksiat adalah melanggar syariat. Walaupun puasanya sah, pahala puasanya rusak sehingga yang ia dapatkan hanya lapar dan haus. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ“Siapa yang berpuasa, namun tidak meninggalkan (perkataan) dusta dan perbuatan (dusta), maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari).Subhanallah, itu peringatan tegas dari Allah. Allah Ta‘ala tidak butuh kepada orang yang puasa tetapi masih pembohong, tidak jujur, dan melakukan kemaksiatan lain yang haram dilakukan oleh setiap muslim.
2. Berakhlak buruk
Disyariatkannya puasa Ramadan agar menjadi orang yang bertakwa. Untuk itu, seorang yang berpuasa jangan berakhlak buruk seperti cepat emosi, mudah tersinggung, usil teriak-teriak, galak terhadap keluarga, sering mengumpat orang lain, serta perilaku keras dan kasar lainnya.Maka, ini semua bertentangan dengan hikmah dilaksanakannya puasa. Sebagaimana hadis Rasulullah ﷺ:وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ“Puasa adalah perisai. Maka, pada hari salah seorang kalian berpuasa, janganlah ia bicara kotor dan jangan teriak-teriak (memancing keributan). Jika seseorang mencela atau memusuhinya, hendaknya ia mengatakan, ‘Aku sedang puasa’.” (HR. Al-Bukhari).
3. Bermalas-malasan di siang hari
Sebagian orang menjadikan Ramadan sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Padahal, bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah. Allah membuka pintu-pintu surga selebar-lebarnya, pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat, dan setan dibelenggu (HR. Al-Bukhari dan Muslim).Betapa ruginya orang yang hidup di bulan mulia ini, tetapi tidak semangat untuk beramal ibadah. Sudah seharusnya di bulan penuh berkah ini semangat salat berjemaah. Jangan gara-gara buka puasa, salat Maghrib tidak berjemaah. Tilawah dan tadarus Al-Qur’an pun harus intens; bahkan harus diupayakan “tadarus bilmakna” sehingga benar-benar memahami makna kandungan kitab suci Al-Qur’an.Sebagian orang juga menjadikan Ramadan sebagai kesempatan untuk tidur sepanjang hari, dengan berdalil menggunakan hadis:نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ“Tidurnya orang yang puasa adalah ibadah.” (HR. Al-Baihaqi).Padahal, hadis ini adalah hadis lemah (Al-Silsilah Al-Dha‘ifah, no. 4696) sehingga tidak bisa digunakan sebagai dalil. Maka, orang yang puasa seharusnya tetap produktif, baik untuk kemaslahatan dunia maupun akhirat.
4. Banyak makan dan minum
Sebagian orang yang berpuasa justru menjadikan Ramadan sebagai “bulan banyak makan”. Mengapa? Kalau di luar Ramadan, normal-normal saja makannya. Namun, masuk Ramadan banyak “mengoleksi makanan”, baik buatan sendiri maupun beli di “pasar beduk”, yakni pasar khusus menjelang Maghrib yang menyediakan kuliner menu Ramadan.Padahal jelas bahwa Allah ﷻ tidak menyukai sikap berlebih-lebihan (israf atau ghuluw) dalam segala hal, baik dalam makan, minum, berpakaian, maupun beribadah. Larangan ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, terutama Surat Al-A‘raf ayat 31: “…makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Sikap moderat (pertengahan) sangat dianjurkan untuk menghindari kesombongan, pemborosan, dan dampak buruk bagi diri sendiri.
5. Kendur beribadah di akhir Ramadan
Awal Ramadan, masjid penuh bahkan sampai tak muat jemaah salat Tarawih. Namun, menginjak pekan kedua sudah berkurang jemaahnya. Puncaknya, di sepuluh hari terakhir, banyak yang libur alias tidak salat Tarawih di masjid, mungkin di rumah atau di tempat belanja.Fenomena itu sudah dianggap biasa, padahal di malam terakhir Ramadan ada “Lailatulqadar”, malam kemuliaan. Beribadah di malam Lailatulqadar itu lebih baik dari seribu bulan lainnya yang tidak terdapat Lailatulqadar. Firman Allah:لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3).Nabi ﷺ bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ“Barang siapa mendirikan (ibadah pada) Lailatulqadar karena iman dan mengharapkan pahala (dari Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang lalu.”Kata قَامَ (“mendirikan”) pada hadis di atas dapat diwujudkan dalam bentuk salat, berzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya.
Pintu surga Ar-Rayyan menanti orang-orang yang berpuasa Ramadan dengan baik sesuai aturan syariat Islam. Untuk itu, yuk kita puasa Ramadan dengan baik.

0 Komentar