
Oleh: Nurhayati, S.H.
Penulis Lepas
Penulis Lepas
Sebuah video yang mencoreng dunia pendidikan mendadak viral di media sosial. Video tersebut merekam aksi sejumlah siswa yang terlihat mengejek hingga menunjukkan gestur acungan jari tengah yang dinilai melecehkan sosok yang seharusnya dihormati. Kejadian itu terjadi di SMAN 1 Purwakarta. Meski siswa tersebut sudah dikenai skorsing selama 19 hari, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai sanksi tersebut belum tentu menjadi solusi terbaik dalam membentuk karakter siswa. Ia mengusulkan bentuk hukuman yang lebih edukatif dan berdampak langsung pada perubahan perilaku (Detik, 18/04/2026).
Ibu guru Syamsiah, pengajar mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di SMA Negeri 1 Purwakarta yang diejek dalam video tersebut, memilih memaafkan siswa yang mengolok-oloknya. Syamsiah, atau yang akrab disapa Bu Atun, menegaskan tidak akan membawa kasus pelecehan etika ini ke ranah hukum (Kompas, 20/04/2026).
Bu Atun hanya satu dari sekian banyak guru yang mendapat perlakuan tidak sopan dari siswanya. Budaya Barat perlahan menggeser moral siswa, dari yang dahulu hormat kepada guru hingga kini guru dianggap seperti teman sebaya. Kasus pelecehan terhadap guru di Purwakarta menjadi cerminan krisis moral akibat sistem pendidikan sekuler liberal yang mengabaikan adab kepada guru. Sikap tidak sopan kepada guru seolah dianggap sebagai hal keren dan lucu yang layak dijadikan konsumsi publik, diunggah ke media sosial, lalu dibanggakan ketika viral.
Dari kasus Bu Atun, kita patut waspada bahwa ketika kenakalan remaja diunggah secara sadar ke media sosial, hal itu menandakan bahwa pelecehan terhadap guru mulai dianggap biasa di lingkungan sekolah. Siswa kehilangan rasa hormat dan tidak lagi memiliki sopan santun terhadap guru dalam kesehariannya. Membuat konten yang viral dan dianggap keren seolah lebih penting daripada menjaga marwah serta martabat guru. Fenomena ini membuktikan lemahnya wibawa guru dan munculnya keberanian yang tidak pantas pada diri siswa.
Sistem pendidikan sekuler mencetak sekolah yang lemah. Guru menjadi tidak berdaya di hadapan siswa yang berbuat salah karena takut dipidana ketika mendisiplinkan muridnya. Padahal, semboyan Kurikulum Merdeka adalah menciptakan profil pelajar Pancasila. Namun, kasus Bu Atun menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan. Program-program dalam kurikulum pendidikan terkesan hanya menjadi formalitas, sebatas administratif di atas kertas, tetapi nihil perubahan dan perbaikan nyata.
Berbeda dengan pengaturan Islam, kurikulum pendidikan dibangun berlandaskan akidah Islam. Guru diposisikan sebagai sosok mulia yang mendapatkan penghargaan tinggi dan penghidupan layak dari negara sehingga wibawa guru terjaga di mata murid dan masyarakat. Pendidikan Islam tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter melalui pengajaran adab dan akhlak. Dengan demikian, keluaran dari pendidikan adalah lahirnya generasi cendekiawan yang berakhlak mulia, beriman, dan bertakwa kepada Allah ď·». Alhasil, kurikulum ini akan mencetak generasi berkepribadian Islam, yaitu generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap sesuai dengan syariat.
Pendidikan Islam harus didukung oleh negara yang menerapkan sistem Islam. Dengan dukungan negara, konten digital yang dapat merusak moral, seperti tayangan yang mencontohkan pembangkangan, pelecehan, atau kekerasan, akan disaring dan dilarang penayangannya. Negara akan melakukan berbagai upaya untuk mencegah faktor-faktor yang dapat merusak masa depan generasi, sekaligus menstimulasi pemuda agar tetap berada dalam suasana iman dan takwa.
Adapun jika terjadi pelecehan atau kekerasan terhadap guru maupun siswa, Islam memiliki seperangkat sistem sanksi yang berfungsi sebagai penebus dosa bagi pelaku dan pencegah bagi orang lain agar tidak melakukan hal serupa. Sanksi tersebut akan memberikan efek jera yang nyata, tetapi tetap adil sesuai dengan syariat. Dengan demikian, pengaturan Islam mengondisikan pendidikan dalam suasana iman dan takwa yang kondusif bagi pelajar untuk menuntut ilmu. Dari sistem pendidikan tersebut, akan lahir generasi yang cemerlang.

0 Komentar