
Oleh: Abu Fatih
Penulis Lepas
Fenomena kampanye Go Vegan belakangan ini ramai menghiasi media sosial. Dalam berbagai potongan video, narasi yang sering muncul dengan penegasan "hewan adalah teman, bukan makanan" disampaikan dengan keyakinan yang tinggi, namun sering kali tanpa ruang untuk dialog yang sehat. Bukannya mengundang diskusi yang konstruktif, hal ini malah memicu gelombang ejekan, cemoohan, bahkan perundungan. Veganisme bukan lagi menjadi topik yang diperbincangkan dengan bijak, melainkan menjadi sasaran tertawaan.
Namun, fenomena ini menarik perhatian bukan hanya karena kebenaran atau kesalahan kampanye tersebut, melainkan karena ia menyentuh aspek yang sangat pribadi, yaitu makanan. Ketika kebiasaan makan seseorang digugat, yang terpengaruh bukan sekadar selera makan, melainkan juga identitas, tradisi, dan rasa aman biologis. Oleh karena itu, reaksi publik terhadap veganisme sering kali lebih emosional daripada rasional.
Namun, alih-alih menciptakan lingkungan saling hujat, ada baiknya menjawab pertanyaan mendasar yang perlu diajukan dengan kepala dingin: apa sebenarnya veganisme itu? Apakah pola makan ini sesuai dengan desain biologis manusia? Dan, bagaimana pandangan Islam mengenai fenomena ini?
Veganisme Bukan Tren Baru, Tapi Produk Sejarah dan Kelimpahan
Veganisme bukanlah fenomena yang tiba-tiba muncul akibat algoritma media sosial. Pemikiran vegetarian, yang berakar pada prinsip ahimsa (non-kekerasan) dalam tradisi Hindu, Jainisme, dan Buddhisme, telah ada sejak ribuan tahun lalu. Di Yunani kuno, bahkan filosofi Pythagoras juga mencatatkan keyakinan tentang hubungan erat antara jiwa manusia dan hewan.
Namun, praktik veganisme ini dulu lebih bersifat spiritual dan terbatas pada komunitas-komunitas tertentu. Veganisme modern baru benar-benar mengkristal pada abad ke-20, ketika istilah "vegan" diperkenalkan oleh The Vegan Society di Inggris pada tahun 1944. Sejak saat itu, veganisme berkembang menjadi lebih dari sekadar pantang daging. Ia menjadi gaya hidup etis yang menolak segala bentuk eksploitasi hewan, termasuk produk-produk turunan seperti susu, telur, dan madu.
Penting untuk dicatat bahwa veganisme modern muncul di dunia yang berkelimpahan, di mana teknologi pangan, ilmu gizi, rantai pasokan global, serta suplemen memungkinkan manusia bertahan hidup tanpa mengandalkan sumber makanan hewani. Tanpa semua itu, veganisme dalam skala besar mungkin tidak akan berkembang.
Tubuh Manusia: Omnivora yang Adaptif
Salah satu klaim yang sering dilontarkan oleh kampanye vegan adalah bahwa manusia "seharusnya" tidak makan daging karena tidak memiliki gigi taring yang tajam dan memiliki usus yang lebih panjang. Klaim ini terdengar ilmiah, namun terlalu menyederhanakan realitas biologis.
Faktanya, tubuh manusia memiliki gigi seri, taring kecil, dan geraham lebar, ciri khas dari makhluk omnivora. Usus manusia memang lebih panjang dibandingkan dengan karnivora, namun jauh lebih pendek dan lebih sederhana dibandingkan dengan herbivora sejati yang memiliki rumen atau sistem fermentasi khusus untuk mencerna selulosa mentah. Manusia tidak dapat mencerna selulosa mentah secara efisien tanpa proses pengolahan. (Byjus)
Semua ini menunjukkan bahwa tubuh manusia dirancang untuk pola makan yang fleksibel, bukan pola makan khusus. Dalam sejarahnya, manusia bertahan bukan dengan memilih satu jenis makanan saja, melainkan dengan kemampuan beradaptasi terhadap berbagai jenis makanan yang ada. Oleh karena itu, mengklaim bahwa manusia "seharusnya" vegan berarti mengabaikan sejarah biologis kita.
Nutrisi, Suplemen, dan Fakta yang Tak Bisa Ditawar
Veganisme modern dapat dijalani, namun dengan satu syarat penting: intervensi teknologi. Beberapa nutrisi penting, seperti vitamin B12, DHA, EPA, zat besi heme, zink, taurin, dan kreatin, sangat sulit atau hampir mustahil diperoleh secara alami dari pola makan vegan tanpa suplemen tambahan. (Healthline, 09/06/2021)
Vitamin B12, misalnya, tidak dapat diproduksi oleh tumbuhan. Kekurangannya dapat menyebabkan anemia, gangguan saraf, dan kerusakan kognitif permanen. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendalam: jika suatu pola hidup hanya dapat bertahan dengan bantuan pil dan suplemen dari industri farmasi, maka persoalannya bukan lagi pada moralitas, melainkan pada desain biologis manusia itu sendiri.
Ini tidak berarti bahwa veganisme mustahil dilakukan, tetapi jelas bahwa pola makan ini bukanlah kondisi default manusia.
Konteks Indonesia: Stunting dan Realitas Sosial
Di Indonesia, masalah ini menjadi lebih kompleks. Stunting masih merupakan masalah struktural yang serius, terutama akibat terbatasnya akses pangan bergizi, pendidikan nutrisi, dan layanan kesehatan. Dalam konteks ini, menerapkan veganisme secara ketat (terutama pada anak-anak) tanpa pengetahuan dan sumber daya yang memadai dapat memperburuk masalah kekurangan gizi.
Secara teori, pola makan vegan dapat dirancang untuk seimbang. Namun dalam praktiknya, hal tersebut memerlukan akses, pendidikan, dan stabilitas yang tidak dimiliki oleh banyak lapisan masyarakat. Anak-anak yang sedang tumbuh membutuhkan protein berkualitas tinggi, zat besi yang mudah diserap, dan lemak esensial untuk perkembangan otak. Tubuh manusia tidak mempedulikan niat baik; tubuh hanya merespons apa yang benar-benar masuk dan dapat diserap.
Pandangan Islam: Jalan Tengah antara Etika dan Fitrah
Dalam pandangan Islam, manusia dipandang sebagai khalifah di bumi, yang harus menjaga keseimbangan antara alam dan kehidupan makhluk hidup lainnya. Islam mengajarkan agar hewan diperlakukan dengan ihsan (kebaikan), tidak disiksa, tidak dizalimi, dan disembelih dengan cara yang baik. Namun, Islam juga tidak mengharamkan konsumsi hewan, sepanjang tidak melanggar prinsip-prinsip syariat Islam.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Mulk ayat 15:
هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًا فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ ۖ وَإِلَيْهِ ٱلنُّشُورُ
"Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan."
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia diperbolehkan untuk memanfaatkan alam, termasuk hewan, selama dilakukan dengan bijaksana, tidak berlebihan dan sesuai dengan syariat. Islam tidak menjadikan konsumsi daging sebagai keharusan, tetapi juga tidak menjadikannya sebagai dosa. Yang diharamkan adalah kezaliman, bukan konsumsi itu sendiri.
Islam juga menolak ekstremitas. Prinsip wasathiyah (jalan tengah) mengajarkan keseimbangan antara etika, kebutuhan tubuh, dan realitas sosial. Menjadikan pilihan personal sebagai kebenaran tunggal yang menghakimi orang lain bertentangan dengan spirit Islam yang rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi seluruh alam.
Penutup: Pilihan Pribadi, Bukan Vonis Moral
Veganisme, pada akhirnya, adalah pilihan hidup yang sah, bukan hukum yang berlaku untuk semua. Pilihan ini merupakan keputusan pribadi, yang seharusnya dihormati, tetapi menjadi problematik jika dipaksakan sebagai satu-satunya kebenaran biologis dan moral. Demikian juga, mengejek atau merundung para vegan bukanlah sikap yang dewasa.
Islam mengajarkan untuk menghormati perbedaan. Biarkan mereka yang memilih untuk menjalani veganisme hidup sesuai keyakinannya, dan biarkan pula mereka yang memilih pola makan lain hidup tanpa stigma. Selama pilihan tersebut tidak memaksakan diri, tidak membahayakan, dan tidak menghapus fitrah manusia, dialog akan tetap sehat.
Sebagai penutup, tujuan hidup tidaklah semata-mata terletak pada apa yang kita makan, meskipun dalam Islam makan juga ada aturannya, tetapi tujuan hidup kita adalah bagaimana kita menjalani hidup sesuai dengan fitrah penciptaan, yaitu untuk beribadah pada Allah.

0 Komentar