NASIB KORBAN BENCANA ACEH DI TENGAH RAMADAN


Oleh: Ummu Zaid
Penulis Lepas

Menjelang Ramadan, ribuan warga Aceh masih tinggal di pengungsian, karena rumah mereka sudah hanyut atau rusak parah diterjang banjir. Sementara itu, mereka sangat membutuhkan tempat tinggal agar bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan khusyuk. Di sisi lain, pemerintah menjanjikan huntara (hunian rumah sementara) untuk menampung warga korban banjir dan tanah longsor, tetapi kenyataannya masih belum selesai, sehingga impian untuk tinggal tertunda.

Selain itu, mereka juga menghadapi kesedihan dengan adanya pemadaman listrik yang belum menyala di beberapa kabupaten. Akhirnya, warga hanya bisa menggantungkan diri pada bantuan masyarakat karena mereka belum bisa bekerja lagi. Bantuan dari pemerintah dianggap lambat. Belum lagi, ketahanan pangan korban bencana sangat rapuh. Kehidupan warga korban bencana hanya bergantung pada bantuan saja.

Ditambah, sinyal telekomunikasi juga belum pulih, sedangkan air bersih langka dan tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Rakyat Aceh Tamiang sangat berharap bantuan dari pemerintah pusat untuk keperluan menyambut bulan suci Ramadan.

Sungguh pilu kondisi korban bencana. Terlihat bahwa negara sangat abai terhadap nasib korban bencana Sumatra, terutama Aceh, pada bulan Ramadan ini. Pemerintah mengklaim sudah melakukan berbagai kebijakan untuk rekonstruksi pascabencana, tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat tidak mendapatkan riayah yang memadai. Negara tidak menjalankan tugasnya sebagai pengurus dan pelayan rakyat, sehingga kondisi wilayah bencana tidak kunjung pulih. Model kepemimpinan kapitalistik menjadikan kebijakan bersifat pencitraan, bukan solutif.

Ini berbeda dengan sistem Islam. Negara khilafah sangat memperhatikan ibadah warga, sehingga Ramadan akan disuasanakan secara serius agar rakyat bisa optimal beribadah. Negara khilafah menaruh perhatian khusus pada wilayah bencana. Kebijakan anggaran dan sumber daya manusia dikerahkan untuk segera merekonstruksinya. Visi pelayan dan pengurus rakyat pada khilafah menjadikan kebijakan dan pengelolaan anggaran untuk wilayah bencana bersifat efektif dan solutif, bukan untuk pencitraan.

Negara tidak membatasi anggaran untuk rekonstruksi bencana. Selalu ada dana untuk bencana, baik dari pos pemasukan yang bersifat tetap maupun pajak. Khilafah akan mengusahakan dan menjamin keberlangsungan kehidupan korban bencana dengan baik karena ini adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah ï·».

Rasulullah ï·º bersabda:

ÙƒُÙ„ُّÙƒُÙ…ْ رَاعٍ ÙˆَÙƒُÙ„ُّÙƒُÙ…ْ Ù…َسْئُولٌ عَÙ†ْ رَعِÙŠَّتِÙ‡ِ
"Kalian semua adalah pemimpin, dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Seharusnya, dengan kepemimpinan Islam dan penerapan sistem Islam, maka Ramadan akan menjadi momentum kebahagiaan bagi umat Islam, terkhusus bagi korban bencana yang juga akan merasakan kebahagiaan, karena khilafah dalam kebijakannya akan mengurusi rakyat dengan keadilan. Saatnya umat Islam bersegera menuju ampunan Allah ï·» dengan menerapkan Islam Kaffah dalam bernegara. Raih keberkahan Ramadan dengan ketakwaan, yaitu penerapan Islam Kaffah.

Posting Komentar

0 Komentar