PUNGGAHAN DAN MAKNA PERSIAPAN RAMADHAN YANG SESUNGGUHNYA


Oleh: Sulis Setiawati, S.Pd.
Penulis Lepas

Menjelang datangnya Ramadhan, kaum Muslimin sering terdorong untuk mempererat kebersamaan. Di sebagian masyarakat, hal ini tampak dalam tradisi punggahan, yaitu makan bersama dan bersilaturahmi sebagai ungkapan syukur menyambut bulan suci. Tradisi ini tumbuh dari budaya lokal dan pada dasarnya dapat dipandang sebagai bagian dari muamalah sosial yang mubah selama tidak bertentangan dengan syariat.

Islam memberi ruang bagi adat kebiasaan selama tidak diyakini sebagai ritual ibadah khusus dan tidak mengandung unsur yang dilarang. Ketika punggahan dimaknai sebagai sarana silaturahmi, berbagi rezeki, dan saling menguatkan ukhuwah, nilainya sejalan dengan ajaran Rasulullah ï·º yang mendorong umatnya untuk menyambung persaudaraan dan memberi makan.

Namun, Islam juga mengajarkan kita untuk menjalani agama secara kaffah atau menyeluruh. Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah" dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 208. Semangat Islam kaffah mengingatkan bahwa menyambut Ramadhan bukan hanya melalui kebersamaan sosial, tetapi juga melalui persiapan ibadah yang lebih dalam. Bulan Sya'ban adalah waktu latihan ruhani. Aisyah radhiyallahu anha menuturkan bahwa Rasulullah ï·º paling banyak berpuasa sunnah pada bulan Sya'ban, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Selain puasa, Sya'ban juga menjadi momentum untuk membersihkan hati dari permusuhan. Rasulullah ï·º bersabda bahwa Allah memberi ampunan kepada hamba-hamba-Nya kecuali kepada orang yang menyekutukan-Nya dan orang yang menyimpan permusuhan, dalam hadis riwayat Ibnu Majah. Pesan ini mengajarkan pentingnya saling memaafkan dan memperbaiki hubungan sebelum memasuki Ramadhan.

Dalam kerangka Islam kaffah, tradisi kebersamaan dapat diarahkan agar semakin dekat dengan nilai ibadah. Makan bersama bisa dipadukan dengan ifthor jama'i saat menjalankan puasa sunnah Sya'ban sekaligus menjadi kesempatan untuk saling bermaafan. Dengan demikian, kebersamaan tidak hanya menjadi kegiatan sosial, tetapi juga bagian dari latihan spiritual.

Pada akhirnya, menyambut Ramadhan berarti menyiapkan diri secara utuh dengan menjaga tradisi yang baik sekaligus menguatkan persiapan iman. Ketika budaya, ibadah, dan akhlak ditempatkan secara seimbang, Sya'ban menjadi jembatan yang mengantarkan seorang Muslim memasuki Ramadhan dengan hati yang lebih bersih dan ketakwaan yang lebih matang.

Posting Komentar

0 Komentar