
Oleh: Abu Ghazi
Pengamat Kebijakan Publik
Skandal Jeffrey Epstein bukan sekadar cerita kriminal tentang seorang miliarder bejat. Ia adalah jendela besar yang terbuka, memperlihatkan wajah asli peradaban Barat modern: gemerlap di permukaan, busuk di dalamanya. Di balik jargon demokrasi, hak asasi manusia, dan kebebasan individu, tersingkap jaringan gelap yang melibatkan elit global (politisi, pengusaha, akademisi, selebritas) yang selama bertahun-tahun nyaris kebal hukum.
Kasus ini memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin perdagangan manusia, eksploitasi seksual anak, dan praktik kejahatan terorganisasi bisa berlangsung lama di negara yang mengklaim diri sebagai penegak hukum dan moral dunia? Jawabannya tidak berhenti pada kelicikan individu seperti Epstein. Masalahnya jauh lebih sistemik.
Hukum yang Tumpul ke Atas
Amerika Serikat dikenal memiliki regulasi ketat terkait kejahatan seksual, khususnya terhadap anak. Namun, dalam kasus Epstein, hukum seolah kehilangan taringnya. Proses hukum berliku, penanganan yang lamban, kematian Epstein yang penuh tanda tanya, serta “Epstein Files” yang hanya dibuka sebagian menegaskan satu kenyataan pahit: hukum bisa dilunakkan ketika berhadapan dengan kekuasaan dan uang.
Fenomena ini menguatkan pepatah klasik yang relevan lintas zaman: hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Nama-nama besar yang disebut-sebut dalam dokumen (dari politisi hingga oligarki) seakan berjalan di wilayah abu-abu, dilindungi oleh sistem yang mereka bangun sendiri dan mereka kuasai.
Sekularisme dan Krisis Makna Hidup
Lebih dalam daripada sekadar skandal hukum, Epstein affair memperlihatkan krisis makna hidup dalam peradaban sekuler. Ketika agama dipinggirkan dari ruang publik dan tidak lagi menjadi kompas moral, manusia kehilangan orientasi tentang tujuan hidup dan batas perilaku.
Dalam sistem sekuler-liberal, standar benar dan salah bukan ditentukan oleh wahyu, melainkan oleh selera, kepentingan, dan hasrat. Selama tidak mengganggu stabilitas sistem, hampir semua hal bisa ditoleransi. Dari sinilah hedonisme tumbuh subur: pencarian kenikmatan tanpa batas, bahkan ketika hal itu harus mengorbankan martabat manusia lain.
Ketika seseorang sudah punya kekuasaan, harta, dan berbagai fasilitas, muncul pertanyaan, “Lalu apa lagi?” Sayangnya, pertanyaan itu kadang dijawab dengan cara yang paling gelap: mengeksploitasi orang lain, mendominasi, dan memuaskan fantasi menyimpang. Anak-anak (yang paling lemah dan rentan) akhirnya menjadi korban paling mudah di target.
Hipokrisi Moral Barat
Ironisnya, peradaban yang melahirkan kasus semacam ini justru kerap memosisikan diri sebagai hakim moral dunia. Barat rajin menuding agama (khususnya Islam) sebagai sumber kekerasan, misogini, dan ketertinggalan. Namun, skandal Epstein menunjukkan kebalikan yang telanjang: perempuan dan anak diperlakukan sebagai komoditas, bahkan bukan lagi sekadar barang, melainkan alat pemuas nafsu elit.
Lebih ironis lagi, suara-suara yang biasanya lantang membela kebebasan dan hak perempuan justru nyaris sunyi. Feminisme arus utama yang vokal di ruang publik tampak kehilangan nyali ketika pelaku berasal dari lingkaran elit globalnya sendiri. Di sinilah kemunafikan sistemik itu tampak nyata.
Kapitalisme, Kekuasaan, dan Pemerasan
Banyak analisis menyebut bahwa jaringan Epstein tidak hanya berfungsi sebagai sarana pemuasan nafsu, tetapi juga sebagai alat pemerasan (blackmail). Fantasi seksual para elit direkam, disimpan, dan dijadikan senjata politik maupun ekonomi. Dalam logika kapitalisme ekstrem, bahkan aib dan dosa bisa dikapitalisasi.
Jika dugaan ini benar, maka skandal Epstein bukan anomali, melainkan produk logis dari sistem yang memandang segala sesuatu (termasuk tubuh manusia) sebagai aset dan komoditas. Inilah wajah asli kapitalisme ketika dilepaskan dari nilai moral transenden.
Islam dan Alternatif Peradaban
Bagi umat Islam, terbongkarnya skandal ini seharusnya menjadi cermin sekaligus peringatan. Cermin, karena ia menunjukkan betapa rapuhnya peradaban yang dibangun tanpa iman kepada akhirat. Peringatan, agar umat Islam tidak silau oleh kilauan Barat yang ternyata menyembunyikan kebusukan mendalam.
Islam menawarkan paradigma hidup yang berbeda. Tujuan hidup jelas: beribadah kepada Allah dan mempertanggungjawabkan setiap perbuatan. Kebebasan tidak berdiri liar, tetapi dibingkai oleh halal dan haram. Kekuasaan bukan alat pemuas nafsu, melainkan amanah yang kelak dihisab.
Sejarah membuktikan bahwa ketika Islam diterapkan secara menyeluruh, manusia (baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak) dijaga martabatnya. Bukan karena slogan, tetapi karena sistemnya berpijak pada akidah, hukum, dan akhlak yang terintegrasi.
Penutup
Skandal Epstein adalah alarm keras bagi dunia modern. Ia menyingkap kegagalan peradaban sekuler dalam menjaga moral, keadilan, dan kemanusiaan. Bagi umat Islam, ini bukan sekadar bahan kritik, tetapi momentum dakwah, menunjukkan bahwa dunia membutuhkan sistem yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga lurus secara moral.
Kapitalisme mungkin sedang retak, tetapi Islam tidak akan otomatis menang. Ia hanya akan bangkit jika diperjuangkan, disampaikan dengan hikmah, dan diwujudkan dalam kehidupan nyata. Dan justru di tengah gelapnya peradaban hari ini, cahaya Islam melalui penerapan syariahnya secara kaffah dalam bingkai Khilafah itu semakin relevan untuk diperjuangkan.

0 Komentar