
Oleh: Yosie Purwanti, S.E.
Aktivis Muslimah
Pemerintah kembali dihadapkan pada tingkah polah pelajar, salah satunya yang terjadi di Bengkulu. Beberapa siswi menyamar sebagai laki-laki agar bisa membolos sekolah. Tidak hanya membolos, bahkan mereka kedapatan tengah merokok bersama siswa laki-laki. (Kompas, 13/03/2026)
Fenomena razia kedisiplinan siswa memang tengah digalakkan oleh pemerintah Bengkulu. Pemerintah melalui Satpol PP tentunya mengharapkan perbaikan generasi muda. Namun, sangat disayangkan bahwa razia kedisiplinan oleh aparat tidak diimbangi dengan penanaman aqliyah dan nafsiyah Islam, sehingga razia hanya terkesan sebagai punishment atas kesalahan para siswa tanpa ada bimbingan dan arahan yang benar.
Aktivitas para siswi yang berpenampilan seperti laki-laki juga turut menjadi sorotan. Pasalnya, hal tersebut menandakan ketidakpahaman generasi muda akan hukum tasyabuh (berpenampilan seperti laki-laki).
Aktivitas tersebut tentunya dipengaruhi oleh pandangan sekuler liberal. Pandangan serba boleh ini menganggap bahwa laki-laki dan perempuan tidak memiliki batasan. Laki-laki boleh berdandan menyerupai wanita dan sebaliknya. Liberalisme menjadikan kebebasan sebagai puncak kebahagiaan. Mereka menganggap boleh melakukan apa pun tanpa aturan, paksaan, dan tidak merugikan orang lain.
Permasalahan tersebut bukan hanya sebatas siswa yang membolos, namun sudah berkaitan dengan ide asing yang tengah diemban oleh negeri ini. Sehingga, program razia siswa akan menjadi sia-sia jika tidak mengubah ide dasar yang diemban oleh negeri ini.
Dalam Islam, generasi merupakan ujung tombak suatu bangsa. Oleh karenanya, untuk memperbaiki generasi seharusnya didukung oleh tiga pilar utama, yakni keluarga, masyarakat, dan negara. Keluarga sebagai pilar awal tempat seorang anak bertumbuh, masyarakat sebagai pilar yang mengontrol, serta negara yang memberikan aturan dan sanksi untuk menjaga generasi.
Islam menanamkan akidah Islam sebagai pondasi awal berpikir bagi generasi. Sehingga, generasi akan memiliki pegangan dan arah pandang yang benar dalam mengarungi kehidupan serta tidak mudah terbawa arus pandangan Barat.
Islam juga menekankan pembentukan kepribadian Islam. Pendidikan tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat. Generasi dibentuk menjadi pribadi yang memiliki rasa malu, tanggung jawab, dan kehormatan diri. Islam juga memiliki aturan yang jelas terkait interaksi antara laki-laki dan perempuan sehingga larangan menyerupai lawan jenis, misalnya, bukan sekadar aturan simbolik, tetapi bagian dari penjagaan fitrah manusia.
Demikianlah cara Islam menjaga generasi. Islam dengan mekanismenya terbukti mampu membentuk generasi yang berkualitas sebagaimana generasi para salaf.
Wallahu a‘lam.

0 Komentar