DEMO ‘NO KINGS’ KIAN MENGGANAS, POTRET NYATA KERUNTUHAN AS


Oleh: Fathin Azizah
Penulis Lepas

Api demonstrasi yang semakin membara di seluruh penjuru Amerika Serikat (AS) menjadi cerminan muaknya publik atas berbagai kebijakan yang dicetuskan oleh Donald Trump. Lautan manusia menyesaki jalanan AS pada Sabtu, 28 Maret 2026, untuk turut serta dalam demonstrasi yang mengusung tema “No Kings”. (Kompas, 30/03/2026)

Unjuk rasa besar-besaran ini mengajukan berbagai tuntutan, di antaranya menolak militerisasi di berbagai kota besar hingga menghentikan perang dengan Iran yang menguras ekonomi AS di tengah inflasi dan lesunya perekonomian di Negeri Paman Sam tersebut. Unjuk rasa ini juga melayangkan tuntutan agar pemerintah tidak lengah dalam mengatasi inflasi di AS.

Atas dasar cita-cita untuk menguasai tatanan global, Trump menggiring AS menuju ambang keruntuhan dan kebangkrutan dari berbagai aspek, terutama ekonomi. Berbagai langkah militer yang diambil oleh AS tentu membutuhkan gelontoran dana yang sangat besar, sehingga mengantarkan negara tersebut pada lonjakan utang nasional yang berlipat ganda dan semakin menggunung.

Selain itu, langkah Trump untuk menjadi donatur setia Israel dalam berbagai aspek genosida atas Palestina juga turut menyulut api amarah masyarakat AS yang menyematkan julukan “Penjahat Kemanusiaan” kepada Trump dan antek-anteknya. Dunia mulai membuka mata untuk menentukan siapa yang layak dicap sebagai penjahat sesungguhnya.

Pada saat yang sama, para penguasa Muslim justru setia menjadi boneka AS dan menjadi kaki tangan negara tersebut dalam menancapkan taring di wilayah kaum Muslim. Alih-alih menyatukan cita-cita untuk membebaskan Palestina, para penguasa Muslim justru berjabat tangan mesra dengan AS dalam mendukung genosida Israel atas Palestina.

Terpuruknya dunia saat ini merupakan buah busuk dari bercokolnya sistem kapitalisme-sekularisme. Dunia semakin didera oleh hiruk-pikuk dan kesengsaraan tanpa ujung. Umat Islam harus mengecap nestapa dan berbagai kemerosotan dari berbagai lini kehidupan, bahkan dengan mudah diadu domba oleh AS demi menggapai ambisi negara tersebut.

Semua ini tidak akan terjadi dalam negara yang bernaung di bawah syariat Islam. Dalam Islam, negara selaku pemegang kekuasaan tertinggi wajib menanggung amanah besar, yakni ri'ayah syu'unil ummah (mengurusi urusan umat), sehingga negara akan memprioritaskan kepentingan masyarakat. Selain itu, negara akan mengerahkan bala bantuan untuk menebarkan kedamaian ke seluruh penjuru wilayah kaum Muslim, alih-alih menjadi bagian dari kaki tangan kafir penjajah.

Maka, harus ada penggencaran dalam menyadarkan dan mengedukasi umat Islam mengenai politik Islam dalam makna yang hakiki serta mengulurkan tangan untuk mengajak umat Islam menyatukan cita-cita dan kesadaran dalam upaya mewujudkan tegaknya sistem kepemimpinan Islam yang akan menebarkan kesejahteraan ke seluruh penjuru dunia.

Posting Komentar

0 Komentar