
Oleh: Ermawati
Aktivis Dakwah
Sungguh sangat disayangkan, janji kampanye yang dulu pernah diucapkan untuk mengembalikan negara pada swasembada hanyalah janji manis kampanye yang tidak pernah terwujud. Negara justru telah menjalin kerja sama dengan AS untuk impor beras, sementara nasib malang petani hanya tinggal mimpi.
Indonesia bakal mengimpor 1.000 ton beras dari Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari perjanjian dagang resiprokal. Jenis beras yang akan diimpor merupakan beras dengan klasifikasi khusus. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menyayangkan adanya perjanjian tersebut. Menurutnya, rencana impor 1.000 ton beras dari AS bisa mengganggu program swasembada beras Indonesia yang selama ini digaungkan pemerintah.
“Klaim swasembada beras ke depan bakal menimbulkan pertanyaan. Kalau sampai diratifikasi, pemerintah berarti mengingkari upaya swasembada pangan,” kata Bhima dalam keterangannya, Rabu, di Jakarta (Detik, 25/02/2026).
Lagi-lagi kebijakan negara tidak berpihak kepada rakyat. Negara seolah tak mengerti nasib para petani. Janji yang dulu pernah diucapkan tidak pernah terealisasi. Justru sebaliknya, keadaan ini membuat negara seakan tak punya kedaulatan atas negerinya sendiri. Kesepakatan perjanjian dagang dengan AS semakin membuktikan bahwa negara seakan tidak percaya pada kemampuan negerinya sendiri untuk kembali menjadi swasembada pangan. Padahal, hal itu bisa diwujudkan asalkan harga bibit dan pupuk murah, berkualitas, serta mudah didapatkan oleh rakyat.
Yang membuat pertanian terpuruk adalah karena bahan-bahan yang dibutuhkan oleh petani mahal, berkualitas rendah, dan sangat sulit didapatkan. Jika saja negara fokus membangun kembali swasembada dengan memberikan dana, bibit, pupuk, dan kebutuhan lain yang diperlukan untuk mendukung pertanian agar bangkit, tentu hasilnya akan berbeda. Berbagai cara dan tenaga seharusnya sudah dilakukan negara untuk para petani agar janji kampanye tidak hanya sekadar menjadi kata-kata manis, tetapi benar-benar dapat terealisasi dan terwujud.
Namun, sayangnya semua itu hanya kata-kata di depan media. Nyatanya, hal tersebut tidak benar-benar dilakukan negara. Agar janji itu tidak hanya menjadi ucapan, tetapi bisa terealisasi dan terwujud, negara seharusnya tidak menambah beban dan luka rakyat dengan menyetujui perjanjian kerja sama dengan AS. Walaupun beras yang diimpor adalah beras berklasifikasi khusus, tetap saja hal itu akan membuat para petani terpuruk karena dapat mengurangi penyerapan beras dalam negeri dan juga bisa merusak harga pasaran.
Apalagi beras yang diimpor jumlahnya cukup besar, yakni 1.000 ton, sehingga menuai berbagai kritik. Walaupun impor beras yang disebut negara masih jauh dari hasil pertanian dalam negeri, tetap saja negara seharusnya berpihak kepada rakyat. Negara juga harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, apalagi dalam menjalin kerja sama dengan negara kapitalis. Jangan sampai negara kita justru hanya dijadikan alat untuk mendapatkan keuntungan besar sekaligus menjadi sasaran pengambilan kekayaan sumber daya alam.
Jangan sampai negara tertipu oleh sikap kapitalis yang awalnya hanya ingin bekerja sama, tetapi akhirnya menjajah. Sudah banyak buktinya negara-negara Muslim yang kekayaannya diambil bahkan sampai dijajah, padahal maksud dan tujuan awalnya hanya kesepakatan kerja. Jangan sampai sikap abai negara terhadap rakyat dan kepatuhannya kepada negara asing justru membahayakan negeri ini dari ancaman kapitalis dan serangan penjajahan.
Bahkan, negara kita seolah sudah tidak memiliki kedaulatan karena hampir berbagai sektor perusahaan dimiliki asing. Jangan sampai negara tertipu dan kehilangan kedaulatan. Sistem kapitalis adalah sistem kufur yang digunakan Amerika, yaitu sistem buatan manusia yang sombong dan angkuh. Kaum Muslim tidak seharusnya mengikuti kaum kafir. Amerika justru dipandang sebagai negara yang harus diperangi karena mendukung penjajahan dan genosida atas Palestina.
Allah ï·» telah menegaskan:
ÙˆَتَعَاوَÙ†ُوا عَÙ„َÙ‰ الْبِرِّ ÙˆَالتَّÙ‚ْÙˆَÙ‰ٰ ÙˆَÙ„َا تَعَاوَÙ†ُوا عَÙ„َÙ‰ الْØ¥ِØ«ْÙ…ِ ÙˆَالْعُدْÙˆَانِ
“Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa. Jangan kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah [5]: 2)
Memiliki pemimpin yang pintar dan kuat saja tidak cukup jika tidak menjalankan syariat Islam dalam kehidupannya. Sumber kekayaan alam yang melimpah ruah telah Allah sediakan. Namun, tanpa pemimpin yang taat kepada hukum Allah, semua menjadi sia-sia karena kekayaan itu akan habis akibat sifat pemimpin yang tamak dan rakus serta tidak amanah. Keadaan suatu negara akan kacau balau bila pemimpinnya saja tidak taat pada aturan Allah.
Maka, persatuan umat sangat penting demi terwujudnya kehidupan yang layak. Menegakkan dan mengembalikan kehidupan Islam yang telah lama hilang dengan menjalankan kembali syariat Islam dalam kehidupan membutuhkan kesadaran yang mendasar. Betapa pentingnya menegakkan hukum Allah dan menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya sandaran hidup, karena hanya dengan Al-Qur’an umat kembali mendapatkan kemuliaan hidup serta hidup di bawah naungan khilafah Islamiyah.
Allahu a‘lam bi ash-shawab.

0 Komentar