
Oleh: Walidun Tahrir
Penulis Lepas
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat terbesar dalam kehidupan ini: nikmat iman dan Islam. Tiada nikmat yang lebih patut kita syukuri dibanding dua hal ini. Sebab dengan iman, kita tahu arah hidup. Dengan Islam, kita punya panduan menjalaninya.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad ﷺ, sang pembawa risalah yang menjadi sebab kita mengenal iman dan Islam. Dialah yang menyampaikan cahaya kebenaran ke tengah-tengah kita, meski harus berhadapan dengan berbagai ancaman dan tantangan.
Khitab yang Juga untuk Kita
Dalam Al-Qur'an surah Al-Maidah ayat 67, Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗوَاِنْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَتَهٗ ۗوَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ
"Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika engkau tidak melakukannya, berarti engkau tidak menyampaikan amanah-Nya. Dan Allah akan memeliharamu dari gangguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir."
Ayat ini turun di tengah situasi genting. Orang-orang Yahudi dan Nasrani saat itu tidak hanya menolak risalah Nabi, tapi juga berusaha mencelakakan beliau. Ancaman nyata membayangi dakwah Islam. Namun Allah turun tangan memberi jaminan langsung kepada Rasul-Nya.
Para ulama menjelaskan kaidah penting: al-'ibratu bi 'umumil lafzh la bi khususis sabab, ibrah itu diambil dari keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab. Meskipun ayat ini turun terkait ancaman Yahudi dan Nasrani di masa Nabi, tapi pesannya berlaku untuk semua bentuk ancaman dari siapa pun, di masa apa pun.
Dan meskipun seruan ini ditujukan kepada Nabi, berlaku pula kaidah: khitabun li an-nabi khitabun li ummatihi, seruan kepada Nabi juga seruan kepada umatnya. Maka kita pun mendapat pesan yang sama: sampaikan risalah Islam apa adanya, jangan takut ancaman, dan Allah akan menjaga.
Tiga Pelajaran Berharga
Pertama, keberanian menyampaikan kebenaran. Dakwah Islam tidak boleh dikurangi, ditutup-tutupi, apalagi dikhianati hanya karena khawatir ancaman. Lihatlah para tukang sihir di masa Nabi Musa. Begitu melihat mukjizat kenabian, mereka langsung beriman meski Firaun mengancam akan menyalib mereka. Mereka berkata, "Silakan! Engkau hanya bisa menghukum kami di dunia. Tapi kami telah selamat untuk akhirat." Itulah kekuatan iman yang tak tergoyahkan.
Kedua, Allah "pasang badan" untuk para dai. Allah sendiri yang menjamin keselamatan Nabi-Nya dari kejahatan manusia. Ancaman nyata seperti penjara, pembunuhan, atau bujuk rayu memang datangnya dari manusia. Tapi Allah berfirman, "wallahu ya'shimuka minan nas" Allah akan memeliharamu. Jaminan ini juga untuk kita yang istiqamah di jalan dakwah.
Ketiga, jangan terpaku pada hasil. Kadang kita lemah semangat karena dakwah sepi peminat. Kita ceramahi bolak-balik, tapi tak kunjung ada yang berubah. Allah mengingatkan: hidayah itu urusan Kami, bukan urusanmu. "Innallaha la yahdil qaumal kafirin" Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. Tugas kita hanya menyampaikan. Hasil sepenuhnya di tangan Allah.
Kemenangan Hakiki Umat Islam
Perlindungan dan keamanan sejati hanya dari Allah. Bukan dari jumlah pendukung, kekuatan senjata, atau gemerlap finansial. Kemenangan umat Islam lahir dari ketaatan. Sebab ketaatan mendatangkan pertolongan Allah. Dan pertolongan Allah itulah kemenangan.
Allah ﷻ berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)
Tapi jangan keliru memahami kemenangan. Kemenangan bukan sekadar menjadi anggota dewan, menteri, apalagi presiden. Kemenangan hakiki adalah tegaknya hukum Allah di muka bumi. Ketika kedaulatan hanya milik syariat Allah. Ketika yang berhak memerintah dan melarang manusia adalah aturan dari Sang Pencipta.
Itulah yang pernah tegak di masa Nabi ﷺ, dilanjutkan para khulafaur rasyidin, lalu kekhilafahan Bani Umayyah, Abbasiyah, hingga Utsmaniyah. Saat itu Islam benar-benar tampil sebagai rahmatan lil 'alamin.
Umar bin Khattab pernah berpidato saat Madinah diguncang gempa. Beliau tidak bertanya tentang kerugian material. Tapi dengan tegas beliau bersabda, "Wahai kaum muslimin, maksiat apa yang telah kalian lakukan hingga bumi ini murka kepada kalian?"
Subhanallah. Kita rindu pemimpin sekaliber Umar. Tapi pemimpin seperti itu tak mungkin lahir dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.
Dakwah dan Keberanian
Kita kadang dihantui rasa takut yang tak beralasan. Takut dibilang radikal. Takut dicap intoleran. Takut dianggap teroris. Padahal Islam justru datang membawa kedamaian ke seluruh bumi.
Bayangkan ketika kekhilafahan tegak, bagaimana bumi diatur dengan keadilan. Bagaimana non-Muslim (ahlul dzimmah) hidup tenang dalam lindungan negara. Bandingkan dengan hari ini. Banjir di mana-mana, bumi murka. Itu karena kita tak lagi mengelola alam sesuai syariat. Hutan diserahkan ke korporasi asing yang hanya pikirkan cuan. Mereka babat hutan tanpa peduli kemaslahatan rakyat.
Nabi ﷺ bersabda yang diriwayatkan Ibnu Majah nomor 2463:
الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ وَثَمَنُهُ حَرَامٌ
"Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: air, rumput dan api. Dan harganya adalah haram." Hutan termasuk kategori al-milkiyyatul 'ammah, milik publik yang pengelolaannya menjadi kewenangan negara untuk kemaslahatan rakyat. Bukan dikuasai oligarki. Bukan untuk perusahaan yang hanya mengejar untung.
Optimisme Kembalinya Kejayaan Islam
Dengan jaminan Allah, kita tak perlu takut menyuarakan kebenaran. Kita tak perlu gentar menyatakan bahwa umat Islam wajib menegakkan Islam dengan sistemnya yang utuh: sistem khilafah. Bukan karena fanatisme buta, tapi karena ini perintah agama dan jalan mewujudkan rahmat bagi semesta.
Mari kita kuatkan keyakinan bahwa kejayaan Islam akan kembali. Tegaknya hukum Allah di muka bumi bukan mimpi. Itu janji Allah. Dan janji Allah pasti terwujud.
Wallahu A'lam Bishawab.

0 Komentar