KETENANGAN HATI DI TENGAH LAPAR DAN HAUS RAMADAN


Oleh: Aina
Penulis Lepas

みなさん、こんにちは!
(Minasan, konnichiwa!)

Hai, semuanya! Jadi, kita sekarang akan membahas tema tentang tenang dengan judul yang pasti kalian sudah tahu, kan, sob? Soalnya terpampang jelas di atas, ya kan? Oh ya, sob, sebelum itu kalian tahu tidak apa itu tenang? Ada orang bilang tenang itu "keadaan ketika hati dan pikiran terasa damai, tidak gelisah, tidak marah, dan tidak banyak tekanan."

Yap, itu benar, tetapi kurang tepat. Oke, jadi tenang adalah keadaan hati dan pikiran yang tidak gelisah, tidak panik, dan tidak tergesa-gesa, sehingga seseorang mampu berpikir jernih dan bertindak dengan sabar. Jadi, sob, secara lebih dalam, tenang bukan berarti tidak punya masalah, tetapi mampu mengendalikan diri saat menghadapi masalah, ya.

Dalam Islam, ketenangan sering disebut dengan istilah sakinah, yaitu ketenangan hati yang Allah berikan kepada hamba-Nya.

Oke, sebelum aku jelasin panjang lebar, aku mau tanya lagi nih, kalian pernah mengalami ini tidak ketika puasa?
  • Pertama, baru saja pagi sudah lihat jam menanti buka.
  • Kedua, kemudian pas siangnya mulai menghibur diri melihat medsos, eee... yang ditonton malah yang mukbang-mukbang.
  • Ketiga, terus pas sore sudah borong takjil sambil menunggu buka, hitung mundur kayak mau ada penerbangan roket.

Hayo, siapa? Hayo, angkat tangan yang merasa, tetapi dalam hati, hihi.

Tetapi itu manusiawi. Lapar dan haus itu nyata. Tetapi, kalian pernah kepikiran tidak, "Kenapa ada orang yang puasa tetapi tetap tenang menjalankan aktivitas seperti biasa, bisa dibilang fine-fine saja, tetapi ada juga yang gampang emosian?"

Oke, sini-sini, duduk manis, tetap fokus. Jadi, sob, kalian tahu tidak? Ketika hati kita tenang, jiwa akan damai. Atau bahasa Jepangnya bisa dibilang "私の心は穏やかで、私の魂は平和です。" (Watashi no kokoro wa odayaka de, watashi no tamashii wa heiwa desu.) Yang artinya: hatiku tenang dan jiwaku damai. Nah, oleh karena itu, ada orang yang bisa tetap fine di tengah puasa, padahal dia awalnya cuma senang doang. Dan kalian tahu tidak, ternyata ketenangan bisa menambah ketakwaan kita kepada Allah, loh.

Allah berfirman di Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Artinya, puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi yang paling penting adalah melatih diri agar bertakwa kepada Allah.

Takwa juga salah satunya mencakup kemampuan untuk:
  • Pertama: menahan amarah.
  • Kedua: mengontrol lisan (tidak berkata kasar atau menyakiti).
  • Ketiga: bersikap sabar dalam menghadapi kesulitan.

Jadi, sob, ketika kita belajar tetap tenang saat lapar atau diganggu orang, itu sebenarnya adalah salah satu praktik nyata dari takwa yang dimaksud dalam ayat ini. Tetap tenang saat puasa adalah salah satu bagian dari praktik takwa. Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 183 menegaskan bahwa puasa melatih pengendalian diri, termasuk emosi dan lisan.

Jadi, sob, mengendalikan amarah, sabar, dan fokus saat berpuasa adalah cara langsung untuk mewujudkan tujuan puasa.

Memang gimana sih cara agar tenang di tengah perut kosong? Caranya adalah...

Bukan dengan uang.
Bukan dengan makanan.
Bukan dengan scrolling medsos.
Tetapi hanya dengan zikir.

Bayangin, sudah gratis, mudah, gampang lagi, ya kan? Kalau kalian tidak percaya, ada dalilnya, loh. Di dalam Al-Qur'an surah Ar-Ra'd ayat 28 yang berbunyi:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, sesungguhnya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan hati tidak datang dari harta, status, atau kesibukan dunia, tetapi dari iman dan zikir kepada Allah. Itu akan membuat hati merasa nyaman, damai, dan jauh dari kegelisahan.

Contohnya: membaca Al-Qur'an, berdoa, mengucap Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, atau istigfar.

Jadi, sob, hati yang tenang adalah hasil dari zikir kepada Allah. Praktik nyata: saat gelisah, marah, atau cemas, terutama ketika berpuasa, dengan berzikir atau mengingat Allah bisa menenangkan hati, loh, sob.

Jadi, tenang itu bukan cuma tidak panik atau gelisah. Tetapi hati damai karena dekat sama Allah. Bisa dicapai lewat sabar, zikir, doa, dan tawakal. Makanya, walau puasa, lagi capek, atau lagi ribet, hati tetap chill kalau iman kuat.

Nah, dari sini kita bisa lihat, kan, mana yang lebih baik? Dan ternyata, kalau kita perhatikan, tenang itu seperti awal dari kedamaian, ya kan, sob? Atau bahasa Jepangnya bisa dibilang "落ち着きは平和の鍵" (Ochitsuki wa heiwa no kagi). Artinya: ketenangan adalah kunci kedamaian.

Jadi, lapar dan haus itu akan hilang saat azan magrib. Akan tetapi, ketenangan hati yang kita latih saat ini akan selalu tinggal dalam diri kita. Makanya, jangan hanya menahan perut kosong, tahan juga amarah, keluhan, dan pikiran negatif. Asalkan hati penuh dengan Allah, dalam diri kita akan datang rasa tenang, damai, dan bahagia. Ayo, jalani Ramadan ini tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi melatih agar tetap tenang, sabar, dan bahagia.

さようなら (Sayōnara)

Posting Komentar

0 Komentar