MEMBACA KEZALIMAN GLOBAL DENGAN KACAMATA IMAN


Oleh: Darul Iaz
Pengamat Politik

Takbir Idulfitri telah berkumandang, menandai berakhirnya Ramadan yang penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan. Hari-hari sahur dan berbuka telah kita lewati, lantunan Al-Qur’an telah mengiringi siang dan malam kita, dan Ramadan telah meninggalkan jejak ketakwaan yang begitu dalam di hati.

Namun, di tengah suasana kemenangan yang masih kita rasakan, ada kabar yang terus mengiris nurani. Di belahan bumi yang lain, saudara-saudara kita (yang juga menunaikan puasa, yang juga mengagungkan asma Allah dengan takbir, yang juga bersujud memohon perlindungan-Nya) justru masih menjadi korban kebiadaban yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Zionis Israel, dengan dukungan penuh Amerika Serikat, tidak pernah merasa sungkan membantai di bulan suci. Hampir setiap Ramadan, Gaza kembali berdarah. Anak-anak yang seharusnya riang menyambut Idul Fitri, justru menjadi korban bom yang dijatuhkan dengan dalih yang terus berganti, dari senjata pemusnah massal, terorisme, hingga yang terbaru, "pengembangan senjata nuklir".

Ramadan tahun ini tidak berbeda. Bahkan, kezaliman itu meluas. Pada 28 Februari 2026, di tengah bulan yang penuh berkah, Amerika bersama koalisi iblisnya membombardir Iran. Syekh Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, syahid bersama keluarganya dan ratusan warga sipil, termasuk anak-anak sekolah dasar.

Pertanyaan yang kemudian menggema di relung hati adalah mengapa umat Islam terus-menerus menjadi korban? Mengapa darah saudara-saudara kita seolah tidak berharga di mata dunia? Dan yang lebih penting, di mana posisi kita dalam penderitaan ini?


Kezaliman yang Terstruktur, Sistematis, dan Masif

Jika kita menelusuri catatan sejarah, Amerika tidak pernah kehabisan alasan untuk menyerang negeri-negeri Muslim. Di Irak, dalihnya adalah senjata pemusnah massal. Setelah ratusan ribu nyawa melayang, setelah 22 juta rakyat Irak menderita, dalih itu terbukti dusta. Tidak ada senjata pemusnah massal. Tidak ada permintaan maaf. Yang ada hanyalah kehancuran dan trauma yang diwariskan dari generasi ke generasi (National Geographic, 19/03/2026).

Di Afghanistan, dalihnya adalah terorisme, memburu Osama bin Laden. Hampir dua dekade perang, ribuan warga sipil tewas, dan pada akhirnya Amerika angkat kaki tanpa kemenangan. Siapa yang teroris? Sejarah mulai berbicara: Amerikalah yang menjadi negara teroris sejati (DW, 07/10/2021).

Kini giliran Iran. Dalih yang digunakan adalah pengayaan uranium untuk pengembangan senjata nuklir. Padahal, dunia pasca-Perang Dunia II tidak pernah adil. Hanya segelintir negara (Amerika, Rusia, Inggris, Prancis, Cina, Jerman) yang diperbolehkan memiliki senjata nuklir. Negara lain, terutama negara Muslim, dilarang keras (Tribunnews, 30/03/2026).

Apa dasarnya? Tidak ada. Yang ada hanyalah logika kekuasaan: siapa yang kuat, dia yang berhak. Inilah wajah sebenarnya dari tatanan global yang diatur oleh ideologi kapitalisme, sebuah sistem yang hanya mengenal eksploitasi, penjajahan, dan dominasi tanpa batas.

Yang paling mengkhawatirkan adalah ketika Amerika dan sekutunya mulai membuka topeng. Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Amerika, dengan tegas menyatakan bahwa senjata nuklir tidak boleh dikuasai oleh "orang-orang yang mengagumi ilusi pada seorang nabi" (Iranintl, 02/03/2026).

Nabi kita, Muhammad ﷺ, disebut sebagai penyebar ilusi. Nauzubillah. Ini bukan sekadar serangan militer. Ini adalah deklarasi perang terbuka terhadap Islam itu sendiri. Ini adalah pernyataan bahwa keimanan kita, keyakinan kita, dan Rasul yang kita cintai adalah musuh yang harus dilenyapkan.

Jika sebelumnya Amerika bersembunyi di balik dalih HAM, demokrasi, dan perdamaian, kini mereka membuka kedok. Mereka tidak lagi peduli pada citra. Yang mereka kejar adalah hegemoni total atas dunia dan umat Islam adalah penghalang terakhir yang harus disingkirkan.


Ketika Umat Islam Terpecah Belah

Namun yang lebih menyedihkan bukanlah serangan dari luar, tetapi justru perpecahan dari dalam. Di saat saudara-saudara kita di Palestina dan Iran sedang menderita, sebagian umat Islam malah sibuk memperdebatkan perbedaan mazhab, aliran, dan masalah fikih.

Ada yang dengan enteng berkata, "Itu urusan Syiah, bukan urusan Sunni." Ada yang merasa lega karena yang menjadi korban adalah kelompok yang dianggap "tidak sejalan". Ada yang justru bergembira ketika pemimpin tertinggi Iran syahid. Subhanallah. Apakah kita lupa dengan sabda Rasulullah ﷺ? Dalam riwayat Sahih Muslim, beliau bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ
Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya (untuk disakiti atau dizalimi).

Jangan membiarkannya (untuk disakiti atau dizalimi). Ini adalah peringatan yang sangat keras. Ketika kita diam, ketika kita membiarkan saudara kita dizalimi, ketika kita justru membenarkan kezaliman yang menimpa mereka dengan alasan perbedaan, maka kita telah menyerahkan mereka kepada musuh.

Padahal, Allah ﷻ telah menegaskan dalam surah Al-Hujurat ayat 10:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara.” Persaudaraan ini tidak mengenal sekat mazhab. Tidak mengenal perbedaan fikih. Tidak mengenal batas negara. Ia adalah ikatan iman yang melampaui segala sekat buatan manusia.


Akar Masalah dan Jalan Keluar yang Salah

Mengapa Amerika dan sekutunya bisa begitu leluasa menyerang negeri-negeri Muslim? Jawabannya sederhana: karena mereka menguasai kekuatan global secara tidak adil.

Pasca-Perang Dunia II, dunia diatur oleh negara-negara pemenang perang. Mereka menetapkan aturan, mereka memiliki senjata paling canggih, mereka menguasai pasar, dan mereka menentukan siapa yang boleh maju dan siapa yang harus tetap tertindas.

Kapitalisme yang mereka jalankan tidak bisa dipisahkan dari imperialisme. Dalam sistem ini, penjajahan bukanlah cacat sistem, tetapi memang menjadi bagian dari caranya bekerja. Karena itu, Amerika bukan negara yang hanya sesekali melakukan penjajahan. Amerika adalah negara penjajah yang menggunakan kekuatan militer, ekonomi, budaya, dan politik untuk menguasai pihak lain.

Pangkalan-pangkalan militer Amerika yang tersebar di Timur Tengah (di Yordania, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, UEA, Irak, dan Qatar) adalah bukti nyata bahwa negeri-negeri Muslim telah dikuasai. Secara fikih, keberadaan pangkalan militer asing di tanah Muslim adalah haram. Karena ia menjadi jalan bagi orang kafir untuk menguasai orang beriman.

Allah ﷻ berfirman dalam surah An-Nisa ayat 141:

وَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا
Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.

Maka, ketika pangkalan-pangkalan itu berdiri, ketika pemimpin-pemimpin Muslim tunduk pada tekanan asing, ketika kebijakan negara lebih berpihak pada kepentingan kapitalis daripada rakyatnya, sebenarnya jalan itu telah terbuka. Bukan karena Allah membiarkan, tetapi karena umat Islam sendiri yang membuka pintu.

Salah satu penyebab utama kelemahan umat Islam adalah cara pandang yang keliru dalam membaca realitas. Banyak di antara kita yang masih menggunakan perspektif sekuler untuk membedakan mana "urusan agama" dan mana "urusan dunia". Akibatnya, ketika terjadi invasi ke Palestina atau Iran, sebagian umat Islam merasa itu bukan urusannya. Itu politik. Itu urusan negara. Itu tidak ada kaitannya dengan ibadah.

Padahal, dalam Islam tidak ada pemisahan seperti itu. Membela saudara yang tertindas adalah ibadah. Menolak kezaliman adalah kewajiban. Melawan penjajahan adalah bagian dari jihad. Semua ini adalah ajaran Islam yang utuh, bukan sekadar slogan.

Ketika kita membaca kejadian-kejadian ini dengan kacamata iman, kita akan melihat bahwa apa yang terjadi di Palestina dan Iran adalah bagian dari satu skenario besar: penghancuran kekuatan Islam yang potensial. Bukan karena alasan politik, tetapi karena Islam adalah ancaman bagi hegemoni kapitalisme.

Fakta lain yang tidak bisa diabaikan adalah pengkhianatan sebagian pemimpin negeri-negeri Muslim. Mereka yang seharusnya menjadi pelindung umat, justru menjadi antek kekuatan asing. Mereka yang seharusnya bersatu melawan penjajah, justru sibuk dengan konflik internal yang dihembuskan oleh musuh.

Lihatlah bagaimana beberapa negara Arab memperlakukan isu Iran. Dengan dalih perbedaan mazhab, mereka justru bergabung dengan koalisi Amerika yang menyerang saudara sesama Muslim. Padahal, Amerika sendiri tidak pernah peduli pada perbedaan Sunni-Syiah. Yang mereka pedulikan adalah dominasi. Mereka hanya memanfaatkan perbedaan itu untuk memperlemah umat Islam.

Inilah yang disebut sebagai divide et impera, pecah belah dan kuasai. Strategi klasik penjajah yang terus bekerja hingga hari ini.


Bersatu di Bawah Syariat, Bukan di Bawah Kepentingan

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengembalikan cara pandang kita pada perspektif Islam. Kita harus berhenti membaca fenomena global dengan kacamata sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Setiap peristiwa (baik yang terjadi di Palestina, Iran, atau di negara kita sendiri) harus dinilai dengan syariat, bukan dengan logika dunia semata.

Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk menimbang segala sesuatu dengan syariat. Bukan dengan sentimen, bukan dengan kepentingan, bukan dengan popularitas. Ketika kita terikat dengan syariat, maka keputusan yang kita ambil akan selamat, baik di dunia maupun di akhirat.

Kita harus menyadari bahwa musuh yang sesungguhnya bukanlah sekadar Israel atau Amerika sebagai entitas politik. Musuh yang sebenarnya adalah sistem kapitalisme yang menjadi ideologi mereka, sebuah sistem yang tidak bisa eksis tanpa penjajahan, eksploitasi, dan dominasi.

Perang yang mereka lakukan bukan perang agama dalam arti ritual, tetapi perang peradaban. Mereka ingin memastikan bahwa satu-satunya sistem yang berlaku di dunia adalah sistem mereka. Dan Islam, dengan segala ajarannya yang sempurna, adalah satu-satunya sistem yang mampu menawarkan alternatif.

Maka, perlawanan kita tidak boleh sekadar reaktif terhadap serangan-serangan mereka. Perlawanan kita harus bersifat fundamental: menegakkan kembali sistem Islam dalam kehidupan pribadi, masyarakat, dan negara.

Persatuan umat Islam tidak mungkin terwujud hanya dengan slogan-slogan retorik. Ia membutuhkan institusi yang menyatukan, pemimpin yang adil, dan sistem yang diterapkan secara konsisten. Itulah khilafah, sistem yang pernah menyatukan umat Islam dari Afrika hingga Asia, dari Samudra Atlantik hingga Samudra Pasifik.

Ketika khilafah tegak, tidak ada lagi istilah "Palestina masalah mereka" atau "Iran urusan mereka". Semua adalah masalah bersama. Semua adalah tanggung jawab bersama. Kekuatan umat tidak lagi terpecah ke dalam puluhan negara-bangsa yang lemah, tetapi bersatu dalam satu kepemimpinan yang kuat.

Di tengah situasi saat ini, kita tidak bisa tinggal diam. Diam di hadapan kezaliman adalah bentuk partisipasi dalam kezaliman itu sendiri. Ada beberapa sikap yang bisa kita ambil:

Pertama, jangan menjadi bagian dari upaya memecah belah umat. Hentikan sikap yang memperkeruh perbedaan mazhab. Sadari bahwa musuh kita sama, meskipun kita memiliki perbedaan dalam hal-hal furu’iyah.

Kedua, tolak segala bentuk normalisasi dengan penjajah. Jangan pernah menganggap Amerika sebagai "teman" atau "sekutu". Mereka adalah penjajah yang telah terbukti berkali-kali mengkhianati umat Islam.

Ketiga, dukung setiap upaya perlawanan terhadap kezaliman, baik dengan doa, dengan harta, dengan suara, maupun dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan pernah meremehkan doa, karena doa adalah senjata orang beriman.

Keempat, bangun kesadaran di lingkungan kita tentang pentingnya persatuan dan pentingnya kembali pada syariat. Edukasi keluarga, teman, dan masyarakat tentang hakikat perjuangan umat Islam.


Setelah Ramadan: Menjaga Semangat Kebangkitan

Ramadan telah berlalu, tetapi ruh dan pelajarannya tidak boleh ikut pergi. Bulan suci itu telah menjadi waktu yang mendidik kita untuk meningkatkan ketakwaan, mendekatkan diri kepada Allah, dan menumbuhkan kepedulian terhadap penderitaan sesama. Karena itu, setelah Idulfitri ini, semangat Ramadan harus tetap kita jaga sebagai landasan kebangkitan.

Ramadan telah mengajarkan kepada kita satu kesadaran penting: bahwa kita adalah satu umat, meskipun dipisahkan oleh batas-batas yang dibuat manusia. Ramadan juga mengingatkan kita bahwa yang seharusnya kita hadapi adalah sistem yang menindas, bukan saudara seiman yang berbeda mazhab. Dari sana, kita belajar bahwa kejayaan Islam tidak akan lahir dari perpecahan dan kepentingan sempit, melainkan dari persatuan, kepedulian, dan komitmen untuk kembali kepada ajaran Islam secara menyeluruh.

Allah ﷻ berfirman dalam surah Ali Imran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ
Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara.

Inilah janji Allah. Dan janji Allah pasti. Namun janji itu menuntut usaha kita. Maka, marilah kita bersatu. Marilah kita kembali pada syariat. Marilah kita wujudkan persaudaraan sejati yang diikat oleh iman, bukan oleh kepentingan dunia.

Karena pada akhirnya, kemenangan bukan milik mereka yang paling kuat, tetapi milik mereka yang paling teguh dalam kebenaran.

Wallahu’alam bish-shawwab.

Posting Komentar

0 Komentar