
Oleh: Darul Iaz
Pengamat Politik Global
Di tengah gemuruh takbir yang menggema, di tengah suka cita umat Islam menyambut hari kemenangan, realitas pahit masih menghantui. Di Gaza, di Palestina, di berbagai penjuru dunia Islam, darah saudara-saudara kita masih terus mengalir. Bom-bom Zionis Israel dan imperialis Amerika tidak mengenal bulan suci, tidak mengenal hari raya, tidak mengenal nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini mereka dengungkan dengan lantang.
Kita bersuka cita, tetapi di sisi lain kita juga prihatin. Prihatin karena umat Islam masih terus menjadi korban. Prihatin karena kekuatan penjajah masih dengan mudahnya membunuh, menculik, dan menghancurkan. Yang lebih memprihatinkan lagi, masih ada di antara umat Islam yang belum juga sadar, yang masih berharap pada perlindungan mereka yang justru menjadi sumber kezaliman.
Mengapa umat Islam terus-menerus berada dalam posisi lemah? Mengapa mereka yang jelas-jelas memusuhi Islam selalu bisa dengan mudah menguasai dan menindas? Dan apa hubungannya dengan sikap sebagian umat Islam yang masih menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dan orang kepercayaan?
Larangan Tegas dalam Al-Qur’an yang Sering Diabaikan
Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan sendiri bagaimana Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya memperlakukan pemimpin-pemimpin negara yang tidak sejalan dengan kepentingan mereka. Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, diculik. Pemimpin tertinggi Iran, Jenderal Qassem Soleimani, dibunuh bersama rombongan dan keluarganya, termasuk 160 siswi madrasah. Di Palestina, pembantaian terus berlangsung tanpa henti.
Ini bukan sekadar konflik politik. Ini adalah bukti nyata bahwa nilai-nilai yang selama ini didengungkan oleh Barat (hak asasi manusia, keadilan, toleransi, penghormatan terhadap agama) hanyalah omong kosong belaka. Mereka tidak pernah sungkan membunuh di bulan Ramadan. Mereka tidak pernah segan menghancurkan di hari raya. Mereka tidak pernah peduli pada suci atau tidaknya suatu waktu bagi umat Islam.
Namun ironisnya, masih ada sebagian umat Islam yang belum juga sadar. Mereka masih membuka hati, masih berharap pada kebaikan, masih berpikir bahwa sikap Amerika di Indonesia berbeda dengan sikap Amerika di Timur Tengah. Padahal, bukti sudah sedemikian terang benderang.
Allah ﷻ telah memberikan peringatan yang sangat jelas dalam Al-Qur’an tentang siapa yang pantas menjadi pemimpin dan orang kepercayaan bagi umat Islam. Setidaknya ada tiga ayat yang menjadi fondasi larangan ini.
Pertama, Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 120:
وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu hingga engkau mengikuti agama mereka.”
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan millah dalam ayat ini adalah agama, keyakinan, dan pandangan hidup. Mereka tidak akan pernah puas hanya dengan sekadar hubungan baik. Mereka menginginkan umat Islam mengikuti seluruh sistem dan cara pandang mereka.
Kedua, Allah berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 51:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai auliya’. Sebagian mereka adalah pelindung bagi sebagian yang lain.”
Kata auliya’ memiliki makna yang luas: pemimpin, pelindung, penolong, atau orang kepercayaan. Ayat ini melarang umat Islam memberikan posisi-posisi strategis kepada orang-orang kafir yang tidak sepaham dengan Islam. Bukan karena Islam rasis atau tidak toleran, tetapi karena fakta sejarah dan realitas politik menunjukkan bahwa mereka tidak akan pernah benar-benar berpihak kepada umat Islam.
Ketiga, Allah berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 51 yang sama, kemudian ditegaskan dalam ayat selanjutnya:
وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ
“Barang siapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai auliya’, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka.” (QS. Al-Maidah: 51)
Ini adalah ancaman yang sangat serius. Bukan sekadar peringatan moral, tetapi deklarasi identitas. Siapa pun yang menjadikan orang kafir sebagai pemimpin dan orang kepercayaan, maka ia telah keluar dari barisan kaum Muslimin dan masuk ke dalam barisan mereka.
Realitas hari ini membuktikan kebenaran firman Allah tersebut. Koalisi antara Amerika yang mayoritas penduduknya Nasrani dan Israel yang beragama Yahudi adalah bukti nyata bahwa ba’duhum auliya’u ba’d, sebagian mereka adalah pelindung bagi sebagian yang lain. Mereka bersatu dalam memusuhi Islam, bersatu dalam menjajah, bersatu dalam membunuh.
Namun yang lebih tragis adalah ketika sebagian umat Islam masih berdalih bahwa sikap Amerika di Indonesia berbeda dengan sikap Amerika di Timur Tengah. Mereka mengatakan, “Itu kan di Timur Tengah. Sementara Amerika justru berjasa untuk Indonesia.”
Dugaan ini tidak lebih dari ilusi yang dibangun oleh kekuatan penjajah. Coba renungkan, bagaimana mungkin kita menganggap Amerika berjasa, sementara di belakang layar mereka menguasai sumber daya alam kita, mengendalikan kebijakan ekonomi kita, dan memastikan bahwa setiap pemimpin yang tidak sejalan dengan kepentingan mereka akan segera jatuh?
Sejarah telah membuktikan. Ferdinand Marcos di Filipina, boneka Amerika, dijatuhkan ketika tidak lagi favorable. Saddam Hussein di Irak, yang dulunya didukung Amerika, dihancurkan ketika melawan. Manuel Noriega di Panama, agen CIA yang kemudian dikhianati dan ditangkap. Begitu pula dengan pemimpin-pemimpin lain yang mencoba lepas dari kendali Amerika.
Maka, apakah Indonesia akan menjadi pengecualian? Tentu tidak. Selama kita masih menjadikan Amerika sebagai pemimpin dan orang kepercayaan, selama itu pula kita akan menjadi korban dari kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan umat.
Mengapa Umat Islam Lemah dan Tidak Bersatu?
Mengapa umat Islam tidak bisa menyelesaikan persoalannya sendiri? Mengapa mereka selalu berada dalam posisi lemah dan terpecah belah?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami bahwa sebuah bangsa yang kuat membutuhkan setidaknya tiga elemen yang bekerja secara bersamaan.
Pertama, aturan yang digunakan. Aturan ini harus jelas, komprehensif, dan bersumber dari kebenaran. Bagi umat Islam, aturan itu adalah syariat Islam. Dan syariat Islam, alhamdulillah, tidak pernah hilang. Ia tetap utuh, tetap terjaga, tetap menjadi pedoman bagi siapa pun yang ingin menerapkannya.
Kedua, pemimpin yang menggunakan aturan itu. Memiliki aturan yang sempurna tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada pemimpin yang berani dan mampu menerapkannya. Pemimpin yang takut pada manusia, yang tunduk pada tekanan asing, yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan umat, tidak akan pernah bisa membawa perubahan.
Ketiga, kewenangan untuk menerapkan aturan. Seorang pemimpin bisa saja memiliki niat baik dan aturan yang sempurna, tetapi tanpa kewenangan yang cukup, ia tidak akan bisa berbuat banyak. Kewenangan ini mencakup kekuatan politik, militer, ekonomi, dan diplomatik.
Sayangnya, umat Islam saat ini hanya memiliki satu dari tiga elemen itu: aturan. Pemimpin ada, tetapi tidak menggunakan kewenangannya untuk menerapkan Islam. Kewenangan ada, tetapi digunakan untuk hal-hal yang justru menjauhkan umat dari syariat.
Fakta yang lebih pahit lagi adalah bahwa setiap kali ada pemimpin yang mulai menunjukkan keinginan untuk menerapkan Islam secara utuh, ia segera dijatuhkan. Front Islamis Keselamatan (FIS) di Aljazair, yang memenangkan pemilu, digulingkan oleh militer dengan dukungan Barat. Muhammad Mursi di Mesir, presiden pertama yang dipilih secara demokratis, digulingkan dalam kudeta yang didukung Amerika. Dan masih banyak contoh lainnya.
Ini menunjukkan bahwa kekuatan imperialis tidak akan pernah membiarkan tegaknya sistem Islam. Mereka akan menggunakan segala cara (mulai dari tekanan ekonomi, intervensi politik, hingga kekerasan militer) untuk memastikan bahwa umat Islam tetap berada dalam kondisi lemah dan terpecah belah.
Kita sering mendengar seruan persatuan umat Islam. Namun persatuan itu hanya sebatas retorika, bukan realitas faktual. Umat Islam terpecah ke dalam puluhan negara-bangsa, dengan kepentingan yang berbeda-beda, dengan loyalitas yang terbagi-bagi. Sebagian bahkan menjadi sekutu dari kekuatan yang memusuhi Islam.
Mengapa persatuan tidak kunjung terwujud? Karena persatuan hakiki hanya mungkin terjadi jika ada dua hal sekaligus: institusi yang menyatukan umat, dan pemimpin dari institusi itu yang memang menyatukan umat.
Institusi itu adalah khilafah. Dan pemimpinnya adalah khalifah. Dengan sistem khilafah, umat Islam tidak lagi terpecah oleh batas-batas buatan penjajah. Mereka bersatu di bawah satu kepemimpinan, dengan satu aturan, dan satu tujuan: menegakkan syariat Islam dan membawa rahmat bagi seluruh alam.
Kembali pada Cara-Cara yang Pernah Membawa Kejayaan
Ziauddin Sardar, seorang intelektual Muslim, dalam bukunya Rekayasa Masa Depan Islam, menyampaikan sebuah kesimpulan yang menarik. Ia mengatakan bahwa umat Islam tidak akan pernah bisa meraih puncak kejayaan jika tidak menggunakan cara-cara Madinah.
Mengapa Madinah? Karena di sanalah umat Islam pertama kali meraih kejayaan. Di sanalah syariat diterapkan secara utuh. Di sanalah umat bersatu di bawah satu kepemimpinan. Di sanalah keadilan ditegakkan, ilmu pengetahuan berkembang, dan peradaban dibangun.
Cara-cara Madinah ini bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia adalah metodologi yang telah terbukti berhasil. Berbeda dengan cara-cara lain yang dicoba oleh umat Islam (sekularisme ala Turki, nasionalisme ala negara-negara Arab, sosialisme ala beberapa negara Islam) yang semuanya terbukti gagal membawa kemajuan.
Kita perlu kembali kepada orisinalitas kita sebagai seorang Muslim. Orisinalitas yang selama ini telah tercampur dengan berbagai macam ideologi dan sistem yang diyakini sebagai jalan mencapai kemajuan, tetapi ternyata hanya membawa kemunduran.
Kemal Pasha di Turki percaya bahwa sekularisme adalah jalan untuk memajukan umat Islam. Hasilnya? Turki menjadi negara yang kehilangan identitas Islamnya, terjebak dalam gejolak politik, dan tetap bergantung pada Barat.
Negeri-negeri Arab percaya bahwa nasionalisme adalah solusi. Hasilnya? Mereka terpecah belah, saling bermusuhan, dan menjadi ladang bagi intervensi asing.
Sementara itu, satu-satunya sistem yang pernah terbukti berhasil membawa umat Islam ke puncak peradaban selama berabad-abad adalah khilafah. Bukan sekadar sistem politik, tetapi institusi yang menyatukan umat, menerapkan syariat, dan mengemban dakwah ke seluruh dunia.
Langkah pertama untuk keluar dari kondisi lemah adalah menyadari siapa musuh yang sesungguhnya. Bukan sekadar Israel atau Amerika sebagai entitas politik, tetapi seluruh sistem imperialis yang berbasis pada sekularisme kapitalis, yang memusuhi Islam sebagai sistem kehidupan.
Allah ﷻ berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 56:
وَمَنْ يَّتَوَلَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَاِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْغٰلِبُوْنَ
“Dan barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman sebagai pelindung, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang akan menang.”
Kemenangan bukan datang dari menjadikan orang kafir sebagai pemimpin dan orang kepercayaan. Kemenangan datang dari loyalitas yang utuh kepada Allah, Rasul-Nya, dan sesama orang beriman.
Kita tidak akan pernah memiliki kekuatan selama kita masih terpecah belah. Kita tidak akan pernah bisa menggunakan tiga elemen (aturan, pemimpin, dan kewenangan) secara bersamaan selama kita tidak bersatu. Dan kita tidak akan pernah bersatu secara hakiki selama kita tidak memiliki khilafah dan khalifah yang menyatukan.
Maka, sudah saatnya umat Islam berhenti berharap pada kekuatan asing. Sudah saatnya kita berhenti menjadikan orang kafir sebagai pemimpin dan orang kepercayaan. Sudah saatnya kita kembali kepada cara-cara yang telah ditetapkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah.
Ini bukan soal kebencian. Ini soal kesadaran. Ini soal siapa yang pantas kita jadikan pemimpin dalam hidup kita. Apakah mereka yang jelas-jelas memusuhi Islam, ataukah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman?
Menyongsong Kebangkitan dengan Kesadaran Baru
Idul Fitri tahun ini mungkin masih diwarnai dengan duka. Gaza masih berdarah. Palestina masih terjajah. Umat Islam masih terus menjadi korban kezaliman. Namun jangan biarkan duka ini membuat kita putus asa. Jadikan ia sebagai energi untuk bangkit, untuk menyadari kesalahan, dan untuk kembali ke jalan yang benar.
Allah ﷻ telah berjanji dalam surah An-Nur ayat 55:
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”
Janji ini pasti. Namun syaratnya juga pasti: iman yang benar dan amal saleh. Dan salah satu amal saleh paling urgen adalah tidak menjadikan orang kafir sebagai pemimpin dan orang kepercayaan, serta berjuang untuk menegakkan kembali khilafah yang akan menyatukan umat.
Maka, marilah kita bangkit. Marilah kita bersatu. Marilah kita kembali kepada cara-cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Karena hanya dengan itulah, umat Islam akan kembali meraih kejayaan yang dijanjikan oleh Allah.
Wallahu’alam bish-shawwab.

0 Komentar