
Oleh: Walidun Tahrir
Penulis Lepas
Musibah tidak selalu datang dalam bentuk bencana alam. Ujian hidup tidak selalu berupa kehilangan harta atau nyawa. Ada musibah yang lebih sunyi, lebih halus, dan justru lebih berbahaya: ketika perjuangan dibelokkan dari dalam.
Sejarah mencatat, pada fase awal dakwah di Makkah, posisi manusia begitu jelas. Mereka yang beriman berdiri tegak meski dengan segala risiko. Mereka yang menolak pun terang-terangan menunjukkan permusuhan. Tidak ada wilayah abu-abu. Tidak ada topeng. Tidak ada kepura-puraan.
Namun, keadaan berubah ketika Islam memperoleh kekuatan di Madinah. Ketika dakwah mulai memiliki posisi, ketika kepemimpinan berada di tangan Rasulullah ï·º, muncullah tipe manusia baru: mereka yang secara lahir mengaku bersama barisan, tetapi hati mereka menyimpan kebencian dan kepentingan pribadi.
Nama seperti Abdullah bin Ubay bin Salul bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah simbol dari pola yang terus berulang. Saat Perang Tabuk (perang yang penuh dengan kesulitan fisik dan godaan dunia) ia menghembuskan keraguan, melemahkan semangat, dan mengajak orang berpaling dari medan perjuangan dengan alasan kenyamanan dan keuntungan dunia.
Yang menarik bukan hanya sikap orang munafik itu, melainkan respons Rasulullah ï·º. Beliau tidak meladeni gosip atau membalas provokasi. Beliau justru memerintahkan pasukan untuk mempercepat langkah, fokus pada tujuan, dan bergerak lebih cepat. Tindakan nyata menjadi cara untuk menutup ruang keraguan. Dan kemenangan pun datang, bahkan tanpa pertempuran.
Hari ini, pola yang sama terasa akrab. Ada orang-orang yang pada awalnya berdiri di barisan perjuangan, bersuara lantang, berbicara tentang idealisme. Namun, ketika pintu kekuasaan terbuka, ketika ada peluang harta dan posisi, arah mulai bergeser. Narasi mulai berubah. Kebenaran dan kebatilan dicampuradukkan atas nama “realitas”. Kompromi dibungkus dengan istilah kebijaksanaan. Pengkhianatan disamarkan sebagai strategi. Ini adalah musibah. Dan musibah seperti ini bukan hal baru.
Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa manusia akan diuji dengan rasa takut, kekurangan, dan ancaman kehilangan. Bahkan ketakutan itu sering kali belum terjadi, tetapi sudah membuat langkah goyah. Takut miskin padahal masih cukup. Takut kalah padahal belum berperang. Takut kehilangan posisi padahal belum benar-benar terancam. Di titik inilah kualitas iman diuji.
Rasulullah ï·º telah memberi tanda yang jelas: ciri kemunafikan itu ada tiga, ketika berbicara ia berdusta, ketika berjanji ia ingkar, dan ketika diberi amanah ia berkhianat. Pengkhianatan tidak selalu berbentuk penggelapan dana atau penyalahgunaan jabatan. Mengubah arah perjuangan demi keuntungan pribadi pun adalah bentuk pengkhianatan amanah.
Sering kali kita luput menyadari bahwa pengkhianatan tidak pernah merugikan perjuangan sebesar kerugian yang ia timbulkan pada pelakunya sendiri. Ia mungkin mendapatkan dunia yang sedikit, tetapi kehilangan integritas yang besar. Ia mungkin selamat di hadapan manusia, tetapi belum tentu selamat di hadapan Allah.
Karena itu, respons orang beriman bukanlah histeria atau dendam. Responsnya adalah kesadaran: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kita milik Allah. Perjuangan ini milik Allah. Kemenangan pun milik Allah. Tidak ada satu pun pengkhianatan yang bisa membatalkan ketetapan-Nya.
Yang menjadi pertanyaan justru bukanlah siapa yang berkhianat? Tetapi apakah kita akan tetap istiqamah?
Istiqamah adalah inti ujian. Bukan sekadar memulai dengan semangat, tetapi menjaga arah hingga akhir. Bukan hanya dikenal sebagai pejuang di awal, tetapi wafat dalam keadaan setia pada prinsip. Sebab dalam Islam, yang diperhitungkan bukan hanya bagaimana kita memulai perjalanan, melainkan bagaimana kita menutupnya.
Su’ul khatimah tidak datang tiba-tiba. Ia lahir dari kompromi-kompromi kecil yang terus dibiarkan. Dari geseran satu inci yang dianggap remeh. Dari langkah mundur yang disebut “sekadar strategi”.
Padahal kemenangan terbesar bukanlah ketika lawan runtuh. Kemenangan terbesar adalah ketika hati tetap teguh meski dunia menggoda dari segala arah.
Maka, pelajaran dari sejarah itu jelas: jangan sibuk meladeni provokasi, jangan terjebak dalam drama pengkhianatan, dan jangan kehilangan fokus karena desas-desus. Percepat langkah. Perkuat barisan. Perbaiki niat. Bersihkan hati dari ambisi dunia yang menyamar sebagai perjuangan.
Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai perjuangan bukanlah tepuk tangan manusia, bukan pula posisi yang diraih, tetapi catatan akhir di hadapan Allah.
Dan mungkin, di tengah zaman yang penuh kompromi ini, bentuk perjuangan terbesar justru adalah satu hal sederhana namun berat: tetap lurus. Tetap jujur. Tetap setia. Hingga akhir.

0 Komentar