
Oleh: Hamzah Al Fatih
Pengamat Ekonomi
Di dunia finansial modern, ada satu konsep yang hampir tidak pernah dipertanyakan: compounding interest atau bunga berbunga. Uang yang menghasilkan uang, lalu hasilnya kembali diputar, tumbuh, dan membesar, seolah-olah waktu menjadi mesin pengganda kekayaan.
Banyak orang menyebutnya sebagai "keajaiban dunia kedelapan." Semakin cepat memulai, semakin besar hasilnya. Grafiknya tampak indah, naik perlahan tapi pasti. Di atas kertas, ia terlihat rasional, ilmiah, dan tak terbantahkan.
Namun, di sudut lain, Islam memandang konsep tersebut dengan sangat berbeda. Bunga berbunga termasuk dalam kategori riba yang diharamkan. Al-Qur’an dengan tegas menyebut praktik ini sebagai sesuatu yang tidak boleh dibiarkan hidup dalam sistem ekonomi umat. Allah ﷻ berfirman:
وَاَحَلَّ اللّٰهُ الۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا
"Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." (QS. Al Baqarah: 275)
Di sinilah perbedaan sudut pandang menjadi sangat jelas. Benturan ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi merupakan perbedaan mendasar dalam cara pandang.
Dalam penerapan sistem kapitalisme saat ini mengajarkan kita untuk membuat uang bekerja untukmu. Kamu tidak perlu terlibat dalam risiko usaha secara penuh. Cukup tanamkan uangmu, tunggu, dan nikmati hasilnya. Bahkan jika usaha yang dibiayai merugi, bunga tetap berjalan, dan angka tetap bertambah.
Namun dalam konsep Islam, pertumbuhan tidak boleh berdiri di atas jaminan sepihak. Jika ada keuntungan, ia harus lahir dari aktivitas riil. Jika ada risiko, ia harus dibagi. Tidak ada "keuntungan pasti" tanpa kemungkinan rugi. Pertumbuhan tidak bisa terjadi tanpa melibatkan pada kenyataan yang ada.
Bagi banyak orang, sistem bunga terasa menenangkan. Ada kepastian angka, estimasi tahunan, dan proyeksi masa depan. Kita bisa menghitung berapa nilai tabungan lima belas tahun lagi, dan merasa aman.
Namun, keamanan seperti apa yang sebenarnya kita harapkan?
Bayangkan dalam sistem ekonomi kapitalis saat ini, di mana uang yang beredar seratus miliar, tetapi total yang harus dikembalikan seratus sepuluh miliar karena bunga. Sepuluh miliar tambahan itu harus muncul dari mana? Artinya, ada pihak lain dalam sistem yang sama harus di tekanan, ekspansi utang baru, atau ada pihak yang menanggung beban lebih besar.
Inilah kritik terhadap sistem berbasis bunga yang lahir dari kapitalisme. Ia mendorong pertumbuhan tanpa melihat apa yang terjadi di sektor rill, dan sering kali pertumbuhan itu tidak netral. Ada pihak yang diuntungkan secara stabil, sementara ada pula yang menanggung risiko lebih berat.
Sejarah bahkan menunjukkan bagaimana dominasi ekonomi kapitalis global dapat bertumpu pada sistem utang dan mata uang yang terus diperkuat secara politik. Sejak kebijakan yang diambil pada era Richard Nixon yang memutus keterkaitan dolar dengan emas, dunia memasuki babak baru: nilai uang tidak lagi bertumpu pada komoditas nyata (seperti emas dan perak), melainkan pada kekuatan negara dan kepercayaan pasar. Hal ini menyebabkan sistem berbasis utang dan bunga semakin mengakar.
Apakah itu cerdas? Secara strategi, mungkin.
Apakah itu adil? Di situlah perdebatan tak pernah selesai.
Menariknya, sistem ekonomi Islam sering dianggap kurang agresif. Ia tidak menjanjikan ledakan kekayaan atau pertumbuhan eksponensial. Sistem ini lebih lambat, lebih hati-hati, dan lebih berbasis pada aktivitas nyata serta distribusi yang seimbang.
Bagi sebagian orang, itu terasa membatasi. Siapa yang tidak tergoda dengan iming-iming return stabil 6% atau 8% per tahun? Siapa yang tidak ingin melihat grafik kekayaan terus menanjak tanpa harus ikut menanggung fluktuasi usaha?
Namun, justru di sinilah inti persoalannya. Sistem bunga dalam ekonomi kapitalis menjanjikan kepastian hasil tanpa resiko. Sebaliknya, sistem Islam yang mengedepankan bagi hasil menjanjikan keadilan dalam prosesnya.
Satu sistem membuat kita merasa aman secara angka, sementara sistem lainnya berfokus pada struktur ekonomi yang lebih adil secara prinsip.
Pertanyaannya kemudian menjadi sangat pribadi: apa yang sebenarnya kita cari dari uang? Kekayaan maksimal atau ketenangan batin? Pertumbuhan secepat mungkin atau keberlanjutan yang tidak merugikan pihak lain? Jika kamu seorang Muslim, apakah kamu mencari harta haram atau harta yang berkah di dunia dan akhirat?
Banyak dari kita mencintai compounding karena ia memberi ilusi kendali atas masa depan. Kita merasa sedang merencanakan hidup dengan rasional. Padahal, mungkin yang kita kejar bukan sekadar bunga berbunga, melainkan rasa serakah di tengah ketidakpastian hidup. Padahal Allah ﷻ dengan tegas mengatakan:
فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا فَاۡذَنُوۡا بِحَرۡبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوۡلِهٖ
"Maka jika kamu tidak meninggalkan (sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu." (QS. Al Baqarah 279)
Islam memiliki logika yang berbeda. Ia tidak menolak pertumbuhan, tidak anti kekayaan, tetapi ia menolak pertumbuhan yang terlepas dari tanggung jawab moral. Harta bukan milik mutlak manusia, melainkan titipan. Maka cara memperolehnya, mengembangkannya, dan menggunakannya tidak boleh lepas dari batasan.
Di titik ini, benturan itu terasa nyata. Bukan hanya antara dua sistem ekonomi, tetapi antara dua cara memandang dunia. Satu melihat uang sebagai mesin yang harus terus dipacu, yang lain melihat uang sebagai amanah yang harus dijaga.
Kita hidup di dunia ini hanya sekali. Tidak ada pengulangan, tidak ada kesempatan kedua untuk memperbaiki seluruh episode kehidupan. Dan hampir semua manusia, apa pun latar belakangnya, menginginkan hal yang sama: ketenangan. Kita bekerja keras, berinvestasi, dan menghitung masa depan, pada akhirnya demi rasa aman dan damai dalam hati.
Namun, sebagai seorang Muslim, kita tidak hidup bebas tanpa arah. Hidup kita terikat dengan hukum syara’. Setiap keputusan, setiap transaksi, dan setiap cara kita menumbuhkan harta tidak berdiri tanpa pondasi. Ia berada dalam bingkai halal dan haram, dalam batasan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Sering kita lupa, yang kita kejar bukan sekadar pertumbuhan angka, melainkan keselamatan di hadapan Allah. Dunia ini sementara, akhirat selamanya. Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan klise. Tapi justru karena terlalu sering didengar, ia kehilangan daya guncangnya.
Padahal, di situlah letak kesadarannya.
Apa arti return stabil jika ia menyeret kita pada penyesalan yang lebih panjang? Apa arti grafik yang terus naik jika kelak kita harus menjawab dari mana dan bagaimana harta itu didapat?
Kesadaran inilah yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Bukan untuk menolak kemajuan, tetapi untuk merubah sistem hidup yang bukan berasal dari Islam menjadi Islam, untuk memastikan bahwa setiap langkah kita tidak hanya rasional secara dunia, tetapi juga selamat di akhirat.
Karena pada akhirnya, yang kita bawa pulang bukanlah saldo.
Yang kita bawa pulang adalah pertanggungjawaban.

0 Komentar