SERANGAN TERHADAP IRAN DAN POLA BARU POLITIK LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT


Oleh: Abu Ghazi
Pengamat Politik

Serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan entitas Zionis (Israel) terhadap Iran pada 28 Februari 2026, membuka kembali perdebatan internasional mengenai kondisi geopolitik, hak untuk membela diri, dan ketegangan yang terus membara di kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataannya, Presiden AS Donald Trump dengan arogansinya mengumumkan dimulainya serangan militer, sementara Israel meluncurkan serangan terhadap puluhan target milik pemerintah Iran. Langkah ini menandakan eskalasi ketegangan yang jauh lebih tinggi dalam dinamika politik internasional (Metro TV, 28/02/2026).


Pengaruh Politik Amerika dan Israel terhadap Iran

Amerika Serikat dan Israel telah lama menjadikan Iran sebagai musuh utama mereka di Timur Tengah. Sejak era pemerintahan Obama, kebijakan luar negeri AS terhadap Iran didorong oleh kesepakatan nuklir yang menghasilkan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2015. Dalam kesepakatan tersebut, Iran diizinkan untuk mengembangkan program nuklir dengan batasan tertentu, sementara AS dan negara-negara besar lainnya sepakat untuk mencabut sanksi ekonomi terhadap Iran.

Namun, pada era Trump, kebijakan ini berubah drastis. Trump menarik diri dari JCPOA pada 2018, menganggapnya sebagai kesepakatan yang buruk dan mengembalikan sanksi yang lebih keras terhadap Iran. Kebijakan ini semakin memperburuk hubungan antara kedua negara.

Serangan militer ini mencerminkan kebijakan yang lebih agresif, dimana Trump ingin memaksakan Iran untuk tunduk pada tuntutannya, yaitu pelucutan senjata nuklir dan rudal. Menggunakan argumen bahwa "Amerika adalah negara terkuat di dunia", Trump dan Netanyahu berusaha menunjukkan dominasi mereka, namun apa yang mereka abaikan adalah reaksi yang tidak bisa diprediksi dari Iran, yang memiliki hak untuk membela diri sesuai dengan hukum internasional.


Iran sebagai Negara yang Berjuang untuk Kedaulatan

Di sisi lain, Iran, meskipun berhadapan dengan tekanan internasional yang luar biasa, tetap mempertahankan kebijakan independennya. Iran telah menunjukkan bahwa meskipun diisolasi oleh Amerika Serikat dan sekutunya, mereka tetap memiliki hak untuk mempertahankan kedaulatannya, terutama ketika menghadapi ancaman eksternal yang nyata.

Menanggapi serangan ini, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan dengan tegas bahwa Iran akan menggunakan kemampuan militernya untuk membela diri. Ini adalah reaksi yang sah menurut hukum internasional yang memberikan hak kepada setiap negara untuk mempertahankan diri dari serangan.

Serangan ini juga mencerminkan ketegangan yang mendalam mengenai ketidakpercayaan terhadap niat AS. Meskipun Iran sebelumnya telah memberikan kontribusi dalam operasi militer AS di kawasan, pergeseran kebijakan Amerika di bawah Trump menunjukkan betapa pragmatisnya kebijakan luar negeri AS yang berfokus pada pemaksaan kepentingan tanpa memperhatikan hubungan diplomatik yang telah dibangun sebelumnya.


Dampak Geopolitik bagi Negara-negara Muslim

Serangan ini juga menimbulkan pertanyaan penting mengenai loyalitas negara-negara Muslim terhadap negara-negara besar, terutama Amerika dan Israel. Beberapa kalangan berpendapat bahwa penguasa di negeri-negeri Muslim cenderung lebih memilih hubungan dengan kekuatan besar, meskipun ini dapat berisiko merugikan kepentingan jangka panjang umat Islam secara keseluruhan.

Sejarah menunjukkan bahwa Amerika tidak segan-segan untuk meninggalkan "agen-agen" mereka setelah peran mereka habis. Kasus-kasus seperti ini (termasuk kehancuran rezim-rezim yang pernah bersekutu dengan Amerika) menunjukkan bahwa politik luar negeri AS sering kali bersifat transaksional, di mana negara-negara yang sebelumnya didukung akan ditinggalkan saat kepentingan Amerika berubah.

Dalam hal ini, serangan terhadap Iran juga mencerminkan bagaimana negara-negara besar mengelola hubungan internasional berdasarkan pada pemenuhan kepentingan mereka, tanpa menghormati kedaulatan dan kebijakan luar negeri negara lain.


Reaksi Dunia dan Masa Depan Konflik

Sangat penting untuk memeriksa apakah serangan ini akan meningkatkan ketegangan lebih lanjut atau justru membuka jalan bagi perundingan internasional. Beberapa pihak berpendapat bahwa serangan ini mungkin akan memperburuk hubungan internasional, memperkuat ketegangan di kawasan Timur Tengah, dan meningkatkan ketidakstabilan global.

Namun, di sisi lain, serangan ini bisa menjadi pengingat akan pentingnya negara-negara di kawasan Timur Tengah memiliki kebijakan luar negeri yang lebih independen dan tidak terjebak dalam permainan politik kekuatan besar. Sebagaimana disebutkan dalam ayat al-Qur'an:

الَّذِيْنَ يَتَّخِذُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ اَيَبْتَغُوْنَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَاِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۗ
"(yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah." (QS. an-Nisa’ [4]: 139)

Loyalitas kepada negara-negara kafir penjajah hanya akan mendatangkan kehinaan. Oleh karena itu, negara-negara Muslim harus lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan luar negeri dan mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kepentingan umat Islam.


Khatimah

Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mencerminkan kekuatan politik internasional yang berbasis pada pemaksaan dan ketidakpedulian terhadap hak negara lain untuk membela diri. Bagi Iran, ini adalah ujian besar dalam mempertahankan kedaulatan, namun bagi negara-negara Muslim, ini menjadi pengingat bahwa negara besar sering kali hanya memprioritaskan kepentingan mereka sendiri, tanpa memedulikan akibat bagi negara-negara yang lebih kecil.

Oleh karena itu, penting bagi negara-negara Muslim untuk memperkuat kebijakan luar negeri mereka dengan memprioritaskan kedaulatan dan kepentingan umat Islam secara global, sambil menghindari ketergantungan pada kekuatan asing yang hanya membawa malapetaka di masa depan.

Posting Komentar

0 Komentar