IDUL FITRI DI GAZA: GEMA TAKBIR DI TENGAH KEHANCURAN


Oleh: Santi Susanti
Penulis Lepas

Di tengah suka cita kaum Muslim yang ada di seluruh dunia yang sedang merayakan Hari Raya Idul Fitri, suasana di Gaza justru terasa sangat berbeda. Warga Gaza merayakan Hari Raya Idul Fitri di tengah krisis kemanusiaan yang sangat parah, dengan pembatasan ketat dari Israel, kehancuran infrastruktur, serta kekurangan pangan, air bersih, dan obat-obatan.

Bahkan dengan sangat terpaksa, warga Gaza harus berkumpul di tengah reruntuhan gedung-gedung dan dekat dengan puing-puing masjid yang hancur di area terbuka dekat kamp pengungsian, yang dijadikan lokasi darurat untuk melaksanakan salat.

Meskipun salat dilaksanakan di tempat darurat, para jamaah memenuhi lokasi salat tersebut. Lantunan takbir "Allohu Akbar" menggema di seluruh Gaza yang luluh lantak, mengalun di tengah kehancuran besar akibat serangan dari Israel. Mereka tetap melaksanakan salat dengan penuh khidmat, meskipun berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Suasana duka pun turut menyelimuti warga Gaza pada hari pertama Idul Fitri, dikarenakan ribuan keluarga telah kehilangan orang-orang tercinta maupun tempat tinggal mereka akibat konflik yang terjadi selama ini.

Lebih miris lagi, warga yang tinggal dekat dengan Masjid Al-Aqsha dilarang oleh Zionis untuk melaksanakan salat Idul Fitri di tempat suci tersebut. Bahkan Zionis secara sadar menembakkan gas air mata ke arah warga usai menutup paksa akses masjid. Akibatnya, jamaah melaksanakan salat Idul Fitri di jalan-jalan sekitar (Metro TV, 23/03/2026).

Idul Fitri tahun ini hadir di tengah situasi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan di Gaza. Blokade masih terus dilakukan oleh Zionis, krisis pengungsian semakin hari semakin memburuk, dan ratusan warga Palestina masih berusaha bertahan hidup di tempat penampungan ataupun tenda-tenda darurat, dengan kekurangan pangan, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya.

Duka nestapa tak berujung yang menimpa rakyat Gaza kini semakin lama tidak terdengar, entah karena ada peran dari kekuatan politik di dalamnya yang mempengaruhi kita, atau bahkan kita yang sudah mulai bosan bersuara tentang Gaza. Padahal di sana saudara-saudara kita masih mengalami penindasan yang sangat kejam dan tak henti-henti.

Terlebih lagi dengan kehadiran BoP (Board of Peace) bentukan AS yang digadang-gadang mampu menjadi simbol perdamaian, pada faktanya tidak menghasilkan kedamaian apapun bagi warga Gaza. Sebaliknya, kehadiran BoP lebih menguntungkan Israel.

Ditambah lagi, penyerangan Iran terhadap AS memberikan tanda babak baru bagi peperangan ini. Mirisnya, negara-negara Arab justru bersatu dengan AS untuk memerangi Iran, sehingga tentu saja berakibat pada nestapa Gaza yang nyaris dilupakan.

Oleh karena itu, Idul Fitri dalam kondisi mengenaskan ini seharusnya bisa dirasakan oleh seluruh kaum Muslimin, karena penderitaan Gaza diibaratkan sebagai bagian dari satu tubuh.

Karena Nabi ﷺ telah bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
"Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut merasakan sakitnya." (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)

Oleh karena itu, kita tidak dapat bernapas lega ketika AS memberikan perhatian kepada negara saudara kita, yakni Palestina. Karena pada kenyataannya, nasib perdamaian dan kemerdekaan Palestina hingga saat ini tampaknya belum menjadi prioritas utama bagi AS dan Israel. Kedua negara tersebut cenderung lebih menitikberatkan perhatian dan kebijakan mereka dalam upaya mempertahankan dan memperluas pengaruh serta hegemoni kekuasaan di kancah internasional.

Bahkan dalam berbagai langkah politik dan strategi yang diambil, dominasi kepentingan dan kontrol internasional terlihat lebih diutamakan dibandingkan upaya nyata untuk mewujudkan keadilan, perdamaian, dan kemerdekaan bagi rakyat Palestina. Sehingga mengharapkan solusi yang datang dari Barat sama dengan ilusi yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Al-Qur'an mengajarkan kepada umat Islam agar senantiasa menumbuhkan rasa kasih sayang, sikap kelembutan, dan mempererat tali persaudaraan di antara sesama Muslim, sehingga akan tercipta hubungan yang harmonis, saling mendukung, dan penuh kepedulian dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, nilai tersebut akan menjadi fondasi yang kuat dan kokoh dalam membangun ukhuwah Islamiyah, sebagai pengikat bagi umat Islam di seluruh dunia untuk membebaskan penderitaan saudara sesama Muslim.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَاتِلُوا الَّذِيْنَ يَلُوْنَكُمْ مِّنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوْا فِيْكُمْ غِلْظَةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir di sekitarmu dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (Q.S. At-Taubah: 123)

Berdasarkan ayat tersebut, telah dijelaskan bahwa umat Islam dituntut untuk berjihad dan bersikap tegas serta menolak tunduk terhadap orang-orang kafir yang memusuhi atau menentang kebenaran. Sikap tegas ini bukan berarti berlaku zalim ataupun tanpa keadilan, tetapi menunjukkan keteguhan sebuah prinsip, keberanian dalam mempertahankan kebenaran, serta tidak mudah terpengaruh oleh tekanan atau ancaman dari pihak luar manapun.

Oleh karena itu, ajaran ini telah menyeimbangkan antara kelembutan dalam internal umat dan juga ketegasan dalam menjaga keyakinan serta kehormatan agama. Namun, semua ini tak hanya terbatas pada saudara sesama Muslim yang senegara saja, melainkan juga mencakup saudara semuslim di seluruh dunia.

Ukhuwah Islamiyah akan menjadi pengikat yang kuat bagi umat Islam di seluruh dunia, menyatukan hati, pemikiran, dan langkah dalam satu tujuan mulia. Ikatan persaudaraan ini tidak hanya mengenal batas negara, suku, maupun bahasa, melainkan berdiri di atas dasar keimanan yang sama, yaitu kepada Allah ﷻ.

Dengan adanya ukhuwah Islamiyah, setiap Muslim akan merasakan penderitaan saudaranya sebagai penderitaannya sendiri, dan setiap kebahagiaan saudaranya sebagai kebahagiaannya juga. Oleh karena itu, semangat persaudaraan ini akan mendorong umat Islam untuk saling membantu melalui doa, dukungan moral, maupun tindakan nyata yang mampu membawa kebaikan dan keadilan.

Oleh sebab itu, Palestina hanya akan terbebas dari segala penjajahan Israel melalui tindakan nyata, yaitu dengan cara seluruh umat Islam harus bersatu dalam iman, saling menguatkan, dan dipimpin dengan prinsip keadilan, amanah, serta berlandaskan ajaran Islam. Maka upaya untuk mewujudkan kebaikan dan melindungi umat dari berbagai penindasan dan penjajahan akan menjadi lebih efektif.

Karenanya, jihad akan mencapai kesempurnaan hanya ketika seluruh negeri Muslim bersatu di bawah kepemimpinan khilafah, di mana setiap aturan dan keputusan berpijak pada kehendak Allah ﷻ, Sang Maha Mengetahui segala yang terbaik bagi umat-Nya.

Wallahua'lam bisshawab

Posting Komentar

0 Komentar