
Oleh: Nurmaila Sari
Penulis Lepas
Sungguh ironis saat pelajar justru terjerumus menjadi pengedar narkoba. Ketika masa depan bangsa mulai rusak sejak dini, masih adakah harapan yang tersisa?
Fenomena ini bukan sekadar kekhawatiran. Dilansir dari Detik.com (2 April 2026), polisi menangkap dua warga di Bima yang terlibat dalam peredaran sabu. Salah satu pelaku bahkan masih berstatus pelajar.
Kasus ini menunjukkan bahwa peredaran narkoba telah merambah hingga ke kalangan remaja. Barang bukti yang ditemukan di sekitar tempat tinggal pelaku menguatkan bahwa praktik ini berlangsung dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ini bukan lagi ancaman dari tempat jauh, melainkan realitas yang ada di sekitar kita.
Fakta tersebut menjadi sinyal bahaya, bukan hanya bagi dunia pendidikan, tetapi juga bagi masa depan generasi muda. Fenomena ini tentu tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada faktor-faktor yang saling berkaitan dan melatarbelakanginya.
Salah satu pemicu utama adalah melemahnya nilai moral dan spiritual dalam kehidupan pelajar, baik di lingkungan keluarga maupun pendidikan. Kondisi ini diperparah oleh pola hidup materialistis yang mengukur keberhasilan semata dari aspek materi.
Dalam sistem yang menitikberatkan pada pencapaian materi, pembentukan karakter sering kali terabaikan. Penjagaan akal pun tidak lagi menjadi prioritas. Akibatnya, pelajar kehilangan arah dalam menentukan batas benar dan salah.
Di sisi lain, lemahnya sistem pendidikan dan penegakan hukum turut memperburuk keadaan. Minimnya pengawasan serta sanksi yang tidak memberikan efek jera membuat pelajar semakin rentan terjerumus ke dalam aktivitas melanggar hukum.
Karena itu, persoalan ini tidak bisa dipandang sebagai kesalahan individu semata. Pelajar yang terlibat hanyalah bagian kecil dari persoalan yang lebih besar dan bersifat sistemik.
Ada kegagalan kolektif. Keluarga, masyarakat, hingga negara memiliki andil dalam menciptakan kondisi ini. Ketika lingkungan menjadi permisif terhadap kemaksiatan dan kontrol sosial melemah, pelajar menjadi pihak yang paling rentan terseret arus.
Lebih jauh, arus globalisasi dan kemajuan teknologi tanpa filter nilai memperparah keadaan. Informasi yang mudah diakses tidak selalu membawa kebaikan, bahkan sering membuka jalan bagi masuknya gaya hidup bebas yang bertentangan dengan nilai moral dan agama.
Dalam kondisi seperti ini, pelajar yang tidak memiliki fondasi akidah yang kuat akan mudah kehilangan arah. Mereka cenderung mencari pelarian instan, termasuk melalui jalan menyimpang seperti penyalahgunaan dan peredaran narkoba.
Ironisnya, upaya pencegahan masih bersifat reaktif. Penindakan dilakukan setelah kasus mencuat, bukan sebelum masalah terjadi. Pembinaan berkelanjutan pun minim. Padahal, yang dibutuhkan bukan sekadar hukuman, melainkan sistem yang mampu menutup celah sejak awal.
Pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif tanpa membentuk kepribadian yang kokoh jelas tidak memadai, terlebih di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan upaya menyeluruh yang melibatkan semua pihak.
Dalam hal ini, Islam menawarkan solusi komprehensif. Sistem pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan akidah, akhlak, dan kepribadian. Melalui pendidikan Islam, generasi diarahkan menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kontrol diri serta tanggung jawab moral yang kuat.
Peran keluarga pun sangat penting. Orang tua harus bersungguh-sungguh dalam mendampingi anak. Penanaman nilai-nilai keislaman harus dilakukan sejak dini, tidak cukup dengan nasihat, tetapi juga melalui keteladanan.
Masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang kondusif melalui penjagaan pergaulan serta penerapan amar makruf nahi munkar.
Di sisi lain, negara harus hadir secara tegas. Penegakan hukum terhadap pelaku penyalahgunaan narkoba harus dilakukan secara konsisten. Baik pengedar maupun pengguna perlu ditindak untuk memberikan efek jera sekaligus melindungi generasi muda.
Hal ini sejalan dengan firman Allah ﷻ dalam Al-Qur'an surah At-Tahrim ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
Ayat ini menegaskan pentingnya peran individu dan keluarga dalam menjaga generasi dari kehancuran. Masa depan bangsa seharusnya berada di tangan generasi muda yang berakhlak dan berintegritas, bukan yang terjerat dalam lingkaran narkoba. Jika kondisi ini terus dibiarkan, harapan itu akan perlahan sirna.
Oleh karena itu, penerapan nilai-nilai Islam bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Inilah kunci untuk membangun generasi yang kuat, bersih, dan bertanggung jawab.
Lebih dari itu, persoalan ini harus menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh elemen bangsa. Diamnya kita hari ini bisa menjadi penyesalan di masa depan. Jika generasi muda dibiarkan tanpa arah dan perlindungan yang memadai, yang dipertaruhkan bukan hanya individu, tetapi keberlangsungan bangsa itu sendiri.
Sudah saatnya semua pihak bergerak bersama, bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang terukur dan berkelanjutan. Tanpa langkah serius dan terarah, fenomena pelajar menjadi pengedar narkoba akan terus berulang, bahkan dalam skala yang lebih luas dan mengkhawatirkan.

0 Komentar