
Oleh: Anis
Pegiat Literasi
Miris mendengar kabar dari Kabupaten Lahat. Judol (judi online) telah dijadikan sandaran untuk meraih kepuasan materi, sehingga akhlak seorang anak terhadap orangtuanya luntur. Bahkan kata-kata tentang “surga di bawah telapak kaki ibu” seakan sudah tidak lagi dihargai.
Warga Desa Karang Dalam, Kecamatan Pulau Pinang, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, digegerkan oleh terungkapnya kasus pembunuhan sadis yang dilakukan seorang anak terhadap ibu kandungnya sendiri.
“Adanya bau menyengat di sekitar rumah korban. Kemudian masyarakat beserta Polri melakukan penyisiran dan mendapati karung berisi potongan tubuh manusia,” ujar Kapolres Lahat, AKBP Novi Ediyanto, di Lahat (MetroTV News, 09/042026).
Kejadian ini menjadi cerminan bagaimana hilangnya pondasi iman dan akhlak sejak dini dapat memicu tragedi. Di zaman modern ini, orangtua bukan lagi dimintai doanya, melainkan uangnya. Minimnya pengetahuan agama pada anak, ditambah teknologi yang mudah diakses, membuat peluang kejahatan dan keburukan semakin mudah diulang. Bagi sebagian orang, ini hanyalah berita, tetapi bagi masyarakat yang memperhatikan moral, ini adalah derita yang menyengsarakan.
Problem ini sebenarnya dapat diperbaiki jika masyarakat mau merubah aturan dari sistem kapitalis menuju aturan Islam. Banyak kejadian bukan semata-mata ulah individu, tetapi juga ada peran sistem dan teknologi yang tidak diarahkan sesuai nilai agama. Aplikasi judol, pinjol, atau platform lain yang memicu kejahatan seharusnya tidak dibiarkan aktif lebih dari 24, namun harus segera ditindak.
Di era digital saat ini, hampir semua bisa dilakukan hanya dengan gerakan jari. Namun, pertanyaan utamanya adalah: bagaimana tujuan hidup kita di hadapan Allah ﷻ?
Dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56, Allah ﷻ berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Ibadah seharusnya menjadi tujuan utama hidup manusia. Namun, dalam sistem negara kapitalis dan sekuler, ibadah sering hanya menjadi ritual atau hiburan semata, sementara dunia dijadikan tempat meraih materi, bukan ridha Allah.
Dalam Islam, kebenaran (haq) milik Allah. Aturan-Nya, termaktub dalam Al-Qur’an, menjadi pedoman agar manusia tidak tersesat. Allah ﷻ berfirman:
وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ الْحَقِّۗ
“Kami telah menurunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab sebelumnya, dan sebagai hakim terhadap kitab-kitab yang lain. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al-Maidah: 48)
Hingga saat ini, Al-Qur’an belum dijadikan pedoman utama dalam kehidupan bernegara. Padahal, Surah Al-Maidah ayat 48 menegaskan bahwa segala perkara harus diputuskan berdasarkan wahyu Allah. Sayangnya, yang berlaku kini adalah hukum buatan manusia, bukan kebenaran sejati, sehingga hanya menjadi pembenaran semata.
Inilah potret zaman di mana teknologi digunakan untuk kejahatan, menjadikan peradaban tak beradab. Wahai Muslim, kembalilah dan renungkanlah: dunia ini sementara, kehidupan kekal ada di akhirat. Setiap langkah kita di bumi akan menjadi saksi bagi amal yang menjadi bekal di sana.
Wallahu a‘lam bish-shawab.

0 Komentar