KENAIKAN BBM IMBAS GEJOLAK GLOBAL


Oleh: Ummu Zaid
Penulis Lepas

BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan, namun BBM nonsubsidi justru naik (Kompas, 09/04/2026). Di beberapa daerah, masyarakat harus antre berjam-jam untuk mendapatkan BBM, atau membeli dalam jumlah sedikit dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Kapal tanker Pertamina masih tertahan di Selat Hormuz, dan meskipun APBN menambah subsidi BBM karena kenaikan harga minyak global, subsidi tersebut tidak bertahan lama, hanya beberapa minggu saja. Sebagai respons, pemerintah pun mengambil berbagai langkah penghematan, seperti menerapkan sistem WFH, membatasi pembelian BBM untuk kendaraan roda empat, mengurangi jumlah hari untuk MBG, dan sebagainya.

Pemerintah kini berada dalam dilema besar. Jika harga BBM dinaikkan, inflasi akan melonjak dan gejolak sosial pun tak terhindarkan. Bahkan sebelum kenaikan harga, antrean panjang sudah terjadi di beberapa tempat. Namun, jika tidak dinaikkan, defisit APBN akan semakin besar. Indonesia sebagai net importir minyak sangat bergantung pada pasokan BBM dari luar negeri.

Ketegangan pasar minyak dunia semakin menyulitkan masyarakat, baik dalam memperoleh BBM maupun dalam menghadapi kenaikan harga BBM. Kenaikan inflasi pun menjadi ancaman yang semakin nyata. Inilah gambaran sebuah negeri yang sangat bergantung pada impor komoditas strategis, seperti BBM. Ekonomi dan politik negeri ini kerap terguncang akibat sentimen global.

Kemandirian BBM hanya bisa terwujud jika Indonesia tergabung dalam khilafah bersama negara-negara Muslim lainnya. Sumber energi, khususnya minyak, yang melimpah di negara-negara Arab dan Iran, akan dimanfaatkan dan dibagikan ke seluruh wilayah khilafah. Dengan kedaulatan energi ini, khilafah akan menjadi negara yang independen dan adidaya.

Hal ini akan membawa dampak positif bagi politik dan ekonomi, dan khilafah tidak akan mudah terguncang oleh gejolak global, seperti perang antara AS, Israel, dan Iran. Meski memiliki kemandirian BBM, khilafah tetap akan menggunakan energi tersebut dengan penuh tanggung jawab, sesuai dengan kebutuhan dan prinsip syariat.

Penggunaan energi akan dilakukan dengan prinsip hemat, terutama untuk sektor-sektor yang memiliki cadangan terbatas. Di sisi lain, untuk sektor layanan publik dan kewajiban jihad, khilafah akan terus mengembangkan sumber energi alternatif, seperti energi nuklir. Khilafah akan memastikan bahwa kebutuhan energi rakyat selalu terpenuhi, karena ini adalah tanggung jawab utama khilafah sebagai negara yang adidaya.

Politik energi khilafah berfokus pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri, termasuk rakyat daulah. Negara, yang diperintahkan oleh Allah ﷻ untuk mengelola energi sebagai kepemilikan umum, akan menggunakan energi sesuai dengan hukum syara'. Oleh karena itu, di khilafah, tidak akan ada kelangkaan, kenaikan harga BBM, atau perbedaan pembagian subsidi antara yang kaya dan miskin.

BBM akan digunakan untuk kepentingan seluruh rakyat, tanpa kecuali. Islam telah memberikan keadilan dan pemerataan dalam hal pengelolaan energi. Jika umat Islam menerapkan sistem ekonomi Islam yang syar'i, gejolak energi seperti ini tidak akan terjadi. Dengan demikian, rakyat dapat lebih fokus beribadah kepada Allah ﷻ.

Semua ini hanya dapat terwujud jika umat Islam mau menerapkan Islam Kaffah dalam kehidupan mereka sehari-hari, dalam tatanan individu, masyarakat, dan bangsa. Khilafah akan menciptakan suasana ketakwaan bagi individu, kontrol sosial bagi masyarakat, dan negara khilafah akan menjadi pelindung rakyat dalam daulah. Saatnya umat Islam meninggalkan sistem Kapitalisme buatan manusia yang terbukti memberikan kehinaan dan kesengsaraan di dunia dan akhirat.

Allah ﷻ berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
"Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian bagi kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantaramu, Kami berikan aturan (syariat) dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya itu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu." (QS. Al Maidah:48)

Posting Komentar

0 Komentar