
Oleh: Alpa Dilla, S.Sos
Penulis Lepas
Lebih dari 2,4 juta warga Palestina di Jalur Gaza merayakan hari raya Idul Fitri pada hari Jumat dalam keadaan krisis kemanusiaan yang parah, dengan pembatasan dan penjagaan ketat yang dilakukan Zionis Yahudi. Kehancuran infrastruktur, serta kekurangan pangan, air bersih, dan obat-obatan makin memperburuk kondisi. Kantor Media Pemerintah Gaza menyampaikan bahwa hari raya tahun ini berlangsung tanpa sukacita karena sebagian besar keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Lembaga tersebut mencatat, pasukan Zionis Yahudi telah melakukan lebih dari 2.000 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata sejak Oktober 2025. Pelanggaran itu berupa penembakan, serangan darat, dan serangan udara yang telah menewaskan 677 warga Palestina serta melukai lebih dari 1.800 lainnya, sebagian besar warga sipil (The Guardian, 23/03/2026).
Pengiriman bantuan kemanusiaan juga sangat terhambat. Hanya sekitar 40 persen dari jumlah truk bantuan yang diharapkan dapat masuk ke Gaza. Sementara itu, akses keluar-masuk melalui penyeberangan Rafah masih dibatasi secara ketat, sehingga makin memperparah isolasi warga di wilayah tersebut.
Pasukan penjajah Zionis Yahudi pada Jumat memperketat pembatasan masuk warga Muslim Palestina ke Masjid Ibrahimi di kota Hebron. Sumber-sumber setempat mengatakan, pasukan penjajah memberlakukan pembatasan yang lebih ketat di sekitar masjid, mencegah ribuan jamaah Palestina memasuki masjid untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri. Mereka menambahkan, hanya 50 jamaah yang diizinkan memasuki masjid, sementara sisanya terpaksa melaksanakan shalat di luar ruangan (Mina News, 21/03/2026).
Hari raya Idul Fitri, yang seharusnya disambut dengan bahagia oleh setiap Muslim, berbeda yang dirasakan warga Gaza. Untuk memenuhi kebutuhan hidup saja sulit karena isolasi bantuan, belum lagi pembatasan aktivitas yang selalu diawasi Zionis Yahudi. Derita warga Gaza makin terlupakan ketika Amerika Serikat dan Zionis Yahudi fokus memerangi Iran.
Dunia saat ini tidak lagi memperhatikan warga Palestina, tetapi penyerangan terhadap Palestina tetap dilakukan. Baru-baru ini, kita menyaksikan pembatasan shalat Idul Fitri di Masjid Al-Aqsa, masjid suci kaum Muslim, dengan alasan serangan AS terhadap Iran. Hal ini menjadi faktor utama penutupan masjid. Belum lagi bantuan yang tidak bisa masuk karena akses ditutup oleh Israel dengan alasan konflik antara Iran dan Amerika (Mina News, 07/04/2026).
Konflik yang terjadi antara Iran dan AS membuat Gaza makin terlupakan. Di sisi lain, negara-negara Teluk justru bersekutu dengan negara-negara kafir dalam memerangi Iran, sementara kezoliman terhadap Gaza tetap mereka lakukan. Salah satunya, mereka menutup Masjid Al-Aqsa dengan alasan adanya konflik dengan Iran. Konflik saat ini tidak terlepas dari peran serta AS, yang sebagai negeri adidaya ingin menunjukkan kekuasaannya kepada dunia.
Tujuan lain AS adalah meneguhkan dominasi mereka di Timur Tengah, terutama melindungi posisi Israel. Tidak hanya itu, AS juga ingin menunjukkan persenjataan nuklirnya kepada dunia dan memastikan tidak ada yang lebih unggul dari AS. Perdamaian dan kemerdekaan Palestina bukan menjadi prioritas saat ini; AS dan Zionis Yahudi hanya fokus pada hegemoni kekuasaannya di dunia.
Dalam Al-Quran, Surat Al-Fath menggambarkan bagaimana sikap Muhammad sebagai suri teladan kita sangat jelas dan tegas terhadap kaum kafir, sementara terhadap kaum mukmin beliau bersikap kasih sayang. Ukhuwah Islamiyah menjadi pengikat umat Islam di seluruh dunia untuk membebaskan penderitaan saudara sesama Muslim. Allah memerintahkan mukmin untuk berjihad (At-Taubah: 123). Jihad hanya akan sempurna jika negeri Muslim bersatu di bawah kepemimpinan yang satu, yaitu berdasarkan syariat Islam.

0 Komentar