KUNCI PENYELESAIAN PERSOALAN GENERASI, BUKAN SEKADAR PERINGATAN


Oleh: Nora Afrilia, S.Pd.
Aktivis Muslimah dan Guru

Perayaan demi perayaan senantiasa diadakan di negeri ini, tak terkecuali dalam dunia formal pendidikan. Namun, yakinkah kita bahwa perayaan tersebut merupakan bentuk azzam atau komitmen kuat untuk mewujudkan cita-cita? Ataukah sekadar basa-basi yang menghabiskan anggaran tanpa adanya komitmen perubahan nyata bagi bangsa?

Kita telah memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Sabtu, 2 Mei 2026. Tema tahun ini adalah "Menguatkan Partisipasi Semesta untuk Mewujudkan Pendidikan yang Bermutu untuk Semua". Tema tersebut menekankan adanya upaya kolektif dari berbagai pihak untuk menyukseskan dunia pendidikan, terutama terkait revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, dan kesejahteraan guru.

Namun, kabar tak sedap senantiasa terdengar dari dunia pendidikan. Berita mengenai kriminalitas, penganiayaan, hingga narkoba seolah berseliweran tiada henti. Contohnya, kasus tragis yang menimpa seorang pelajar di Jalan Banyu Urip, Caturharjo, Pandak, Kabupaten Bantul yang tewas karena dikeroyok dan dilindas (Kumparan, 21/04/2026). Di Parung Panjang, Bogor, tiga orang pelajar SMA juga menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal hingga mengalami kerusakan parah pada wajahnya (Detik, 28/04/2026).

Selain kekerasan, terungkap pula praktik joki Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Untuk memperlancar aksinya, pelaku menggunakan identitas palsu berupa KTP dan ijazah (Kompas, 22/04/2026).


Sistem yang Rusak Tak Mampu Menjaga Marwah Pendidikan

Aturan hidup saat ini yang didominasi sistem demokrasi sekuler cenderung memisahkan aturan Tuhan dari kehidupan publik. Akibatnya, pengaturan pemerintahan, ekonomi, hingga pendidikan sepenuhnya diserahkan pada akal manusia yang terbatas.

Kebijakan pendidikan yang lahir dari sistem ini seolah tak mampu mencapai penyelesaian tuntas. Meskipun teknologi berkembang pesat, output pendidikan belum mencapai tujuan terbaik, terutama dalam membentuk pribadi yang berguna bagi bangsa dan agama. Sekularisme menciptakan jarak antara masalah dan solusi. Ketika siswa marak melakukan perundungan (bullying), bunuh diri, hingga bersikap tidak sopan kepada guru, maka diperlukan landasan keyakinan yang paripurna, yakni aturan Islam, untuk membenahinya.

Sistem saat ini sering kali menyelesaikan masalah hanya melalui seremonial yang menghabiskan anggaran. Padahal, diperlukan istiqamah dan tekad kuat untuk mengubah kondisi negeri yang tengah didera persoalan ekonomi yang anjlok, pendidikan yang hanya mengejar nilai dan gelar, serta persoalan buruh yang kian menyesakkan.


Kebangkitan Pendidikan Melalui Aturan yang Baik

Pendidikan tidak hanya berbicara soal output, tetapi perangkat utamanya jauh lebih penting. Kurikulum pendidikan terbaik harus segera ditemukan. Merujuk pada sejarah, Nabi Muhammad ï·º dan Khulafaur Rasyidin telah menggunakan akidah Islam sebagai landasan kurikulum. Kurikulum ini mengedepankan bahwa belajar adalah untuk mendapatkan rida Sang Khaliq, bukan pujian manusia. Dengan demikian, setiap materi pembelajaran diarahkan agar membuahkan pahala dan keberkahan.

Peran sekolah memang penting, namun bukan satu-satunya. Penguasa, orang tua, dan masyarakat harus bersinergi mengarahkan generasi pada kebaikan. Orang tua bertanggung jawab atas moral anak, sementara masyarakat dan negara turut membenahi lingkungan. Dalam jiwa setiap Muslim, tertanam prinsip persaudaraan; ketika saudara sesama Muslim berbuat salah, kita memiliki andil untuk menasihatinya.

Tentu hal tersebut akan menjadi impian belaka jika tidak dimulai dari sekarang. Mulailah dengan memperdalam pemahaman dan mendekatkan diri kepada Allah agar sistem yang baik segera hadir di negeri ini. Perlu dicatat, kita tidak bisa memperbaiki pendidikan hanya dengan membenahi bidang pendidikan semata. Perlu pembenahan sistemik pada bagian pemerintahan, ekonomi, dan sosial yang mengacu pada Al-Qur'an dan Sunnah.

Inilah cara nyata untuk memperjuangkan warisan Nabi Muhammad ï·º agar kita senantiasa mendapatkan rahmat serta berkah dari Allah ï·», baik di dunia maupun di akhirat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar