
Oleh: Niqi Carrera
Penulis Lepas
Ada fase yang lebih mengerikan dari perang panjang: ketika dunia mulai terbiasa melihatnya. Dulu, nama Gaza memenuhi layar media sosial. Orang-orang ramai mengunggah doa, boikot, dan video kehancuran yang membuat dada sesak. Namun hari ini, perlahan suasana berubah. Timeline berganti topik. Perhatian berpindah. Dunia mulai sibuk dengan isu baru. Sementara di Palestina, bom masih jatuh, darah masih mengalir, dan anak-anak masih kehilangan anggota tubuhnya.
Inilah yang paling berbahaya dari tragedi kemanusiaan yang berlangsung lama: normalisasi penderitaan. Ketika pembantaian terjadi setiap hari, manusia perlahan kehilangan sensitivitasnya. Yang dulu terasa mengerikan, kini hanya lewat sekilas di beranda lalu tenggelam di antara konten hiburan dan tren baru. Gaza belum terselesaikan secara tuntas, tetapi perhatian dunia sudah lebih dulu berpaling.
Padahal, fakta di lapangan justru makin mengerikan. Jumlah korban sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai puluhan ribu jiwa. Lebih dari 72 ribu orang tewas dan ratusan ribu lainnya terluka. Banyak anak Palestina harus hidup tanpa kaki, tanpa tangan, bahkan tanpa keluarga. Gaza kini menjadi salah satu wilayah dengan jumlah amputasi anak tertinggi akibat perang modern. Anak-anak yang seharusnya belajar berjalan, kini belajar bertahan hidup dengan tubuh yang tidak lagi utuh.
Namun, kekejaman itu ternyata belum cukup. Dehumanisasi yang dilakukan Zionis bahkan melampaui batas kemanusiaan paling dasar. Yang hidup dibunuh. Yang mati pun tidak dibiarkan tenang. Jenazah warga Palestina dilaporkan tidak boleh dikuburkan di tanahnya sendiri, bahkan ada makam yang dibongkar dan dipindahkan. Ini bukan lagi sekadar perang wilayah. Ini adalah upaya sistematis menghapus identitas, sejarah, dan keberadaan sebuah bangsa.
Yang lebih ironis, ketika semua ini terjadi terang-terangan, dunia internasional tetap gagal menghentikannya. Gencatan senjata diumumkan, tetapi serangan terus berjalan. Wilayah pendudukan justru makin luas. Zionis bahkan menyiapkan operasi baru untuk memperbesar kontrol mereka atas Gaza. Seolah setiap kesepakatan damai hanyalah jeda teknis sebelum serangan berikutnya dimulai.
Media juga menjadi target. Gaza kini disebut sebagai tempat paling mematikan bagi jurnalis di dunia. Lebih dari 300 jurnalis tewas sejak perang meledak. Ini angka yang sangat besar dan sulit dianggap kebetulan. Ketika jurnalis dibungkam, maka dunia kehilangan mata untuk melihat kejahatan yang terjadi. Pembantaian menjadi lebih mudah dilakukan ketika saksi-saksinya dihabisi satu per satu.
Di sinilah mulai terlihat bahwa yang terjadi di Palestina bukan konflik biasa antara dua pihak setara. Ada kekuatan militer besar dengan dukungan politik, ekonomi, dan senjata dari negara-negara kuat dunia. Ada perlindungan diplomatik yang membuat pelanggaran demi pelanggaran tetap bisa berlangsung tanpa konsekuensi serius. Dan di sisi lain, ada rakyat sipil yang hidup di bawah blokade, kehilangan rumah, kehilangan keluarga, bahkan kehilangan hak paling dasar untuk hidup aman di tanah sendiri.
Lalu pertanyaannya, kenapa dunia Islam terlihat begitu lemah menghadapi semua ini?
Padahal, negeri-negeri muslim jumlahnya puluhan. Populasinya besar. Sumber daya alamnya melimpah. Militernya tidak kecil. Namun, ketika Palestina dihancurkan, respons yang muncul lebih banyak berupa pernyataan, konferensi, atau bantuan kemanusiaan. Semua itu penting, tetapi tidak menyentuh akar masalah. Gaza tidak dibombardir karena kekurangan mi instan atau tenda pengungsian. Gaza dihancurkan karena ada penjajahan yang terus dipelihara.
Masalah utamanya bukan sekadar perang, tetapi keberadaan entitas penjajah di tanah Palestina. Selama akar ini tidak dicabut, maka genosida hanya akan berganti bentuk dan waktu. Hari ini gencatan senjata, besok penyerangan lagi. Hari ini bantuan masuk, besok blokade diperketat lagi. Siklus itu terus berulang karena sumber masalahnya tetap dibiarkan berdiri.
Sayangnya, dunia Islam hari ini terpecah oleh nasionalisme. Setiap negeri sibuk dengan batas wilayah dan kepentingannya sendiri. Ukhuwah islamiah yang dulu menyatukan umat perlahan terkikis oleh identitas negara-bangsa modern. Akibatnya, penderitaan Palestina sering dianggap sebagai “urusan Palestina”, bukan urusan seluruh kaum muslim.
Padahal, dalam sejarah Islam, Palestina bukan sekadar wilayah geografis. Ia bagian dari tanah kaum muslim yang penjagaannya menjadi tanggung jawab bersama. Dulu, ketika satu wilayah muslim diserang, respons umat tidak berhenti pada kecaman moral. Ada kekuatan politik dan militer yang benar-benar bergerak melindungi kaum muslim.
Karena itu, pembebasan Palestina tidak cukup hanya dengan simpati atau kampanye media sosial. Ia membutuhkan persatuan politik umat yang nyata. Dalam konstruksi Islam, persatuan itu tidak berdiri di atas nasionalisme, tetapi di atas akidah yang menyatukan kaum muslim lintas bangsa dan bahasa. Dari sinilah muncul konsep kepemimpinan tunggal umat yang mampu menggerakkan kekuatan dunia Islam secara kolektif.
Khilafah dalam pandangan ini bukan sekadar simbol sejarah, tetapi institusi pemersatu umat yang memiliki fungsi ri'ayah dan perlindungan. Dengan persatuan tersebut, kekuatan militer negeri-negeri muslim tidak lagi tercerai-berai, tetapi bergerak dalam satu arah untuk menghentikan penjajahan dan mengembalikan Palestina kepada pemiliknya.
Sebab, jika umat terus terpecah, maka tragedi Gaza akan terus berulang. Dunia akan terus mengutuk, media akan terus menyiarkan tangisan anak-anak Palestina, lalu perlahan melupakannya lagi ketika isu baru datang.
Dan mungkin itulah kemenangan terbesar Zionis hari ini: bukan hanya menghancurkan Gaza, tetapi membuat dunia terbiasa melihat kehancurannya.

0 Komentar