
Oleh: Irma Hidayati, S.Pd.
Pegiat Dakwah
Miris, ibarat macan ompong. Peribahasa ini layak disematkan pada lembaga perdamaian dunia, BOP. Lembaga bentukan Trump ini dan beranggotakan beberapa negara lainnya tak punya nyali menghentikan kejahatan Israel. Mereka terus melanggar gencatan senjata. Tetap saja menyerang para pemuda, wanita, anak-anak, tenaga kesehatan, bahkan jurnalis.
Saat ini warga Gaza menjadi proyek dehumanisasi oleh Zionis. Kejadian ini tidak hanya menimpa manusia yang hidup, namun jenazah yang terkubur di tanah. Mereka melakukan pembantaian terus-menerus sehingga Gaza luluh lantak. Orang asli Gaza diusir bahkan dibunuh, termasuk anak-anak dan para wanita. Bagi warga Gaza yang sudah wafat tidak boleh dikubur di tanahnya sendiri, bahkan yang sudah terkubur harus dibongkar. Sungguh biadab tindakan kriminal kaum terlaknat ini.
Sebaliknya, derita umat Islam di dunia belumlah hilang, khususnya warga Gaza menjadi lebih merana. Mereka berjuang sendiri, tanpa ada kekuatan besar yang mampu menandingi kekejaman kaum Zionis.
Wilayah yang berhasil dikuasai Zionis semakin meluas. Mereka merambah daerah di Tepi Barat. Sebelum gencatan senjata, Israel telah menguasai 53 persen wilayah Jalur Gaza. Di tengah masa gencatan senjata mereka tetap menyerang hingga lebih 60 persen dikuasainya (CNN Indonesia, 15/05/2026).
Selanjutnya, para penjahat peradaban ini menyiapkan strategi serangan baru guna memperluas daerah pendudukan atas Palestina. Militer mereka yang telah menyelesaikan perang di Libanon Selatan dan akan mengerahkan brigade ke Gaza melakukan penyerangan berikutnya.
Penjaga Kemuliaan Palestina
Sekarang para pembela Palestina, khususnya para jurnalis, semakin banyak yang syahid. Lebih dari 300 jurnalis tewas sejak 7 Oktober 2023. Mereka menghibahkan jiwa, harta, dan pikirannya untuk memberitakan kekejaman Zionis kepada dunia. Huru-hara dunia lambat laun menggeser berita tentang Gaza. Gonjang-ganjing perang AS-Israel dengan Iran salah satunya. Menyebabkan Zionis diam-diam melanjutkan aksi dehumanisasi warga Gaza. Lagi-lagi aksinya diketahui oleh para jurnalis. Tak ayal, para jurnalis, merekalah yang akan dibidik dan dibungkam supaya derita Gaza terkubur dalam-dalam tanpa dunia mengetahui dan membelanya.
Jumlah masyarakat yang menjadi korban di Gaza sejak badai Taufan meletus mencapai 72.736 orang tewas dan 172.535 orang luka-luka. Belum lagi banyak anak Palestina yang diamputasi akibat menjadi korban perang.
Israel Mengkhianati Perjanjian Gencatan Senjata
Kebijakan Trump, Presiden AS, mendirikan dewan perdamaian tidaklah terwujud. BOP diharapkan menjadi jembatan agar tercipta perdamaian di Gaza. Tetapi, faktanya BOP hanya sebagai alat kapitalisme global yang mengarah pada kepentingan Barat dan Zionis. BOP bukanlah mediator netral, tetapi alat perpanjangan entitas Zionis yang dilindungi AS.
AS memberikan banyak bantuan dana dan senjata kepada Zionis untuk memperluas pendudukannya, serta melanjutkan genosida berantai kepada anak-anak dan wanita, sekaligus menargetkan pembunuhan para jurnalis agar dunia tidak mengetahui kebiadaban mereka.
Umat Islam di seluruh dunia wajib bersuara atas dehumanisasi ini. Umat Islam harus menuntut kepada para pemimpin mereka agar membela dan mengirimkan pasukan militer untuk melawan agresi Zionis, supaya Gaza terbebas secara fisik dan mental.
Islam Solusi Terbaik bagi Warga Gaza
Islam ajaran sempurna paripurna telah memberikan solusi terbaiknya. Solusi Gaza bukan gencatan senjata dan diplomasi, tetapi diperlukan kepemimpinan tunggal untuk seluruh umat Islam di seluruh dunia. Pemimpin kaum muslimin semuanya yang menerapkan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadis Rasulullah ï·º.
Pemimpin ini akan menjadikan syariat Islam sebagai patokan semua kebijakan pemerintahnya. Termasuk bumi Palestina adalah wilayah Islam, negeri yang dulu dibebaskan oleh para pejuang Islam di masa Khalifah Umar bin Khattab ra. Maka wilayah Palestina wajib dibebaskan melalui kekuatan militer umat Islam, bukanlah gencatan senjata dan negosiasi.
Ini hanya akal-akalan AS, ketika tidak mampu menghentikan perlawanan warga Gaza, maka diputuskan negosiasi. Di sanalah lobi-lobi politik dilakukan agar mau tunduk pada syarat AS dan sekutunya.
Berbeda dengan sistem Islam, Khilafah akan menggerakkan kekuatan militer untuk mengusir Israel dari tanah Palestina. Semua umat harus bersatu di bawah Khilafah yang akan menjadi satu komando mengusir kriminal Yahudi beserta antek-anteknya.
Karena Khalifah adalah pengurus sekaligus pelindung umat yang akan menyelamatkan nyawa seluruh kaum muslim. Umat juga akan terbebas dari bahaya dan cengkeraman ajaran yang menjauhkan dari Islam, termasuk ideologi kapitalisme dan sosialisme.
Umat harus disadarkan melalui dakwah kepada bersatunya umat Islam. Mengarahkan umat untuk berdakwah ideologis. Mengajaknya berjuang untuk tegaknya sistem Islam. Umat harus mengikuti arah politik yang benar dan paham pentingnya sistem Islam diterapkan dalam bingkai Khilafah, serta tahu akan kewajiban memperjuangkannya. Dengan demikian, umat Islam akan rindu adanya negara yang menerapkan sistem Islam.
Wallahu a’lam bish-shawab.

0 Komentar