RUNTUHNYA MARWAH GURU DALAM CENGKERAMAN SEKULARISME


Oleh: Wahyuni Musa
Aktivis Muslimah

Kejadian memprihatinkan kembali mencoreng dunia pendidikan nasional. Sebuah video viral di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa di Purwakarta menunjukkan sikap tidak pantas terhadap seorang guru di dalam kelas. Dalam rekaman tersebut, para siswa tampak mengejek hingga melakukan gestur acungan jari tengah yang melecehkan sosok pendidik.

Peristiwa yang memicu kemarahan publik ini menjadi potret nyata degradasi moral generasi muda. Meski pihak sekolah telah menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari, tokoh masyarakat Dedi Mulyadi menilai hukuman tersebut belum tentu menjadi solusi efektif untuk membentuk karakter siswa. Ia mengusulkan bentuk hukuman yang lebih edukatif dan berdampak langsung pada perubahan perilaku (Detik, 19/04/2026).

Kejadian ini mengungkap akar masalah yang jauh lebih dalam: krisis moral yang lahir dari sistem pendidikan sekuler-liberal. Sistem yang mengadopsi nilai Barat ini cenderung mengabaikan adab dan penghormatan kepada guru sebagai fondasi utama pendidikan. Fenomena ini diperparah oleh budaya "viralitas" demi konten di media sosial. Para siswa seolah rela merendahkan martabat guru demi mendapatkan pengakuan instan berupa like dan share di platform digital tanpa filter moral.

Mengapa siswa begitu berani melakukan pelecehan terbuka? Jawabannya multifaset. Sanksi sekolah selama ini dinilai terlalu lembek dan tidak memberikan efek jera. Di sisi lain, guru sering kali merasa tak berdaya dalam mendisiplinkan siswa karena kekhawatiran akan jeratan hukum atau tuduhan pelanggaran hak anak. Sistem sekuler yang mengagungkan kebebasan individu tanpa tanggung jawab moral telah menempatkan guru sebagai sasaran olok-olokan.

Pemerintah memang kerap menggaungkan "Profil Pelajar Pancasila" sebagai solusi pendidikan karakter. Namun, kasus ini menjadi tamparan keras bahwa inisiatif tersebut sering kali hanya menjadi formalitas administratif tanpa akar ideologis yang kokoh. Sistem pendidikan saat ini, yang lahir dari rahim kapitalisme, memisahkan agama dari kehidupan sehingga siswa tumbuh tanpa pegangan akidah yang kuat. Guru pun tak lagi dipandang sebagai sosok suci, melainkan sekadar pekerja kontrak dengan apresiasi yang minim.

Krisis ini merusak syakhshiyah Islamiyyah (kepribadian Islam) generasi muda. Jika dibiarkan, negeri ini akan melahirkan generasi yang kehilangan rasa hormat dan siap merusak tatanan sosial demi ambisi pribadi. Solusi sejati atas krisis ini tidak dapat ditemukan dalam "tambalan" sistem sekuler, melainkan harus kembali pada Islam sebagai ideologi yang komprehensif melalui langkah-langkah berikut:

Pertama, kurikulum pendidikan harus berlandaskan akidah Islam demi mencetak generasi yang memiliki pola pikir dan sikap selaras dengan syariat. Rasulullah ï·º bersabda, "Barang siapa yang menempuh jalan mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga" (HR. Muslim). Dalam Islam, guru adalah pewaris nabi yang derajatnya ditinggikan oleh Allah ï·» (QS. Al-Mujadilah: 11).

Kedua, negara harus berperan aktif menyaring konten digital yang merusak moral. Platform media sosial tidak boleh dibiarkan liar tanpa sensor syar'i. Negara bertanggung jawab melindungi umat dari tayangan yang memprovokasi pembangkangan dan kekerasan.

Ketiga, penerapan sistem sanksi (uqubat) Islam yang berfungsi sebagai penebus dosa (jawabir) dan pencegah (zawajir). Bagi pelanggaran adab yang berat, sanksi ta'zir dapat diterapkan secara adil untuk memberikan efek jera yang nyata, baik secara fisik maupun spiritual, guna mencegah imitasi perilaku buruk oleh siswa lain.

Keempat, negara wajib memosisikan guru sebagai sosok mulia dengan jaminan kesejahteraan yang tinggi dari baitulmal. Dengan gaji yang layak dan perlindungan wibawa melalui undang-undang yang syar'i, penghormatan siswa terhadap guru akan tumbuh secara alami.

Hanya melalui sistem yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam, marwah guru dapat terjaga dan siswa tumbuh dengan akhlak mulia. Penerapan solusi ini bukanlah utopia, melainkan kewajiban untuk membebaskan generasi muda dari belenggu liberalisme. Sudah saatnya kita kembali pada fitrah tauhid demi membangun peradaban yang gemilang.

Wallahu a’lam bishawab.

Posting Komentar

0 Komentar