
Oleh: Ermawati
Aktivis Dakwah
Doa dan harapan seorang ibu adalah melihat anaknya sukses dan bahagia. Namun, apa boleh dikata, mimpi seorang ibu di Lahat harus berakhir tragis di tangan darah dagingnya sendiri. Sungguh miris, perilaku generasi saat ini seolah di luar nalar; hanya demi judi online (judol), seorang anak tega membunuh hingga memutilasi ibu kandungnya sendiri.
Penemuan korban berinisial SA (63) bermula dari keresahan keluarga yang tidak melihat keberadaannya selama hampir sepekan. Salah satu anaknya, S (49), mulai curiga karena ibunya yang biasanya aktif tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Kecurigaan tersebut semakin menguat saat muncul bau tidak sedap di sekitar rumah korban.
Petunjuk penting datang dari seorang tetangga yang pernah dimintai bantuan oleh pelaku untuk menggali lubang di kebun milik korban. Informasi tersebut mengarahkan keluarga pada lokasi mencurigakan. Pada Rabu (8/4/2026) dini hari, keluarga bersama warga dan perangkat desa melakukan pengecekan dan menemukan jasad korban (Kompas, 10/04/2026).
Sangat memilukan mendengar berita seorang anak yang tega menghabisi nyawa ibu kandungnya, bahkan memutilasi jasadnya menjadi potongan-potongan kecil untuk dikubur di belakang rumah. Perbuatan keji dan tidak berperikemanusiaan ini memicu tanya: bagaimana mungkin seorang anak sampai hati melakukan hal sesadis itu?
Tragedi di Lahat menjadi bukti nyata bahwa judol tidak hanya menghabiskan harta, tetapi juga merusak akal sehat. Saat kecanduan tidak terpenuhi atau saat dinasihati, pelaku cenderung gelap mata hingga melakukan tindakan kriminal yang fatal. Jika generasi muda terus dibiarkan tanpa arah dan terjerat judol, entah berapa banyak lagi tragedi serupa yang akan terjadi di masa depan.
Saat ini, judol berkembang pesat di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Berawal dari coba-coba, banyak yang akhirnya ketagihan karena tergiur keuntungan instan di tengah sulitnya ekonomi. Namun, alih-alih untung, mereka justru terjebak dalam kecanduan yang menghabiskan uang, memicu kemiskinan, hingga berujung pada depresi dan tindakan bunuh diri.
Betapa rusaknya sistem hari ini yang tidak mampu mencegah kemaksiatan, sehingga merusak mental dan masa depan remaja. Negara terkesan abai karena lebih mementingkan keuntungan materi daripada nasib rakyat. Media dan konten negatif dibiarkan bebas akses tanpa pengawasan ketat dan penyaringan yang memadai oleh pemerintah.
Sistem yang lebih mementingkan pertumbuhan ekonomi daripada kualitas moral bangsa telah membuat berbagai budaya asing masuk tanpa filter melalui kanal digital. Wajar jika remaja saat ini mudah terjebak judol, karena orientasi hidup telah bergeser pada keuntungan materi semata, mengabaikan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.
Inilah wajah sistem kapitalisme yang sekuler, memisahkan agama dari kehidupan. Sistem buatan manusia ini tidak lagi menghiraukan batasan halal dan haram. Meski jelas membawa kerusakan, ironisnya sistem ini masih dipertahankan dan diyakini oleh banyak orang.
Terkait perlindungan keluarga, Allah ﷻ berfirman dalam surah At-Tahrim ayat 6:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
Dalam sistem Islam, negara berperan sebagai penjaga yang mengawasi setiap pengaruh budaya asing agar tidak merusak masyarakat. Negara memberikan pendidikan serta edukasi intensif kepada rakyat, khususnya remaja, mengenai bahaya judi dan kemaksiatan lainnya agar mereka tidak terjerumus.
Selain itu, negara wajib memenuhi kebutuhan pokok rakyat serta menyediakan lapangan kerja yang luas agar kesejahteraan terjaga. Tidak seperti saat ini, di mana biaya hidup tinggi dan sempitnya lapangan kerja mendorong orang menghalalkan segala cara. Penerapan syariat Islam secara menyeluruh adalah kunci untuk memperbaiki berbagai kerusakan aspek kehidupan manusia.
Sudah saatnya umat cerdas dalam memilih sistem kehidupan dan beralih menuju sistem yang diridhoi Allah ﷻ. Umat harus bersatu untuk mengembalikan kehidupan Islam dan menjadikan Al-Qur'an sebagai satu-satunya petunjuk. Hanya di bawah naungan Khilafah Islamiyyah, kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera dapat benar-benar terwujud.
Wallahu a’lam bish-shawab.

0 Komentar