SISTEM KAPITALIS MEMBUAT IMAN KIAN TIPIS


Oleh: Ummu Hafidz
Penulis Lepas

Jasad seorang pria yang menjatuhkan diri dari jembatan Sungai Serayu, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ditemukan tim SAR setelah dilakukan pencarian selama dua hari, Selasa (12/5/2026) pukul 16.30 WIB. Korban bernama Imam Fauzi (32), warga RT 04 RW 02 Desa Karangrau, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas (Indiebanyumas, 12/05/2026).

Seorang saksi bernama Sugito yang sedang memancing melihat korban menghentikan sepeda motor di atas Jembatan Sungai Serayu, kemudian langsung menjatuhkan diri pada hari Minggu (10/05/2026) pukul 23.30 WIB.

Kapolsek Banyumas, AKP Sudiyono menjelaskan, “Dugaannya korban merasa kecewa karena hubungan tersebut tidak direstui oleh orang tua pihak perempuan,” kata AKP Sudiyono di lokasi kejadian (Detik, 11/05/2026).

Sungguh miris membaca berita di media sosial belakangan ini, kasus bunuh diri terus bertambah. Setelah viral dua pemuda yang lompat dari Jembatan Cangar, kali ini pun diduga motifnya sama, yaitu tidak mendapat restu dari orang tua perempuan karena dianggap belum mapan. Lebih baik mati daripada hidup namun tak bisa bersama orang yang tercinta.

Hampir semua orang takut akan datangnya kematian, sampai ia menjaga pola hidupnya agar bisa punya umur yang panjang. Tetapi, bagi sebagian orang yang dimabuk asmara, berpisah dengan orang yang dicintai adalah kematian bagi hatinya. Hidup tak lagi bermakna, dunia ini tak lagi sama, hanya tersisa kehampaan.

Jika hanya karena cinta tak direstui, kenapa memilih mengakhiri hidup? Bukankah saat ini jumlah wanita lebih banyak dari laki-laki? Maka, mayoritas orang akan berkata hanya manusia bodoh yang rela mati demi kekasih yang belum halal jadi miliknya. Tetapi, bagi yang sudah terpaut cinta, kebahagiaannya adalah bersama dengan kekasih pujaan hatinya.


Kenapa Orang Berani Bunuh Diri?

Saat ini masyarakat sedang diterpa dengan berbagai masalah, di antaranya sulitnya mencari pekerjaan, kebijakan pemerintah yang mencekik rakyat, dan yang paling utama adalah masalah ekonomi. Tak bisa dipungkiri, masalah ekonomi ini membuat para orang tua menghabiskan waktunya lebih banyak untuk mencari uang demi keluarganya, sehingga peran utama mereka mendidik anak dengan syariat Islam menjadi terbengkalai. Tuntutan hasil dari pola asuh seperti ini membuat anak tumbuh dengan iman yang sangat lemah karena kurangnya bekal ilmu agama.

Seorang anak yang tumbuh besar akan merasakan adanya naluri berkasih sayang, baik itu kepada orang tua, saudara, hewan, ataupun lawan jenis. Naluri ini datang dari Sang Pencipta, inilah yang mendorong seseorang untuk mempunyai keturunan. Selama ini masyarakat kita merasa pacaran adalah salah satu cara untuk mendapatkan pasangan yang cocok, dan menganggap hal itu wajar terjadi sebelum bertunangan dan akhirnya menikah.

Ditambah lagi dengan sistem yang dipakai oleh negara kita yaitu kapitalis sekuler yang menjunjung tinggi kebebasan, dan juga memisahkan agama dari kehidupan. Seolah agama hanya berperan dalam hal ibadah saja seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Tetapi, aturan agama tidak boleh diterapkan dalam kehidupan ini karena dianggap tidak relevan dengan zaman. Ini menyebabkan umat muslim jauh dari ajaran agamanya dan tidak memahami isi dari kitab sucinya sendiri.

Pemerintah yang seharusnya menjadi pelindung bagi masyarakat justru tidak hadir, karena hanya mereka yang bisa menyaring situs negatif dalam sosial media. Nyatanya, banyak sekali situs tentang pornografi dan extreme challenge bebas diakses siapa pun yang punya ponsel (handphone). Asal punya kuota internet, maka bisa lihat apa saja. Canggihnya teknologi sekarang meracuni pemikiran generasi lewat genggaman berupa drama percintaan ala Barat yang bebas. Ini pun mengakibatkan rusaknya akal generasi kita.

Tidak heran jika generasi saat ini mental mereka lebih lemah karena diserang bukan hanya oleh kehidupan yang sulit, tetapi juga oleh pemikiran tanpa disadarinya. Kekuatan yang seharusnya diisi oleh keluarga, dijaga bersama masyarakat, dan dilindungi oleh negara, tetapi peran itu kosong. Sehingga, generasi tumbuh menjadi individu yang rapuh dari dalam, tujuan hidup mereka hanya dunia. Itulah alasan kenapa orang berani mengakhiri hidupnya, karena merana hidup ini tak lagi berarti saat apa yang sangat ia cintai tak lagi bisa dimiliki.


Bagaimana Islam Memandang Cinta?

Cinta adalah anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hati manusia itu berada dalam kuasa-Nya, tetapi manusia punya pilihan untuk menuruti hawa nafsu atau tetap dalam batas syariat. Cinta adalah naluri, tetapi memulai dengan pacaran adalah pilihan yang salah.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Isra ayat 32: “Dan janganlah kamu mendekati zina...” Maka jelas pacaran itu dilarang karena akan membuat pelakunya melakukan kemaksiatan juga membuang waktu dan energi untuk cinta yang belum halal. Sebab, solusi untuk orang yang jatuh cinta adalah pernikahan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa: “Kami tidak melihat (solusi) bagi dua orang yang saling mencintai seperti pernikahan.” (HR. Ibnu Majah).

Sebagai orang tua juga harus paham jika memiliki anak yang sudah siap berumah tangga, Rasulullah ï·º menekankan untuk mengutamakan agama, “Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, (jika tidak) engkau akan merugi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Begitu juga bagi laki-laki yang datang untuk meminang, maka utamakan agamanya yang baik sesuai apa yang dianjurkan Rasulullah ï·º.

Hanya dengan sistem pendidikan Islam yang menjadikan setiap individu mempunyai ketakwaan kepada Allah, membuat pribadi berkarakter mulia dan tidak mudah terpengaruh oleh arus pergaulan yang salah, seperti pacaran.

Lalu bagaimana jika orang yang kita cintai tidak menjadi milik kita? Allah sudah menjawabnya dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 216: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Kita adalah makhluk yang lemah dengan ilmu yang terbatas, maka apa pun hal yang terjadi di luar keinginan kita itu adalah kuasa Allah. Maka, ayat tadi seharusnya cukup untuk menenangkan hati kita bahwa Allah tidak akan mengambil sesuatu yang baik tanpa menggantinya dengan yang lebih baik. Namun, bagaimana jika hatiku telah penuh oleh cinta untuknya yang ternyata bukan jodohku?

Bukankah Allah yang memberikan cinta di hati kita? Allah yang menanamkan cinta itu begitu kuat dalam sanubari tentunya punya alasan untuk kita. Sadarkah siapa yang paling engkau cintai? Allah atau kekasihmu? Mungkin Allah cemburu karena engkau lebih mencintai hamba-Nya, sehingga mematahkan hatimu dan ingin agar engkau kembali kepada cinta-Nya. Karena Allah tidak suka diduakan, maka patah hatimu adalah surat cinta dari-Nya agar engkau mengenali dirimu itu hamba.

Bunuh diri bukan solusi. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjelaskan dalam Al-Qur'an surah An-Nisa' ayat 29: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Rasulullah ï·º pun telah bersabda dalam sebuah hadis: “Barang siapa membunuh dirinya dengan sesuatu, ia disiksa di neraka jahanam dengan sesuatu yang digunakannya untuk bunuh diri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Juga ancaman Allah ï·º yaitu: “Hamba-Ku telah mendahului-Ku (membunuh dirinya), maka Aku haramkan baginya surga.

Selama penerapan syariat Islam belum terlaksana, hidup akan terasa lebih berat dengan berbagai macam persoalan dunia. Maka, kenali dirimu agar kita tahu dari mana kita berasal. Pelajari agamamu sampai kita paham tujuan kita hidup di dunia ini untuk apa. Dan bergabunglah dengan majelis taklim yang akan membuatmu mengerti kemana kita akan kembali setelah kematian datang. Hanya dengan jalan ini engkau akan mengerti makna hidup yang sesungguhnya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar