
Oleh: Yulia Nursabiha
Komunitas Ibu Peduli Generasi
Setiap manusia yang hidup memiliki jiwa dan raga. Keduanya membutuhkan pemenuhan maksimal yang harus diisi dengan asupan yang sesuai. Raga memerlukan nutrisi bergizi dan pemenuhan jasmani sesuai fitrah. Begitu pula dengan jiwa; ia wajib diisi dengan benar melalui kasih sayang, pelayanan, rasa aman, harga diri, dan ilmu.
Namun sayangnya, perhatian kita sering kali terfokus pada hal yang tampak saja, seperti kesehatan fisik. Kita berupaya keras agar anak-anak tumbuh sehat dan kuat secara lahiriah, tetapi abai terhadap kesehatan mental mereka. Akibatnya, banyak anak mulai mengalami gangguan mental sejak dini yang bermanifestasi dalam kepribadian kasar, agresif, murung, hingga menarik diri dari lingkungan karena kecemasan dan tekanan berlebih.
Menanggapi krisis kesehatan jiwa anak yang kian meningkat, pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang ditandatangani oleh sembilan menteri. Langkah ini diambil menyusul maraknya kasus anak yang mengakhiri hidupnya. Hasil survei menunjukkan 62,19 persen anak mengalami masalah kesehatan jiwa yang disebabkan oleh kekerasan fisik, verbal, emosional, seksual, perundungan, hingga konflik keluarga dalam 12 bulan terakhir. SKB ini bertujuan mengadakan edukasi pola asuh positif serta menugaskan tenaga kesehatan jiwa di seluruh fasilitas kesehatan.
Data dari Kompas (07/03/2026) menyebutkan empat faktor utama pemicu keinginan anak mengakhiri hidup: konflik keluarga (24–46%), masalah psikologis (8–26%), perundungan (14–18%), dan tekanan akademik (7–16%). Namun, muncul pertanyaan kritis: apakah cukup hanya sebatas sosialisasi tanpa kerja nyata yang menyentuh akar masalah?
Kegagalan Sistem Sekuler-Kapitalistik
Fenomena krisis jiwa pada anak memang makin mengkhawatirkan. Namun, regulasi seperti SKB tersebut dinilai hanya memberikan solusi sementara (tambal sulam). Selama sarana dan prasarana kehidupan masih berada di bawah naungan sistem kapitalis-sekuler, mustahil kondisi akan membaik secara fundamental. Perundungan merajalela dan arah pendidikan pun terasa makin absurd.
Jika kita menelaah secara mendalam, masyarakat adalah sekelompok individu yang diatur oleh seperangkat pemikiran, perasaan, dan peraturan yang sama. Krisis jiwa pada anak saat ini adalah buah dari sistem sekuler-liberal yang menanamkan visi hidup yang tidak sesuai dengan fitrah manusia, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Sistem sekuler memberikan pemahaman bahwa kesuksesan dan tujuan hidup hanyalah bersifat materi dan kebahagiaan jasmani semata. Kondisi inilah yang meruntuhkan akidah dan memberikan tekanan batin yang dalam pada anak-anak. Padahal, keimanan adalah pondasi utama agar anak mampu menjalani kehidupan di tengah berbagai permasalahan.
Islam sebagai Solusi Komprehensif
Dalam pandangan Islam, negara berfungsi sebagai junnah (pelindung) dan ra'in (pengurus). Peran ini mewajibkan negara memberikan kebijakan dan tata kelola masyarakat yang sesuai dengan syariat Islam. Negara harus mampu menutup celah yang timbul dari akidah sekuler, baik dalam aspek pendidikan, pergaulan, media massa, maupun budaya.
Pengelolaan setiap sektor harus berstrategi sesuai syariat Islam:
- Pendidikan: Menekankan pada kekuatan akidah dan tujuan hidup semata-mata mencari rida Allah ﷻ, guna membentuk kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah).
- Kesehatan: Menjamin layanan kesehatan jiwa dan fisik secara berkualitas dan gratis bagi seluruh rakyat tanpa diskriminasi.
- Ekonomi: Menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu tanpa adanya eksploitasi materi.
Lingkungan yang memiliki kesatuan pemikiran, perasaan, dan aturan Islam akan melahirkan suasana saling menasihati (dakwah) guna menghentikan kezaliman. Allah ﷻ berfirman:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali 'Imran [3]: 104).
Syariat Islam secara kaffah akan melahirkan generasi yang kuat secara fisik dan mental, kokoh dalam keimanan, dan unggul dalam ilmu pengetahuan. Sudah saatnya kita kembali pada aturan Sang Pencipta demi menyelamatkan generasi penerus.
Wallahu a’lam bish-shawab.

0 Komentar