DILEMA DAYCARE, ISLAM SELALU PUNYA SOLUSI


Oleh: Ririn Ekawati
Pengajar dan Aktivis Dakwah

Baru-baru ini publik dikejutkan oleh terbongkarnya kasus kekerasan anak di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, yang dikabarkan memakan korban hingga 103 anak. Kasus ini tercatat sebagai salah satu rekor kekerasan terhadap anak terbesar yang diduga dilakukan secara terstruktur dan sistematis dalam institusi penitipan. Fenomena ini layaknya gunung es; bisa jadi masih banyak lagi daycare-daycare lain yang bermasalah di luar sana tetapi belum terliput oleh media.

Padahal, dampak kekerasan pada anak (baik secara fisik, verbal, seksual, maupun pengabaian 'neglect') akan membawa dampak buruk yang mendalam. Efek traumatis tersebut sering kali bersifat permanen dan terus membayangi mereka hingga usia dewasa, sebagaimana dilansir oleh detikHealth.com (21/05/2026).


Korporatisasi Pemberdayaan Perempuan dan Fungsi Daycare

Dalam ekosistem kapitalisme, kemandirian finansial dan kebebasan perempuan kerap dijadikan sebagai standar mutlak keberhasilan program pemberdayaan perempuan. Ide ini memang terlihat indah dan emansipatif di permukaan. Namun, di dalamnya menyimpan potensi kerusakan dahsyat bagi ketahanan keluarga, masa depan generasi, dan tatanan masyarakat. Perempuan dianggap memiliki nilai strategis bagi para kapitalis karena umumnya dinilai lebih rajin, penurut, dan tidak banyak menuntut, sehingga mereka lebih masif direkrut sebagai mesin penggerak industri pasar.

Konsekuensinya, kendala terbesar dari arus deras lapangan kerja perempuan ini adalah terbengkalainya fungsi pengasuhan anak. Untuk mendukung produktivitas kerja ini, pemerintah kemudian menyodorkan keberadaan daycare (tempat penitipan anak) sebagai solusi substitusi selama jam kerja.

Walaupun banyak menawarkan berbagai keunggulan fasilitas dan kurikulum tumbuh kembang, sebagai produk dari sistem kapitalisme, daycare swasta tetap menempatkan orientasi laba materiil (profit) sebagai tujuan utama bisnisnya. Akibatnya, aspek keamanan, kualifikasi pengasuh, dan pemuliaan anak sering kali dikorbankan demi efisiensi biaya operasional.


Paradigma Pengasuhan dan Solusi Sistemis Islam

Kondisi dilematis ini sangat berbeda dengan paradigma Islam. Dalam Islam, anak adalah amanah berharga yang kelak seluruh proses pertumbuhannya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ﷻ. Anak adalah ladang amal strategis, sehingga orang tua akan sangat selektif memperhatikan hal-hal yang bisa mengantarkan anak-anak mereka menuju rida Allah. Sesuai tuntunan, seorang ibu wajib membekali dirinya dengan tsaqafah Islam yang matang agar mampu menjalankan amanah teologis ini secara optimal. Allah Swt. memberikan peringatan keras dalam firman-Nya:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadapnya. Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa: 9)

Islam menetapkan bahwa ibu adalah pendidik utama dan pertama (madrasatul ula). Ibualah yang bertugas mempersiapkan anak-anak menjadi generasi pejuang, mengenalkan tauhid, serta menanamkan kepada siapa mereka harus takut, tunduk, dan patuh. Dari tangan para ibu yang fokus mengasuh inilah akan lahir pemimpin-pemimpin masa depan yang mampu memberikan rasa aman, memiliki empati tinggi, peduli terhadap urusan rakyat, serta menegakkan keadilan universal karena rasa takutnya hanya kepada Allah ﷻ.

Tentu saja, peran strategis ibu ini tidak bisa berjalan sendirian jika sistem ekonomi negara terus memaksa perempuan keluar rumah demi memenuhi kebutuhan isi dompet. Hanya sistem Islam yang mampu menjamin anak-anak mendapatkan hak pengasuhan terbaiknya secara fitrah. Melalui sistem ekonomi Islam, negara akan menjamin kesejahteraan tiap kepala keluarga agar para ibu dapat kembali pada fungsi hakikinya tanpa dibayangi kecemasan finansial. Integrasi antara ketakwaan individu, fungsi ibu yang berjalan normal, serta dukungan penuh negara akan melahirkan generasi terbaik yang dijanjikan oleh Allah ﷻ.

Wallahua’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar