HARGA KEDELAI IMPOR NAIK, PERAJIN TEMPE KIAN TERHIMPIT


Oleh: Nunung Sulastri
Penulis Lepas

Kedelai merupakan salah satu makanan yang mengandung sumber protein nabati bermanfaat serta kaya nutrisi untuk kesehatan tubuh. Komoditas ini dapat dijadikan berbagai bentuk olahan seperti tahu, tempe, kembang tahu, dan sebagainya, dengan harga yang sangat terjangkau oleh semua kalangan masyarakat.

Namun, semenjak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menembus Rp17.800, harga kedelai impor merangkak naik. Kondisi ini berimbas menekan perajin tahu dan tempe di berbagai daerah, padahal kedelai merupakan bahan baku utama yang sangat menentukan keberlangsungan produksi.

Para perajin tahu dan tempe menyiasati kenaikan harga kedelai tersebut dengan cara memperkecil ukuran produk serta mengurangi volume produksi. Akibatnya, dalam hal ini kebutuhan pangan masyarakat semakin sulit terpenuhi. Fenomena tersebut dibenarkan oleh para pedagang di Pasar Rumput dan Pasar Senen di Jakarta; ketika harga kedelai naik, para perajin tempe biasanya memperkecil ukuran komoditas tetapi menjualnya dengan harga yang sama.

Tidak hanya melemahnya nilai tukar rupiah, kenaikan harga plastik yang mencapai 30% hingga 100% turut menambah beban biaya usaha perajin tahu dan tempe. Lonjakan ongkos produksi ini memaksa sebagian perajin tempe beralih menggunakan daun pisang sebagai pembungkus demi efisiensi biaya.

Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan pangan pokok, bahkan nilai impor kedelai tercatat mencapai triliunan rupiah. Sungguh ironis bagi sebuah negara yang dikenal sebagai negara agraris. Menurut Aip Syarifuddin selaku Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), derasnya arus impor kedelai dari luar negeri mulai terbuka sejak tahun 1998 karena produksi kedelai dalam negeri tidak mencukupi.

Selain itu, alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian menjadi salah satu penyebab utama penurunan produksi kedelai lokal. Hal ini diperparah oleh rendahnya nilai jual kedelai lokal akibat perbedaan kualitas yang cukup mencolok jika dibandingkan dengan kedelai impor.


Kapitalisme Menjadi Sumber Masalah

Saat ini, regulasi tata niaga yang diterapkan bersumber dari tatanan sekuler yang mengagungkan keuntungan materi sebesar-besarnya daripada keberkahan umat. Di bidang ekonomi, sistem kapitalisme menempatkan alat produksi, distribusi, serta modal di bawah kendali penuh pihak swasta atau individu demi meraih profit sebagai tujuan utama.

Kelemahan nilai tukar rupiah dan mahalnya kedelai impor menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi kapitalisme yang melahirkan ketergantungan akut pada pihak asing. Sangat disayangkan, bidang pertanian yang menyangkut hajat hidup orang banyak justru diserahkan pada mekanisme pasar bebas. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:


كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (pemimpin/kepala negara) yang memimpin manusia adalah pengurus dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya..." (HR. Bukhari dan Muslim).

Naiknya harga kedelai dan plastik menunjukkan lemahnya peran negara dalam menjaga keberlangsungan usaha rakyat kecil. Ketergantungan impor mencerminkan rapuhnya kemandirian pangan.

Di sisi hilir, petani kedelai lokal juga kurang mendapatkan pasokan subsidi pupuk serta bibit unggul, sehingga biaya produksi yang dikeluarkan semakin tinggi. Selama aturan kapitalisme yang banyak menimbulkan ketimpangan dan kemudaratan ini dipertahankan, kesejahteraan rakyat kecil akan terus terancam.


Ketahanan Pangan dalam Sistem Islam

Dalam sistem keuangan Islam, mata uang yang digunakan berbasis logam mulia, yaitu dinar (emas) dan dirham (perak). Standar ini memiliki nilai intrinsik yang stabil sehingga tidak mudah dipermainkan oleh manipulasi spekulan global, sangat berbeda dengan uang kertas (fiat money) yang rentan terhadap inflasi. Mata uang berbasis logam mulia dinilai kokoh karena:
  • Nilai Intrinsik: Memiliki nilai yang diakui secara global berdasarkan berat dan kemurnian logamnya.
  • Sulit Dimanipulasi: Logam mulia tidak bisa dicetak secara instan layaknya uang kertas, sehingga mampu mencegah inflasi sistemik.
  • Kepercayaan Pasar: Sejak awal masa peradaban Islam, standar emas dan perak telah menjadi alat tukar yang diterima secara luas dan adil.

Di sektor agraria, negara akan menghidupkan lahan-lahan tidur (ihyaul mawat) dan membangun produksi kedelai secara mandiri agar tidak bergantung pada pasar impor. Negara menjamin kedaulatan pangan dengan memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pertanian. Politik ekonomi Islam berfokus pada pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu rakyat, termasuk melindungi perajin kecil dari tekanan ekonomi makro.

Terbukti pada masa Kekhalifahan Abbasiyah pada abad ke-8 hingga ke-13 Masehi, dunia Islam berhasil melakukan transformasi secara fundamental melalui inovasi teknologi dan globalisasi agrikultur, yang dikenal oleh para sejarawan sebagai era "Revolusi Pertanian Muslim" (Revolusi Hijau Islam). Langkah strategis tersebut dilakukan melalui:
  • Globalisasi Tanaman: Penyebaran komoditas lintas benua secara masif dari Asia hingga Andalusia (Spanyol).
  • Inovasi Irigasi: Pembangunan sistem pengairan canggih dan pengembangan metode rotasi tanaman (crop rotation).
  • Pendekatan Ilmiah: Penelitian mendalam mengenai teknik budidaya, tipologi tanah, dan pemupukan yang efisien.

Keberhasilan ketahanan pangan ini tercapai karena pengelolaan sumber daya disandarkan pada hukum syarak. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf ayat 96:

وَلَوۡ اَنَّ اَهۡلَ الۡقُرٰٓى اٰمَنُوۡا وَاتَّقَوۡا لَـفَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ بَرَكٰتٍ mِّنَ السَّمَآءِ وَالۡاَرۡضِ وَلٰـكِنۡ كَذَّبُوۡا فَاَخَذۡنٰهُمۡ بِمَا كَانُوۡا يَكۡسِبُوۡنَ‏
"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan."

Semoga pertolongan Allah ﷻ semakin dekat demi kembalinya tatanan kehidupan yang mampu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi umat. Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar