PELITA JIWA ANAK GAZA REDUP: DIHANTAM OMBAK TRAUMA GENOSIDA, SAATNYA MENUNTUT CAHAYA PEMBEBASAN


Oleh: Irma Suryani, S.T.
Penulis Lepas

Anak-anak Gaza kini bagaikan kain kehidupan yang benang-benangnya tercabik satu per satu oleh cakar kejam mesin perang Zionis, hingga tak lagi mampu menyuarakan warna hatinya. Dulu mereka adalah lilin-lilin kecil yang menyala cerah menerangi tanah Palestina, namun kini nyala suara mereka padam ditiup badai kehancuran, menyisakan kegelapan sunyi yang mencekam.

Diam mereka bukanlah ketenangan, melainkan benteng pertahanan diri yang runtuh hingga ke dasar, sebab hati kecil mereka tak sanggup lagi menampung derasnya air mata dan darah yang terus mengalir. Mereka ibarat pohon muda yang kulit kayunya dikupas habis dan akarnya diputus paksa; berdiri kaku di tengah puing-puing, tak berdaun, tak berbunga, tak bersuara, hanya diam menahan perihnya luka yang menganga lebar. Di dada mereka tersimpan samudra rasa sakit yang tak bertepi, tetapi mulut mereka terkunci rapat bagai gerbang yang kehilangan anak kuncinya, karena tak ada lagi tempat aman untuk bersuara.

Kekerasan, kehancuran, dan kematian yang melanda Jalur Gaza sejak Oktober 2023 tidak hanya menyisakan puing-puing bangunan dan jumlah korban jiwa yang mengerikan, tetapi juga meninggalkan luka mendalam yang tak kasat mata pada generasi penerus bangsa Palestina. Sebuah fakta pahit yang diungkapkan oleh psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, dalam wawancaranya bersama BBC, menjadi bukti nyata betapa kejamnya dampak agresi yang terjadi di tanah suci tersebut.

Katrin, yang telah dua kali melakukan misi kemanusiaan ke Gaza pada 2024 dan 2025 bersama Médecins Sans Frontières (MSF), menegaskan satu hal yang menyayat hati: “Tidak ada satu pun anak di Gaza yang tidak trauma.” Ia mencatat lebih dari satu juta anak di wilayah itu telah mengalami trauma parah. Salah satu dampak paling mengerikan dari penderitaan tersebut adalah hilangnya kemampuan berbicara secara mendadak (mutisme selektif). Bagi anak-anak Gaza, diam bukanlah pilihan, melainkan respons neurologis pertahanan diri akibat stres dan trauma yang telah melampaui batas kemampuan manusia untuk menanggungnya.

Kisah Adam, bocah laki-laki berusia lima tahun, adalah cerminan nyata dari derita ini. Dulu ia dikenal ceria, banyak bicara, dan sangat aktif. Namun, setelah menyaksikan kematian ayahnya sendiri di ruang gawat darurat rumah sakit, serta harus terluka parah dan kehilangan satu kakinya akibat serangan proyektil yang tak terduga, Adam berhenti berinteraksi dengan dunia. Ia membungkam suaranya, seolah menarik diri sepenuhnya dari kenyataan yang terlalu kejam untuk dihadapi. Dokter-dokter setempat bahkan melaporkan kepada jaringan Al Jazeera bahwa jumlah kasus anak yang kehilangan kemampuan berkomunikasi ini terus meningkat seiring berlanjutnya agresi, sebagaimana dikutip dari Kompas.com.


Genosida Sistemik dan Pengkhianatan Penguasa

Di balik fenomena derita sunyi ini, jelas terlihat siapa pelaku utama dari semua penderitaan itu: entitas Zionis Israel. Sejak gencatan senjata diumumkan enam bulan lalu, serangan nyatanya terus dilakukan secara rutin. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 846 orang tewas pascagencatan senjata itu diumumkan. Secara keseluruhan, agresi Israel telah merenggut nyawa lebih dari 72.000 jiwa yang mayoritasnya adalah warga sipil (di antaranya lebih dari 20.000 adalah anak-anak) satu kondisi yang melukai lebih dari 172.000 orang.

Ini bukan sekadar peperangan biasa, melainkan sebuah skenario genosida yang dirancang untuk menghancurkan rakyat Palestina, baik secara fisik maupun mental. Tujuannya jelas: mematikan masa depan Palestina dengan merusak akal sehat, jiwa, dan raga anak-anaknya agar mereka tumbuh dalam ketakutan, kepatahan, dan kehilangan jati diri, sebagaimana dilansir oleh bbc.com.

Yang lebih menyakitkan lagi adalah respons dunia internasional yang nyaris tak berdaya menghentikan kejahatan ini. Sekadar bantuan kemanusiaan, terapi psikologis, atau ucapan belasungkawa tidak akan pernah cukup untuk mengobati luka yang telah merenggut cahaya hidup mereka. Sementara itu, ironi terbesar justru datang dari para penguasa negara-negara Muslim. Alih-alih berdiri tegak membela Palestina dan rakyatnya, sebagian mereka malah melakukan pengkhianatan dengan menjalin hubungan mesra dengan Zionis, diam membisu, atau hanya memberikan bantuan seadanya tanpa berani menekan penjajah.

Keadaan ini menegaskan satu kepahitan: umat Islam hari ini telah kehilangan institusi yang seharusnya menjadi perisai pelindung mereka, yaitu Khilafah Islamiah. Tanpa kepemimpinan yang menyatukan kekuatan, harta, dan jiwa umat, Palestina dan anak-anaknya dibiarkan sendirian menghadapi mesin pembunuh Zionis yang didukung oleh kekuatan besar dunia.


Menuntut Cahaya Pembebasan Hakiki

Derita sunyi anak-anak Gaza, seperti Adam dan ribuan lainnya, harus segera diakhiri. Terapi gelembung sabun atau permainan sederhana yang dilakukan oleh para relawan kemanusiaan hanyalah langkah darurat untuk meredakan ketegangan saraf anak-anak tersebut, bukan solusi akhir. Penyelesaian sejati hanya ada satu, yaitu membebaskan tanah Palestina sepenuhnya dari cengkeraman penjajah Israel. Kejahatan yang terus-menerus dilakukan entitas Zionis tidak bisa dihadapi dengan diplomasi normatif atau gencatan senjata rapuh, melainkan harus dilawan dengan jihad fi sabilillah, sebuah perjuangan mengerahkan jiwa dan harta demi memulihkan kemuliaan Islam.

Namun, kekuatan perlawanan yang sesungguhnya hanya akan terwujud jika umat Islam kembali menegakkan institusi Khilafah Islamiah. Hanya Khilafah yang memiliki kedaulatan, kekuasaan, dan kemampuan nyata untuk mengerahkan pasukan militer, menggerakkan kekuatan ekonomi, serta menyatukan seluruh potensi umat demi membebaskan Palestina.

Kesadaran akan pentingnya menegakkan kembali Khilafah adalah kunci pembebasan Palestina, kunci penghentian derita anak-anak Gaza, serta kunci persatuan dan kemenangan kaum muslimin di seluruh dunia. Jangan biarkan suara anak-anak Gaza tetap membisu selamanya; bangkitlah, tegakkan kebenaran, dan tuntut pembebasan sejati.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar