PERAJIN TAHU TEMPE MENJERIT, HARGA KEDELAI IMPOR MELEJIT


Oleh: Halimah
Komunitas Ibu Peduli Generasi

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar mengakibatkan meningkatnya inflasi global sebagai akibat dari melonjaknya harga minyak dunia.

Kondisi ini dirasakan langsung di tingkat daerah. Sebanyak 140 perajin tahu yang tergabung dalam Sentra Industri Tahu Cibuntu, Kota Bandung, mulai mempertimbangkan aksi penghentian produksi dalam beberapa hari ke depan. Rencana tersebut muncul seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berdampak langsung pada kenaikan harga kedelai impor, sebagaimana dilansir dari bisnis.com (06/06/2026).

Guna mengatasi kenaikan harga bahan baku tersebut, beberapa produsen menyiasatinya dengan memperkecil ukuran tahu dan mengurangi volume produksi. Sementara itu, para perajin yang tetap mempertahankan ukuran serta harga jual lama dipastikan harus menghadapi konsekuensi berupa berkurangnya keuntungan mereka.

Selain naiknya harga bahan baku kedelai, perajin tahu dan tempe juga dihadapkan pada lonjakan harga plastik kemasan yang sangat tinggi. Hal ini menyebabkan bertambahnya beban biaya produksi. Kondisi inilah yang membuat para perajin tahu dan tempe kian menjerit.

Indonesia saat ini menjadi negara yang memiliki ketergantungan tinggi akan impor. Bahkan untuk pemenuhan kebutuhan bahan pokok masyarakat (seperti beras, kedelai, gandum, hingga minyak mentah) negara harus mendatangkannya dari luar negeri. Karena transaksi barang impor menggunakan dolar AS, di saat nilai tukar rupiah melemah, secara otomatis beban impor yang ditanggung negara dan pelaku usaha menjadi semakin berat.

Pada akhirnya, pelemahan nilai tukar rupiah berimbas langsung pada kenaikan harga produk-produk berbahan baku impor tersebut. Dampak berantainya, harga barang di pasar ikut naik di tengah daya beli masyarakat yang semakin menurun. Jika terus dibiarkan, kondisi ini dapat membuat para perajin tahu dan tempe terancam gulung tikar.

Ketergantungan terhadap impor kedelai memperlihatkan lemahnya kemandirian pangan dan ekonomi suatu negara. Padahal, kedelai merupakan salah satu komoditas penting yang menjadi bahan baku utama makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat. Tahu dan tempe tampaknya telah menjadi menu wajib bagi masyarakat Indonesia karena harganya yang selama ini relatif terjangkau. Impor yang dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang seperti ini jelas memperlihatkan rapuhnya fondasi ekonomi nasional sekaligus mengancam stabilitas pangan.

Oleh karena itu, dalam mewujudkan program pemerintah mengenai kemandirian dan ketahanan pangan yang berkelanjutan, kita perlu mengkaji sebuah sistem ekonomi alternatif. Sistem yang mampu menopang kemandirian pangan secara mandiri sekaligus menjaga stabilitas ekonomi menyeluruh.

Dalam sistem sekuler kapitalisme saat ini, negara beralih fungsi hanya sebagai regulator atau pembuat kebijakan yang kerap kali disesuaikan dengan kepentingan pemilik modal (kapital). Penguasa tidak bertindak penuh sebagai pengurus (raa'in) yang melayani urusan rakyatnya secara mutlak. Komoditas penting seperti kedelai dan bahan pokok dasar lainnya apabila tidak diurus oleh negara demi kemaslahatan publik, maka akan memicu kekacauan ekonomi, seperti lonjakan harga yang tidak terkendali hingga potensi kelaparan akibat langkanya pasokan.

Sebaliknya, di dalam sistem ekonomi Islam, kestabilan mata uang dan aktivitas perdagangan sangat diperhatikan serta dijaga ketat. Pemimpin Islam atau khalifah menggunakan dinar (emas) dan dirham (perak) sebagai mata uang resmi yang berlaku dalam Daulah Islamiyah.

Emas dan perak memiliki nilai intrinsik yang stabil, anti-inflasi, serta tidak dapat dimanipulasi atau dipermainkan oleh spekulan pasar. Karakteristik ini berbeda dengan uang kertas hari ini yang nilainya sangat fluktuatif dan rentan terdepresiasi. Selain itu, negara juga akan menghapus seluruh sektor usaha yang berbasis ribawi.

Guna menggenjot produksi dalam negeri, khalifah akan menginstruksikan penghidupan lahan-lahan tidur (kosong). Jika selama lebih dari dua tahun lahan tersebut ditelantarkan dan tidak dikelola, maka negara akan mengambil alih tanah tersebut untuk diserahkan kepada warga negara yang mau dan mampu mengelolanya secara produktif.

Dengan adanya optimalisasi lahan pertanian ini, negara akan memberikan dukungan penuh serta memfasilitasi sektor pertanian secara menyeluruh, mulai dari penyediaan bibit unggul, pupuk, teknologi, hingga tata kelola pendistribusian hasil panen masyarakat. Alhasil, peningkatan sektor domestik untuk kemandirian pangan akan terwujud nyata demi menjaga stabilitas ekonomi rakyat.

Politik ekonomi Islam berfokus pada pemenuhan kebutuhan primer setiap individu rakyat serta melindungi para perajin dan pelaku usaha dari tekanan ekonomi makro. Negara Islam berperan aktif menjaga stabilitas harga di pasar, menjamin ketersediaan bahan baku, serta mencegah praktik ikhtikar (penimbunan) atau monopoli yang merugikan rakyat. Negara hadir sebagai pelayan (khadim) umatnya.

Jeritan pengusaha tahu dan tempe ini seharusnya menyadarkan kita semua bahwa persoalan utamanya bukan sekadar harga kedelai yang mahal, melainkan adanya kerusakan sistemik pada tatanan ekonomi yang dianut, yaitu sekularisme dan liberalisme yang membuat negara ini kehilangan kemandiriannya.

Selama sistem kapitalisme masih dipertahankan, masalah serupa akan terus berulang secara siklikal. Sudah saatnya kita kembali pada sistem buatan Sang Pencipta, yang tidak hanya mengatur ibadah ritual semata, tetapi juga memberikan solusi komprehensif dalam menata perekonomian dan menjamin kesejahteraan rakyat secara hakiki.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar