
Oleh: Hilwa Zulfatunnisa
Santriwati PPTQ Darul Bayan, Sumedang
Pernahkah terlintas di pikiran kita, mengapa harga barang-barang saat ini semakin mahal? Saat ingin berbelanja kebutuhan pokok atau sekadar membeli keperluan harian saja, kita mesti berpikir dua kali. Salah satu penyebab utamanya adalah nilai tukar rupiah yang sedang melemah tajam (atau istilah ekonominya mengalami depresiasi) terhadap dolar AS.
Pemicu utamanya adalah situasi politik global yang kian memanas, seperti konflik antara AS dan Iran yang membuat pasar keuangan dunia ikut tidak stabil. Efek domino dari kejadian yang nun jauh di sana itu ternyata langsung terasa dampaknya hingga ke meja makan kita: harga bahan baku impor melonjak dan tarif energi pun ikut-ikutan melambung.
Ironisnya, terdapat jurang pemisah yang lebar antara persepsi penguasa dan realitas di lapangan. Di saat pemerintah mengklaim kondisi ekonomi makro masih dalam batas "aman" dan terkendali, rakyat kecil justru berada dalam kondisi lampu merah. Demi memenuhi kebutuhan pokok yang serba mahal, banyak masyarakat yang akhirnya terhimpit hingga terjerat lingkaran setan pinjaman daring (pinjol) dan utang.
Ketidakpekaan pemerintah dalam membaca realitas ini berujung pada kekeliruan kebijakan ekonomi. Alih-alih menyelesaikan masalah dari akarnya, kebijakan yang diambil justru menambah tumpukan utang negara yang kian melambung. Akibatnya, masyarakat dibiarkan "berjuang sendirian" menanggung beban hidup yang semakin berat tanpa adanya perlindungan negara yang nyata.
Untuk keluar dari krisis moneter ini, kita tentu membutuhkan solusi yang fundamental. Islam sebagai agama rahmatan lil 'alamin memiliki seperangkat aturan baku untuk menyelesaikannya secara tuntas:
- Mata Uang yang Stabil (Emas & Perak): Sistem ekonomi Islam menggunakan dinar dan dirham (emas dan perak) yang nilainya sangat stabil karena memiliki nilai intrinsik asli. Islam tidak mengadopsi sistem uang kertas (fiat money) yang nilainya semu dan sangat mudah dipermainkan oleh aktivitas spekulasi di pasar valuta asing.
- Pasar Adil yang Bersih dari Kecurangan: Negara wajib menjaga stabilitas harga di pasar domestik dengan aturan tegas yang bersumber dari syariat. Instrumen ini dijalankan dengan mengharamkan riba secara mutlak, mengatur kepemilikan harta secara adil, serta memastikan jalur distribusi kebutuhan pokok berjalan lancar tanpa penimbunan sampai ke tangan masyarakat.
- Pemimpin sebagai Pengurus dan Pelindung: Dalam Islam, seorang pemimpin bertindak sebagai pengurus (ra'in) sekaligus perisai (junnah) bagi rakyatnya. Tugas utamanya adalah melayani kebutuhan publik. Oleh karena itu, saat rakyat berada dalam situasi sulit, pemimpin wajib berada di garda terdepan untuk memikul tanggung jawab penuh guna melindungi rakyat dari badai krisis.
Krisis pelemahan rupiah ini sejatinya menjadi momentum berharga bagi kita semua untuk mengevaluasi fungsionalitas ekonomi dari sistem kapitalisme yang berjalan hari ini. Realitas ini menjadi bukti sahih bahwa sistem kapitalisme telah gagal dan mengalami defisit regulasi dalam menjaga keadilan ekonomi.
Lantas, apakah kita akan terus memilih bertahan pada sistem kapitalisme yang nyata-nyata telah gagal membawa kesejahteraan, atau kembali pada sistem Islam yang menjamin kemaslahatan hidup sekaligus menjadi wujud ketaatan kita kepada Pencipta?

0 Komentar