PENDIDIKAN TIDAK TERJAMIN, BAGAIMANA NASIB PERADABAN?


Oleh: Amila Sholiha
Penulis Lepas

Beberapa tahun terakhir, minat para orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah negeri kian menurun. Sebagian besar orang tua kini lebih memilih menyekolahkan anak mereka di lembaga pendidikan swasta atau pondok pesantren. Padahal, sekolah negeri merupakan fasilitas publik yang disediakan dan dibiayai oleh negara. Mengapa masyarakat justru enggan memasukkan anak-anak mereka ke sekolah negeri? Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Dilansir dari CNN Indonesia (Rabu, 15/7/2026), memasuki masa awal tahun ajaran 2026/2027, sejumlah sekolah dasar negeri (SDN) di Indonesia tercatat minim mendapatkan murid baru. Fenomena ini tidak hanya melanda wilayah pedesaan, melainkan juga terjadi di kota-kota besar kawasan aglomerasi seperti Semarang dan Bandar Lampung.


Kekhawatiran Orang Tua dan Dilema Lembaga Pendidikan

Fenomena ini perlu dicermati secara mendalam. Pilihan para orang tua yang memindahkan anak-anak mereka ke pondok pesantren atau sekolah swasta berbasis agama berakar dari kekhawatiran yang memuncak terhadap masa depan generasi, terutama maraknya pergaulan bebas, dekadensi moral, dan aksi kriminalitas di kalangan pelajar.

Para orang tua memandang bahwa kualitas pembinaan kepribadian di sekolah negeri belum mampu membentengi moral anak secara optimal. Sebagian masyarakat menganggap pondok pesantren sebagai ruang aman (safe space) yang steril dari pengaruh buruk lingkungan luar. Namun realitasnya, lingkungan pesantren pun hari ini tak luput dari ancaman tindak kekerasan dan pelanggaran hukum.

Hal ini menandakan bahwa akar persoalan bukan sekadar terletak pada "lokasi atau nama lembaga tempat anak belajar", melainkan pada "bagaimana pembinaan keimanan dan kepribadian itu ditanamkan sejak usia dini". Jika anak tidak dibekali pemahaman dasar yang benar dari lingkungan keluarga dan sistem pendidikan yang integral, ia akan tumbuh tanpa benteng moral yang kokoh.


Kegagalan Kurikulum Sekuler dan Kerusakan Sistemik

Apatisme atau kebingungan para orang tua dalam mendidik anak merupakan bagian dari dampak penerapan sistem kehidupan sekuler. Tatanan sekuler yang memisahkan agama dari tata kelola publik terbukti gagal menjamin kualitas pendidikan dan melahirkan kesejahteraan sosial.

Dalam sektor pendidikan, pemerintah berulang kali melakukan bongkar-pasang kurikulum nasional. Namun, perubahan kurikulum tersebut terbukti tidak mampu membendung arus kerusakan moral pelajar, sebab fondasi utamanya tetap bersumber pada nilai-nilai sekuler-pragmatis yang berorientasi materi semata.

Masyarakat perlu dibangunkan kesadarannya bahwa maraknya krisis generasi hari ini bukanlah sekadar kesalahan individu orang tua, guru, atau satu lembaga sekolah semata. Persoalan ini lahir dari penerapan sistem kehidupan yang tidak berbasis pada akidah Islam, sehingga berdampak pada kerusakan yang bersifat sistemik.

Oleh karena itu, kerusakan sistemik tidak akan pernah bisa diselesaikan dengan solusi parsial yang bersifat "gali lubang tutup lubang", yakni kebijakan ad-hoc yang tampak menambal satu masalah, tetapi justru memicu celah persoalan baru di tempat lain.


Sistem Pendidikan Islam: Fondasi Peradaban Emas

Dalam pandangan Islam, pendidikan dipandang sebagai kebutuhan dasar publik (al-hajah al-asasiyyah) sekaligus pilar utama peradaban. Oleh sebab itu, negara memikul tanggung jawab penuh untuk menjamin ketersediaan, pemerataan, dan kualitas pendidikan secara gratis bagi seluruh warga negara.

Dalam tatanan pemerintahan Islam (Khilafah), sistem pendidikan dirancang menggunakan kurikulum berbasis akidah Islam guna mewujudkan dua output utama:
  • Membentuk Kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah): Membina pola pikir (aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyyah) anak didik agar senantiasa terikat pada hukum syariat.
  • Keahlian Sains dan Teknologi: Mencetak ilmuwan dan tenaga ahli yang mahir menguasai ilmu pengetahuan modern demi kemajuan peradaban.


Kesimpulan

Hal mendesak yang perlu dilakukan hari ini adalah memberikan edukasi dan pemahaman politik (al-wa'yu as-siyasi) kepada masyarakat luas. Umat harus menyadari bahwa perubahan sejati tidak akan pernah terwujud sekadar dengan pergantian figur kepemimpinan semata selama tatanan sistem yang diterapkan tetap sekuler.

Ketika masyarakat telah menyadari pentingnya sistem Islam, perjuangan mewujudkan tata kelola kehidupan yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin) akan makin menguat. Mari bersatu merapatkan barisan memperjuangkan tegaknya syariat Islam secara menyeluruh!

Allahu Akbar!

Posting Komentar

0 Komentar