
Oleh: Adzkia Fatiha
Santri Ideologis
Serangan udara yang dilancarkan oleh militer Israel terhadap sebuah kendaraan di Kota Gaza dilaporkan telah menewaskan sedikitnya tiga warga Palestina. Peristiwa memilukan yang terjadi pada Kamis, 18 Juni 2026 ini kian menambah panjang daftar korban jiwa yang gugur di tengah narasi gencatan senjata semu, yang sebelumnya dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) pada Oktober 2025 lalu, sebagaimana dilansir oleh Aljazeera.
Di sisi lain, laporan Arab Center Washington DC (4/6/2026) memaparkan bahwa tengah terjadi penurunan dukungan publik yang signifikan dari rakyat AS kepada Washington. Hal ini dipicu oleh tingginya keterlibatan dan sumbangsih pemerintah AS terhadap genosida yang dilakukan Israel di Jalur Gaza. Akibat tekanan domestik tersebut, Washington kini berupaya merancang skema untuk mengakhiri bantuan militernya. Langkah politik ini cukup mengejutkan warga AS, mengingat rekam jejak pemimpin mereka yang selama ini sangat ramah terhadap entitas Zionis. Ironisnya, rencana penghentian bantuan ini justru turut didukung oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, beserta jajaran elitenya.
Rentetan fakta empiris ini seharusnya semakin memperkokoh keyakinan umat bahwa diplomasi gencatan senjata bukanlah solusi hakiki bagi saudara-saudara kita di Palestina. Telah berkali-kali publik disuguhkan narasi gencatan senjata, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa jumlah warga sipil yang menjadi korban justru terus melambung tinggi. Istilah gencatan senjata tak lebih dari sekadar perisai politik bagi penjajah untuk mengatur ulang strategi (regrouping) agar dapat berbuat lebih kejam terhadap rakyat Palestina pada momentum berikutnya.
Adapun manuver politik AS yang mengklaim ingin mengakhiri bantuan persenjataan, sejatinya tak lain hanyalah tipu daya belaka. Upaya tersebut murni berfungsi sebagai peredam gelombang protes rakyat AS demi menyelamatkan citra elektoral pemerintah, bukan untuk menghentikan genosida secara total. AS diprediksi hanya akan mengganti bentuk bantuan fisik dengan kebijakan-kebijakan taktis lain yang tetap melanggengkan penjajahan di Palestina. Oleh karena itu, langkah kosmetis tersebut sama sekali tidak akan berkontribusi dalam mengakhiri penderitaan di tanah Gaza.
Membongkar Tabiat Asli Zionis
Sejarah peradaban telah mencatat dengan tinta kelam bahwa tabiat asli kaum Zionis adalah selalu mengingkari perjanjian damai. Di dalam Al-Qur'an, Allah ï·» telah berulang kali menceritakan karakteristik buruk mereka yang tidak pernah menepati janji yang mereka ikrarkan sendiri. Kita tentu tidak asing dengan kisah pengkhianatan kaum Yahudi di Madinah (seperti Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah) kepada Rasulullah ï·º. Fakta sejarah ini menjadi bukti otentik bahwa watak pengkhianat tersebut memang sudah melekat sejak zaman dahulu kala dan tidak pernah berubah.
Oleh karena itu, solusi tata dunia baru yang ditawarkan oleh Barat (baik berupa proposal gencatan senjata maupun ajakan untuk bergabung dalam komunitas hukum internasional sekuler) merupakan solusi-solusi yang batil. Langkah-langkah diplomasi tersebut semata-mata hanya dijadikan sebagai peredam opini publik atau alat untuk melancarkan agresi militer mereka secara lebih terukur. Alhasil, menerima solusi kompromi yang ditawarkan Barat sama saja dengan melegitimasi aksi-aksi kejahatan kemanusiaan mereka berikutnya.
Sebagai seorang muslim yang mengikatkan diri pada akidah, kita diharamkan menyerahkan urusan hajat hidup saudara seiman kepada entitas kafir penjajah. Sayangnya, realitas yang menimpa dunia Islam hari ini justru menunjukkan kondisi yang berbalik arah. Para pemimpin negara-negara muslim tidak hanya diam dan membisu menyaksikan pembantaian di Palestina, namun sebagian dari mereka malah dengan bangga bergabung menjadi aliansi strategis negara-negara Barat. Sikap tunduk para penguasa ini tentu saja semakin memperpanjang derita kaum muslim di Palestina.
Mengubah Solusi Batil Menjadi Solusi Hakiki
Jika kita meneropong problematika ini melalui kacamata syariat Islam, maka gencatan senjata atau bergantung pada organisasi internasional buatan Barat bukanlah solusi yang tepat. Pendekatan politik seperti ini justru semakin menelanjangi kelemahan kaum muslim di mata dunia global. Saudara-saudara muslim kita di Palestina tidak membutuhkan nota kesepahaman yang mandul atau kiriman bantuan logistik yang selalu ditahan di pintu perbatasan. Lantas, apa solusi rill yang mereka butuhkan?
Satu-satunya solusi yang hakiki dan mampu menyelesaikan problem penjajahan Palestina secara tuntas dari akarnya semata-mata hanyalah dengan menegakkan kembali institusi kepemimpinan politik global, yaitu Daulah Khilafah Islamiah. Melalui institusi politik tunggal inilah, umat Islam sedunia akan dipersatukan di bawah satu komando dan satu hukum, yaitu syariat Islam yang kafah. Dengan adanya kekuatan Daulah, kaum muslim akan memiliki otoritas resmi untuk memobilisasi tentara-tentara kaum muslim dari berbagai negeri untuk mengusir entitas Zionis melalui kewajiban jihad fi sabilillah.
Lembaran sejarah mencatat dengan megah sikap tegas Sultan Abdul Hamid II yang dengan berani menolak tawaran megah kaum Yahudi internasional. Beliau menegaskan tidak sudi memberikan tanah Palestina kepada mereka, walau hanya sejengkal saja, karena sadar bahwa tanah tersebut adalah tanah khiraj milik seluruh umat Islam.
Kisah-kisah emas lainnya juga menunjukkan bahwa ketika Islam tegak memimpin peradaban, tidak ada satu pun negara adidaya kafir yang berani menyentuh atau menawar tanah kaum muslim secara cuma-cuma. Ini menjadi bukti empiris yang tak terbantahkan bahwa umat Islam hanya akan dihormati dan memiliki posisi tawar yang kuat di mata internasional ketika berada di bawah naungan Khilafah.
Kesimpulan
Oleh karena itu, jika kita merindukan pembebasan penuh bumi Palestina dari cengkeraman ideologi Zionisme, langkah pertamanya bukanlah dengan mengemis keadilan kepada PBB. Kita harus mencurahkan segenap potensi untuk berjuang menegakkan kembali Daulah Khilafah di muka bumi ini, agar negara tersebut mampu mengirimkan pasukan militer yang tangguh untuk mencabut eksistensi penjajah dari tanah suci umat Islam. Hanya dengan tegaknya syariat Islam secara menyeluruh, seluruh kaum muslim termasuk di Palestina akan dapat menikmati keadilan, keamanan, dan kedamaian sejati yang diridai oleh Allah ï·».
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar