GENCATAN SENJATA PALSU, PEMBUNUHAN TERUS BERLANJUT DI GAZA


Oleh: Nunung Sulastri
Penulis Lepas

Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza hingga saat ini masih sangat memprihatinkan. Ribuan anak-anak tak berdosa terus menjadi korban jiwa dan luka-luka akibat intensitas serangan udara serta gempuran artileri berat. Berbagai badan internasional menyoroti bahwa kesepakatan gencatan senjata yang ada di atas kertas selama ini terus diwarnai oleh pelanggaran sepihak. Realitas di lapangan membuktikan bahwa narasi perdamaian tersebut hanyalah ilusi brutal yang justru mengancam keselamatan nyawa anak-anak Palestina setiap harinya.

Gencatan senjata yang sempat dinarasikan oleh Juru Bicara UNICEF, James Elder, dalam konferensi pers resmi di Jenewa beberapa bulan lalu, terbukti menjadi omong kosong yang jauh panggang dari api. Sementara itu, laporan dari berbagai media internasional menegaskan bahwa agresi militer terus berjalan di bawah bayang-bayang diplomasi yang mandul.

Sebuah serangan Israel terhadap sebuah kendaraan di Kota Gaza telah menewaskan sedikitnya tiga warga Palestina. Korban tewas akibat serangan Israel telah melampaui angka 1.000 jiwa, sejak gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat (AS) pada bulan Oktober 2025 lalu, sebagaimana dilansir oleh Aljazeera.

Entitas Zionis Israel secara sistematis terus merobek perjanjian gencatan senjata. Kondisi ini terjadi karena AS bertindak sebagai penjamin sekaligus sponsor utama yang konsisten menyuplai bantuan militer, finansial, dan diplomatik dengan cara apa pun.

Berikut adalah beberapa laporan mengenai eskalasi dan pelanggaran kesepakatan yang terjadi di lapangan baru-baru ini:
  • Eskalasi di Lebanon dan Iran: Meningkatnya ketegangan kawasan pascapelanggaran gencatan senjata melalui serangan udara zionis ke wilayah Lebanon Selatan, yang memicu peluncuran rentetan rudal balasan dari Iran.
  • Intensitas Serangan di Gaza: Adanya ribuan insiden pelanggaran berupa serangan artileri udara, blokade logistik, serta penembakan brutal yang menyasar warga sipil.
  • Aktivitas Represif di Tepi Barat: Militer Israel terus melancarkan operasi dengan dalih kontra-terorisme untuk melumpuhkan setiap elemen pergerakan rakyat yang dianggap mengancam keamanan mereka.


Krisis Sistemis Akibat Ketiadaan Perisai Umat

Rentetan fakta di atas membuktikan bahwa gencatan senjata tidak pernah dirancang untuk menciptakan perdamaian yang hakiki. Narasi tersebut tak lebih dari sekadar strategi politik Barat untuk meredakan gelombang protes publik dan menjinakkan opini dunia. Di balik layar, Barat membiarkan Zionis terus membantai anak-anak Gaza secara terukur, sekaligus memberikan waktu bagi militer Israel untuk menyusun ulang strategi (regrouping) dan logistik guna melanjutkan serangan berikutnya. Kesepakatan di atas kertas terbukti tidak akan pernah efektif tanpa adanya sanksi internasional yang tegas dan kepemilikan kekuatan militer yang nyata.

Mengandalkan Amerika Serikat (yang berstatus sebagai pendukung utama finansial, militer, dan hak veto bagi sekutu Zionisnya) untuk menghadirkan keadilan adalah sebuah kemustahilan. Menyerahkan urusan hajat hidup umat Islam kepada negara kapitalis penjajah merupakan kesalahan fatal yang justru semakin melanggengkan imperialisme di dunia Islam, serta memperburuk stabilitas keamanan di Timur Tengah.

Oleh karena itu, akar masalah yang sesungguhnya bukanlah terletak pada pelanggaran perjanjian teknis, melainkan pada ketiadaan junnah (perisai) yang bertugas melindungi darah, kehormatan, dan tanah air kaum muslim, yaitu institusi Khilafah Islamiah. Krisis berkepanjangan ini adalah dampak langsung dari ketergantungan para penguasa muslim terhadap hegemoni AS. Akibatnya, setiap perundingan diplomatik yang digelar selalu kehilangan arah, tidak pernah menyentuh akar masalah, dan membiarkan pembunuhan warga Palestina terus berulang.

Allah ﷻ telah memberikan larangan tegas bagi umat Islam untuk condong dan bersekutu dengan para penjajah dalam firman-Nya:

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah: 9).


Resolusi Syar'i Melalui Institusi Jihad dan Khilafah

Sebagai umat terbaik, kaum muslim diharamkan berharap apalagi menggantungkan nasibnya pada belas kasihan musuh-musuh Islam. Umat Islam wajib menjadikan hukum syarak sebagai landasan tunggal dalam menyelesaikan setiap lini kehidupan, termasuk dalam membebaskan tanah wakaf Palestina. Dunia Islam harus berdaulat penuh dan tegas menolak segala bentuk intervensi serta hegemoni asing yang merusak penerapan syariat.

Satu-satunya solusi hakiki yang mampu mencabut akar penjajahan di Palestina semata-mata hanyalah melalui institusi jihad fi sabilillah guna mengusir penjajah fisik dari bumi Islam. Ini adalah kewajiban syar'i (fardhu 'ain) yang melekat pada pundak kaum muslim yang memiliki kemampuan militer. Melalui mobilisasi jihad, kekuatan umat Islam akan menjadi luar biasa karena disatukan di bawah satu komando kepemimpinan global Khilafah Islamiah. Allah ﷻ berfirman:

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ
Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dizalimi. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. Al-Hajj: 39).


Kesimpulan

Umat Islam wajib bergerak bersama untuk memperjuangkan kembalinya institusi Khilafah Islamiah yang bertindak sebagai perisai (junnah) bagi kaum muslimin. Hanya institusi inilah yang memiliki kewenangan syar'i untuk membela kehormatan umat serta menjaga setiap jengkal tanah kaum muslim, terutama tanah suci Palestina.

Semoga pertolongan Allah ﷻ kian mendekat seiring dengan ikhtiar dakwah kita dalam menyeru kepada kebaikan (amar makruf) dan mencegah kemungkaran (nahi mungkar), serta memperjuangkan tegaknya kepemimpinan umat Islam secara global.

Aamiin Allahumma aamiin.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar