
Oleh: Tety Kurniawati
Penulis Lepas
Hampir separuh Generasi Z (Gen Z) ternyata belum memiliki dana darurat. Hasil survei dari aplikasi fintech Frich terhadap 1 juta penggunanya menunjukkan 47 persen anak muda belum menyiapkan tabungan untuk kondisi mendesak. Dalam survei tersebut, Frich mengulik perihal target menabung Gen Z, besarnya tekanan finansial yang mereka rasakan, hingga sikap mereka saat menghadapi krisis keuangan (CNBC Indonesia, 20/8/2026).
Rasa tidak aman secara ekonomi yang dialami Gen Z bukan tanpa sebab. Biaya hidup melesat cepat (mulai dari harga bahan pangan hingga sewa hunian) sementara kenaikan gaji bergerak lambat dan seolah hanya "numpang lewat" setiap bulan. Pola hidup paycheck to paycheck menjadi rutinitas harian, hingga alokasi tabungan darurat menjadi hal yang hampir mustahil disisihkan. Di tengah gempuran inflasi, impian memiliki rumah tinggal terasa kian tak terjangkau. Gen Z tidak kekurangan semangat kerja keras; mereka kekurangan ruang untuk bernapas dan merencanakan masa depan.
Di tengah biaya hidup yang makin mencekik, sebagian Gen Z memilih fenomena doomspending sebagai sarana bertahan. Praktik self-reward dan healing menjadi pelarian psikologis untuk menjaga kesehatan mental di tengah ketidakpastian kerja dan masa depan. Daripada menabung untuk aset besar yang terasa mustahil dicapai, mereka memilih membeli pengalaman, layanan wellness, tiket konser, atau liburan singkat sebagai validasi atas kerja keras. Pilihan ini memberikan rasa lega sesaat, meskipun di sisi lain saldo tabungan makin tipis dan dilema finansial makin mendalam.
Kapitalisme Melahirkan Generasi Hilang Arah
Sistem kapitalisme bekerja seperti lingkaran setan yang terus menghimpit Gen Z. Di satu sisi, harga kebutuhan pokok, sewa tempat tinggal, dan layanan dasar terus melambung tinggi. Di sisi lain, laju pertumbuhan gaji stagnan dan tidak pernah benar-benar mengejar laju inflasi. Negara memilih meminimalkan peran pengurusan dan menyerahkan mekanisme pada pasar bebas untuk menentukan kriteria hidup layak.
Dampaknya, Gen Z terjebak tanpa jaring pengaman sosial yang memadai, tidak memiliki ruang untuk salah, dan kerja keras harian tidak otomatis menjamin kesejahteraan di masa depan. Mereka dipaksa berlari di atas roda treadmill ekonomi: terus bergerak cepat hanya untuk tetap bertahan di posisi semula. Ini bukan sebatas persoalan kebiasaan menabung individu, melainkan persoalan sistemik yang menjadikan rasa aman sebagai barang mahal.
Tekanan tersebut diperparah oleh tatanan budaya sekuler-liberal yang menjajakan pelarian sebagai solusi. Self-reward, healing, dan konsumerisme dipromosikan sebagai cara utama "menjaga kewarasan", padahal itu merupakan mekanisme koping atas sistem yang gagal memberikan kepastian hidup.
Di sisi lain, algoritma media sosial terus memicu tren, pamer gaya hidup, dan narasi kenikmatan instan. Dampaknya, Fear of Missing Out (FOMO) diproduksi secara massal, belanja impulsif dinormalisasi, dan rasa kurang terus membayangi.
Ada persoalan yang jauh lebih pelik di balik permukaan: hilangnya kompas dan tujuan hidup yang hakiki. Gen Z tumbuh dalam sistem yang mengikis makna hidup dari akarnya. Ketika urusan publik diserahkan pada pasar dan budaya sekuler memisahkan agama dari ruang kehidupan, tujuan hidup ikut dipersempit. Hidup tidak lagi dipahami sebagai perjalanan meraih ridha Allah ï·», melainkan direduksi sebatas pencapaian kenyamanan materiil harian.
Ukuran kebahagiaan pun bergeser. Kebahagiaan tidak lagi ditimbang dengan kemuliaan Islam dan amal untuk akhirat, melainkan diukur dari jumlah dorongan validasi media sosial, kepemilikan barang baru, dan liburan instan. Kenikmatan materi diangkat menjadi tolok ukur utama karena absennya nilai ideologis yang diyakini.
Tekanan ekonomi merupakan pemicu fisik, namun akar masalah sesungguhnya adalah kehilangan orientasi hidup. Saat orientasi hidup lepas dari ketakwaan kepada Allah ï·», manusia akan terus mengejar kepuasan duniawi yang tidak pernah cukup dan menganggap kelelahan tersebut sebagai bentuk bertahan hidup.
Islam Menjaga dan Membentengi Generasi
Sistem Islam melalui institusi Khilafah mencabut akar masalah dari sumbernya, bukan sekadar mengobati gejala di hilir. Kebutuhan dasar seluruh rakyat dijamin secara langsung oleh negara melalui pengelolaan sumber daya alam yang dikembalikan sebagai kepemilikan umum. Air, energi, bahan pangan, sarana kesehatan, dan fasilitas pendidikan dikelola sebagai hak publik yang dipenuhi tanpa diskriminasi.
Di sisi lain, negara memastikan setiap laki-laki kepala keluarga memiliki akses pekerjaan yang layak dan produktif, bukan sekadar pekerjaan serabutan atau gig economy yang rentan, melainkan pekerjaan yang menjamin kehalalan nafkah, kehormatan, dan masa depan keluarga.
Beban hidup tidak dilimpahkan sepenuhnya ke pundak individu. Gen Z tidak dipaksa berjuang sendirian di pasar bebas. Negara hadir sebagai pengurus (raa'in), bukan sekadar fasilitator. Saat kebutuhan dasar terpenuhi dan peran ekonomi kepala keluarga ditegakkan, ketahanan rumah tangga akan kokoh dan masyarakat terbebas dari kecemasan sistemik.
Islam tidak membiarkan generasi dibentuk oleh algoritma media berbasis kapitalistik. Islam menutup celah gaya hidup hedonis dengan membangun benteng akidah dan hukum syariat yang tegas. Di saat sistem sekularisme-kapitalisme memposisikan manusia sebagai konsumen abadi, Islam mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai hamba yang bertanggung jawab. Kenikmatan duniawi diletakkan di bawah kontrol hukum halal dan haram.
Islam melindungi generasi dari paparan konten yang merusak moral. Budaya instan, narsisme, dan pelarian konsumtif tidak diberi ruang untuk berkembang. Media massa difungsikan sesuai dengan tujuan penciptaan manusia: mendidik, mencerdaskan, dan menumbuhkan ketakwaan. Informasi disaring dan narasi publik diarahkan untuk menguatkan keimanan, sehingga Gen Z dibesarkan dalam lingkungan yang membina akal dan jiwa.
Islam meletakkan fondasi paling dasar, yakni paradigma tentang hakikat kehidupan. Hidup bukan sekadar mencari pekerjaan, mengejar validasi publik, atau menumpuk materi. Hidup adalah bentuk ibadah kepada Sang Pencipta. Allah ï·» berfirman:
ÙˆَÙ…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†َّ ÙˆَالْØ¥ِنسَ Ø¥ِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Pemahaman terhadap paradigma ini melahirkan akidah yang kokoh. Ketika seseorang memahami bahwa hidupnya diperuntukkan bagi Allah ï·», seluruh orientasi keputusannya berubah: pendidikan diarahkan untuk membangun kapasitas diri sebagai pengelola bumi (khalifah), kegiatan ekonomi difungsikan menopang ketaatan, dan aktivitas politik dijalankan untuk menegakkan keadilan syariat.
Dengan paradigma ini, Gen Z tidak dibentuk sebagai konsumen yang haus pelarian atau pekerja yang pasrah pada krisis. Mereka dibentuk dengan visi besar sebagai pembangun peradaban yang mulia.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar