
Oleh: Nur Aulia Rahmah, S.Pd.
Aktivis dan Ibu Rumah Tangga
Kondisi riil di lapangan menunjukkan eskalasi kekejaman yang sistematis, masif, dan tidak terbantahkan. Ini bukan konflik biasa, melainkan upaya pembersihan etnis (ethnic cleansing) yang mengerikan di bumi para nabi.
Darah suci terus mengalir. Berdasarkan laporan resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dalam kurun waktu antara Januari 2024 hingga Juli 2026, sedikitnya 174 anak Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, telah gugur sebagai syuhada. Fakta memilukan ini berarti lebih dari satu anak kehilangan nyawa setiap minggunya. Lebih dari 1.500 anak mengalami luka fisik yang mengerikan, dengan hampir separuhnya akibat terjangan peluru tajam.
Tragedi tidak berhenti di sana; sebanyak 355 anak Palestina kini mendekam dalam dinginnya sel tahanan militer Zionis, angka penahanan anak tertinggi dalam delapan tahun terakhir.
Kebrutalan ini terus berlanjut sepanjang tahun 2026. Terhitung sejak awal tahun hingga 10 Agustus 2026 saja, sebanyak 76 warga Palestina di Tepi Barat telah syahid, termasuk 18 anak di bawah umur. Kebrutalan pemukim ilegal Yahudi serta penghancuran rumah memaksa 3.800 warga Palestina kehilangan tempat tinggal mereka tahun ini, di mana hampir separuhnya adalah anak-anak yang kini telantar tanpa perlindungan (Republika, 12/8/2026).
Pengepungan terhadap warga sipil juga makin menjadi-jadi. Di Al Dhahiriya, sebelah selatan Hebron, militer Zionis melancarkan penggerebekan besar-besaran, memberlakukan jam malam yang mencekam, merusak kendaraan, menggeledah rumah-rumah, dan secara paksa mengalihfungsikan kediaman warga menjadi pos militer mereka (iNews, 21/8/2026). Sementara di Qusra, sebelah selatan Nablus, 15 warga Palestina termasuk dua anak-anak terperangkap di bawah kepungan pemukim Zionis selama sepekan penuh di dalam tiga rumah warga dengan akses makanan dan air yang sengaja dibatasi (IDN Times, 14/8/2026).
Semua ini tidak lepas dari gurita permukiman ilegal. Ekspansi permukiman ilegal Yahudi telah mencapai 592 titik permukiman dan pos di Tepi Barat yang kini dihuni oleh sekitar 780.000 pemukim Yahudi hingga akhir Juli 2026. Di bawah dekret militer resmi, Zionis kini secara sepihak menguasai 42 persen dari total luas wilayah Tepi Barat (Metro TV, 23/8/2026).
Desain Penjajahan Terencana dan Derita Anak-Anak
Melihat fakta-fakta tersebut, jelaslah ini bukan aksi kekerasan acak. Ini adalah desain penjajahan yang terencana dengan matang. Zionis sengaja melipatgandakan teror, ribuan serangan pemukim ilegal, pengusiran paksa, dan perampasan tanah secara sistematis demi melakukan genosida dalam senyap. Mengingat Tepi Barat mencakup 21 persen wilayah Palestina historis (jauh lebih besar dibanding Gaza yang hanya 1 persen), menguasainya adalah target vital Zionis untuk melenyapkan eksistensi Palestina secara total dan mengubahnya menjadi wilayah tidak layak huni sebagaimana yang mereka lakukan di Gaza.
Hal yang lebih menyayat hati adalah kezaliman terhadap anak-anak. Ketika ruang hidup mendasar masa kanak-kanak (seperti rumah, ruang kelas, jalanan, dan lingkungan tempat bermain) diubah menjadi medan teror yang mematikan, Zionis tidak hanya membunuh fisik mereka, melainkan sengaja menanamkan trauma mendalam, penderitaan tanpa akhir, dan kehancuran masa depan yang nyata bagi generasi penerus Palestina.
Kebungkuman Penguasa dan Kegagalan Diplomasi Semu
Di tengah semua ini, muncul pertanyaan yang mengoyak dada: Di mana pembela umat?
Ironisnya, ketika darah syuhada kecil membasahi bumi Tepi Barat dan Gaza, para pemimpin dunia Islam seolah mandul. Negara-negara besar seperti Qatar, Mesir, dan Turki hanya sanggup mengeluarkan kecaman retoris tanpa melahirkan satu pun tindakan nyata untuk menyelamatkan nyawa di Palestina.
Zionis Yahudi dengan pongah mengabaikan kecaman demi kecaman tersebut karena tahu tiada kekuatan fisik militer yang mengiringinya. Lebih menyakitkan lagi, kehadiran institusi seperti Board of Peace (BoP) terbukti tidak berguna dan hanya menjadi sarana investasi ekonomi serta legitimasi penjajahan. Padahal, jika para pemimpin negeri muslim bersatu menjatuhkan sanksi, embargo, dan blokade secara serentak, entitas Zionis akan lumpuh seketika. Namun, mereka justru berdiam diri, membatasi diri pada retorika kosong, bahkan sebagian menjadi sekutu penjajah beserta induk semangnya, Amerika Serikat. Sungguh, kebungkaman dan keengganan menggerakkan pasukan militer untuk berjihad membela kehormatan, harta, dan darah umat adalah dosa besar para penguasa di hadapan Allah ﷻ.
Solusi Syariat: Persatuan Umat dan Mobilisasi Militer
Sebagai umat Islam, kita meyakini bahwa Islam telah menetapkan solusi yang sistematis dan tuntas. Secara syariat, Islam mengharamkan secara total segala bentuk pembiaran terhadap kejahatan, penindasan kemanusiaan, serta pembantaian anak-anak yang lemah. Berdiam diri atau berpangku tangan melihat darah kaum muslimin ditumpahkan adalah dosa besar yang mencederai pilar keimanan dan kemanusiaan universal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menyerahkannya kepada musuh (membiarkannya ditindas)...” (HR. Muslim).
Hadis ini menegaskan kewajiban bagi setiap muslim untuk tidak membiarkan saudaranya dizalimi. Tragedi berkepanjangan ini membuktikan secara nyata bahwa sistem sekat negara-bangsa (nation-state) telah membelenggu kepedulian umat. Oleh karena itu, mewujudkan kembali ukhuwah Islamiyah, mempersatukan seluruh negeri-negeri muslim, dan menegakkan kembali institusi pelindung adalah kewajiban yang bersifat mutlak. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya al-Imam (pemimpin/Khilafah) itu laksana perisai, di mana orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Pembebasan Palestina dari penjajahan Zionis tidak akan pernah tercapai melalui meja diplomasi internasional yang mandul, kompromi solusi dua negara (two-state solution) yang cacat sejak lahir, atau tatanan internasional bentukan Barat yang melanggengkan penjajahan. Satu-satunya solusi nyata yang diperintahkan syariat adalah seruan jihad dan pengerahan tentara kaum muslimin di bawah naungan Khilafah.
Sebagaimana dinyatakan dalam Asy-Syakhsiyyah al-Islamiyyah (Jilid 2) karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, jihad adalah fardhu 'ain saat kaum muslim diserang oleh musuh, dan kewajiban ini berlaku bagi seluruh kaum muslim di sekitar wilayah Palestina saat warga setempat tidak mampu menghalangi agresi musuh.
Kesimpulan
Sudah saatnya kita berhenti menyuapi umat dengan solusi semu yang gagal selama puluhan tahun. Anak-anak di Tepi Barat sedang menderita dan tidak bisa tidur tenang karena luka-luka tembak. Lalu di mana tubuh kita yang lain?
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh...” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Beliau ﷺ juga memerintahkan:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya (kekuasaannya)...” (HR. Muslim).
Hari ini, "tangan" tersebut berada pada para penguasa muslim yang memegang komando pasukan militer. Jika mereka masih bungkam, sejarah dan Allah ﷻ akan mencatatnya sebagai bentuk pengkhianatan.
Cukup sudah! Tuntutlah para pemimpin kalian untuk bergerak. Kembalikan persatuan umat. Tegakkan institusi yang mampu menjadi perisai dan mengerahkan pasukan jihad fi sabilillah. Sebab, pembebasan Palestina hanya akan datang ketika umat bersatu di bawah satu komando dan satu panji, yakni Khilafah Islamiyyah.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar