FENOMENA GENERASI Z: TERJEBAK DALAM ILUSI KEBAHAGIAAN SEMU


Oleh: Murni Supirman
Aktivis Muslimah

Generasi Z saat ini berada di titik nadir krisis multidimensi. Data menunjukkan bahwa lebih dari 48 persen dari mereka merasa tidak aman secara finansial. Ironisnya, di tengah himpitan ekonomi tersebut, alokasi anggaran mereka untuk kebutuhan non-primer (seperti self-reward, healing, dan pemenuhan gaya hidup) justru melonjak tajam. Fenomena ini tidak lagi dipandang sebagai kemewahan, melainkan bergeser menjadi "kebutuhan emosional" demi mempertahankan kesehatan mental (Kompas, 19/2/2026).

Hal ini menunjukkan adanya anomali psikologis dan perilaku konsumtif yang akut. Mengapa generasi yang paling rentan secara ekonomi justru menjadi yang paling konsumtif dalam mengejar kesenangan sesaat? Jawabannya terletak pada rusaknya sistem makro yang mengontrol hajat hidup mereka serta rapuhnya fondasi pemikiran yang mereka miliki.

Secara struktural, tekanan ekonomi yang menjepit Gen Z adalah buah kandung dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Dalam sistem ini, biaya hidup, pendidikan, dan layanan kesehatan terus meroket, sementara pertumbuhan upah riil cenderung stagnan. Negara bertindak sekadar sebagai regulator bagi kepentingan pemegang modal, bukan sebagai pengurus rakyat (raa'in). Akibat fungsi pengurusan yang absen, generasi muda dipaksa berjuang sendirian di pasar bebas tanpa jaring pengaman sosial yang memadai.

Tekanan ekonomi yang berujung pada stres masal ini kemudian diperparah oleh tatanan sosial yang sekuler-liberal. Ketika agama dipisahkan dari kehidupan publik, ukuran kebahagiaan direduksi semata-mata pada materi dan kepuasan fisik (hedonisme). Narasi self-reward dan healing dieksploitasi oleh industri kapitalis melalui media sosial sebagai "solusi instan" untuk melarikan diri dari realitas.

Algoritma media sosial dirancang untuk memicu Fear of Missing Out (FOMO) dan budaya belanja impulsif. Akibatnya, Gen Z terjebak dalam lingkaran setan: mereka stres karena tekanan ekonomi, lalu menghamburkan uang yang terbatas untuk healing, yang pada akhirnya membuat mereka makin miskin dan makin tertekan.

Di balik itu semua, terdapat krisis spiritual yang paling mendasar: hilangnya kompas atau tujuan hidup. Akibat racun sekularisme, banyak anak muda tidak memahami untuk apa mereka diciptakan. Ketika visi hidup mengabur, kebahagiaan sejati bertukar tempat dengan kenikmatan materiil yang artifisial, menjauhkan mereka dari pencarian ridha Allah ï·» dan kemuliaan Islam.


Solusi Komprehensif Berbasis Tiga Pilar Sistemik

Untuk itu, dibutuhkan solusi yang komprehensif guna menyelamatkan generasi kita dari ilusi kehidupan yang semu. Islam hadir tidak hanya sebagai dogma spiritual perorangan, melainkan sebagai sebuah ideologi dan sistem tatanan yang mampu mengurai benang kusut problem Gen Z melalui tiga pilar utama:
  • Jaminan Kesejahteraan Berbasis Syariat: Melalui institusi politik Khilafah, negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan dasar (pangan, sandang, papan) serta kebutuhan publik (pendidikan, kesehatan, keamanan) bagi seluruh warga. Pengelolaan sumber daya alam (SDA) dikembalikan kepada fungsi utamanya sebagai kepemilikan umum, bukan diserahkan kepada korporasi. Negara juga wajib menyediakan lapangan kerja yang luas dan layak khususnya bagi setiap laki-laki kepala keluarga. Dengan jaminan ini, Gen Z tidak akan dibiarkan berjuang sendirian untuk sekadar bertahan hidup.
  • Proteksi Media dan Budaya Publik: Islam menutup rapat pintu gaya hidup hedonis dan liberal yang merusak mentalitas generasi. Media massa di bawah kendali negara difungsikan penuh sebagai sarana edukasi, penyebaran dakwah, dan pembentukan ketakwaan, bukan sebagai alat propaganda konsumerisme kapitalistik. Konten-konten yang memicu degradasi moral dan FOMO sistemik akan digantikan dengan narasi yang membangun optimisme serta produktivitas.
  • Rekonstruksi Paradigma Hidup (Visi Peradaban): Islam menyelesaikan krisis eksistensial dengan membangun akidah yang kokoh. Manusia disadarkan bahwa hakikat penciptaan mereka adalah semata-mata untuk beribadah kepada Allah ï·», sebagaimana firman-Nya:

ÙˆَÙ…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†َّ ÙˆَالْØ¥ِنسَ Ø¥ِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Dengan paradigma ini, standar kebahagiaan Gen Z tidak lagi dinilai dari seberapa mewah barang yang mereka beli, melainkan sejauh mana ridha Allah ï·» berhasil mereka raih. Ketahanan mental mereka akan terbentuk karena mereka memahami bahwa ujian hidup dihadapkan dengan kesabaran dan keridhaan, bukan dengan pelarian konsumtif.


Kesimpulan

Krisis yang menimpa Gen Z hari ini bukanlah sekadar masalah kesehatan mental (mental health) individu atau kesalahan manajemen keuangan pribadi. Mereka adalah korban dari kegagalan sistemik akibat penerapan sekularisme-kapitalisme. Mengharapkan generasi muda pulih hanya dengan kampanye mental health tanpa merombak sistem yang merusaknya adalah sebuah kesia-siaan.

Hanya dengan kembali pada aturan Islam secara menyeluruh (kaffah), Gen Z dapat diselamatkan dari himpitan ekonomi, dibebaskan dari rantai budaya hedonis, dan dikembalikan fitrahnya sebagai generasi tangguh pembangun peradaban yang mulia.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar