IQRA: REKONSTRUKSI KESADARAN UMAT DI ERA DIGITAL


Oleh: Abu Arslan
Penulis Lepas

Di tengah eskalasi konflik geopolitik yang berlarut di kawasan Timur Tengah, khususnya krisis kemanusiaan dan penjajahan yang menimpa Baitulmaqdis (Palestina), isu pembebasan tidak lagi sekadar menjadi wacana emosional. Respons masyarakat global dan komunitas Muslim kini bergeser ke arah gerakan yang lebih sistematis, terstruktur, dan berbasis pendidikan.

Fenomena ini tecermin dari inisiatifnya dakwah digital kontemporer yang memanfaatkan fitur keanggotaan (membership) pada media sosial seperti YouTube untuk mengonsolidasi sumber daya, menggalang edukasi literasi, serta membangun kesadaran ideologis masyarakat.

Dalam sebuah pembahasan gagasan strategis mengenai empat tingkatan (tier) transformasi individu menuju perjuangan pembebasan Baitulmaqdis, pendakwah Ustaz Felix Siauw memaparkan konsep mengenai pentingnya literasi sebelum aksi. Berdasarkan teori transformasi sosial, perubahan dalam masyarakat dibagi berdasarkan dua sumbu utama, yaitu:
  • Kultural: Terjadi tatkala intensitas dan visinya berada pada tingkat rendah.
  • Reformasi: Lahir dari intensitas gerakan yang tinggi namun dengan visi yang terbatas.
  • Revolusi: Muncung saat visi pergerakan sangat tinggi, kendati intensitasnya masih rendah.
  • Liberasi (Pembebasan): Terwujud ketika suatu gerakan memiliki keterpaduan antara intensitas yang tinggi sekaligus visi pemikiran yang sangat tinggi.


Anatomi Gradasi Gerakan dan Peta Geopolitik Perjuangan

Mengapa pendekatan literasi dan pemikiran menjadi pintu masuk utama dalam wacana pembebasan nasional maupun global? Dalam prosesnya, terdapat gradasi alamiah yang melandasi terbentuknya sebuah gerakan sosial berbasis kesadaran, diantaranya:
  • Pelajar (Thalib al-'Ilm): Segala bentuk perubahan peradaban selalu diawali dari meja belajar, sebagaimana risalah Islam yang diawali dengan perintah membaca (Iqra). Pada jenjang ini, masyarakat dibina untuk menaikkan kapasitas literasi agar tidak mudah termakan oleh narasi yang menyesatkan.
  • Pemikir (Mufakkir): Sebelum seseorang mampu mengendalikan tindakan fisiknya, ia harus terlebih dahulu memerdekakan pikirannya (liberation of mind). Seseorang tidak akan tergerak melakukan pengorbanan jika pemikirannya belum tuntas terhadap alasan mendasar (why) dari sebuah perjuangan.
  • Pejuang (Mujahid): Dari pemikiran yang matang, barulah lahir seorang pejuang yang mengombinasikan keluasan ilmu (bastatan fil 'ilm) dan ketangguhan fisik serta keberanian (wal jism). Di tahap ini, ilmu dikonversi menjadi tindakan, pengorbanan waktu, harta, dan tenaga secara konsisten.
  • Pembebas (Muharrir): Puncak dari gradasi ini adalah menjadi seorang pembebas (liberator), di mana pembebasan yang dimaksud tidak hanya mencakup fisik wilayah (liberation of land), melainkan pembebasan tatanan hidup dari kezaliman, penjajahan, dan keterbelakangan.

Dalam perspektif geopolitik dan geostrategis Islam mengenai Baitulmaqdis (sebagaimana dikembangkan oleh pakar sejarah Islam, Prof. Abd al-Fattah El-Awaisi) tanggung jawab pembebasan terbagi ke dalam beberapa lingkaran (circles):
  • Lingkaran Utama (Pusat): Ditempati oleh penduduk lokal Palestina yang berada di garis terdepan perjuangan fisik dan ketahanan (murabithun).
  • Lingkaran Kedua dan Ketiga: Diisi oleh negara-negara tetangga kawasan yang memberikan dukungan militer, logistik, dan diplomasi politik.
  • Lingkaran Luar (Periferi): Negara-negara Muslim yang secara geografis jauh dari lokasi konflik, seperti Indonesia.

Bagi kaum Muslim di Indonesia yang berada di lingkaran luar, tugas utamanya adalah menjadi benteng suplai, moral, dan pencerahan ilmu. Indonesia bertindak sebagai benteng literasi yang menyehatkan pemikiran umat secara global. Tanpa adanya suplai pemikiran, dana, serta doa yang kokoh dari lingkaran luar, perjuangan di lingkaran utama akan kehabisan napas.

Dalam kerangka ini, penggalangan dana dari sarana digital seperti AdSense, endorsement, maupun biaya membership diorientasikan untuk membangun kemandirian media (financial independence) demi membiayai operasional riset, penyusunan buku sejarah, dan produksi konten edukasi.


Mengembalikan Kesadaran Umat Melalui Edukasi dan Kemandirian

Isu Palestina dan Baitulmaqdis adalah barometer keadilan dunia sekaligus cermin kondisi kesehatan pemikiran umat Islam. Untuk mengakhiri kezaliman sistemis di tingkat global, solusi mendasar yang harus ditempuh adalah mengutamakan pembebasan pikiran sebelum pembebasan fisik wilayah (liberation of mind before liberation of land). Masyarakat harus dibebaskan dari kebodohan, pragmatisme, dan sikap apatis melalui penguatan literasi sejarah secara kritis dan objektif, bukan sekadar romantisme masa lalu.

Selain pencerahan pemikiran, penguatan kemandirian sumber daya juga menjadi kunci penting. Pengoptimalan potensi ekonomi dan teknologi digital secara transparan dapat menyokong gerakan edukasi tanpa perlu bergantung pada pihak-pihak yang bertentangan dengan prinsip keadilan.

Dengan alur transformasi yang berkesinambungan (mulai dari pelajar yang haus ilmu, pemikir yang kritis, pejuang yang tangguh, hingga akhirnya menjadi pembebas yang membawa manfaat) tatanan masyarakat yang beradab dan bebas dari penjajahan akan mampu diwujudkan secara nyata.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar