JIKA MENCINTAI RASULULLAH, MENGAPA METODE PERJUANGANNYA KITA TINGGALKAN?


Oleh: Rumaisha
Pejuang Literasi

Bulan Maulid kembali hadir, lantunan selawat kembali menggema, dan kisah momen kelahiran Rasulullah ﷺ kembali dibacakan di mana-mana. Namun, sebuah pertanyaan mendasar layak kita ajukan: Sudahkah rasa cinta kita kepada Rasulullah ﷺ melahirkan kesediaan utuh untuk meneladani jalur perjuangan beliau?

Setiap memasuki Rabiulawal, umat Islam larut dalam kegembiraan memperingati perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Masjid dan majelis taklim ramai oleh pujian selawat. Tabligh akbar marak digelar, dan sebagian masyarakat mengadakan pawai untuk mengekspresikan rasa cinta kepada manusia agung pembawa cahaya Islam ke seluruh alam.

Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tentu merupakan perkara mulia. Berbagai imbauan pada momentum Maulid tahun ini juga mengingatkan bahwa cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ tidak boleh berhenti sebatas ritual selawat semata.

Kementerian Agama, misalnya, menyerukan agar rasa cinta tersebut diwujudkan melalui keteladanan akhlak beliau dalam kehidupan bermasyarakat. Lembaga Penyiaran Publik RRI pun mengangkat pesan serupa: Maulid bukan sekadar mengenang hari kelahiran, melainkan momentum menumbuhkan rasa cinta dan meneladani karakter beliau dalam aktivitas sehari-hari.

Pesan tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, bukankah ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: Apakah keteladanan kepada Rasulullah ﷺ hanya sebatas pada ranah akhlak pribadi?


Cinta Adalah Ittiba'

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
Katakanlah (wahai Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu...” (QS. Ali 'Imran: 31).

Ayat ini sangat mendalam untuk direnungkan. Allah ﷻ tidak berfirman, "Jika kalian mencintai-Ku, ceritakanlah tentang Rasul-Ku," ataupun "Jika kalian mencintai-Ku, peringatilah hari kelahiran Rasul-Ku." Allah SWT secara tegas berfirman: فَاتَّبِعُونِي (“Maka ikutilah aku”).

Dengan demikian, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ seharusnya melahirkan ittiba', yakni mengikuti beliau dalam ibadah, akhlak, tatanan keluarga, muamalah, dakwah, pendidikan, hingga garis perjuangan beliau dalam membangun kehidupan yang berlandaskan wahyu.

Sebab, Rasulullah ﷺ bukan sebatas guru yang mengajarkan bagaimana cara beribadah secara individual; beliau adalah Utusan Allah yang membawa risalah Islam yang komprehensif.
Rasulullah ﷺ Mengubah Peradaban Dunia

Sebelum Islam datang, masyarakat Arab hidup dalam berbagai bentuk kejahiliyahan: penghambaan kepada berhala, fanatisme kesukuan, ketimpangan sosial, penindasan terhadap kaum lemah, praktik ekonomi yang zalim, serta dekadensi moral.

Rasulullah ﷺ tidak sekadar mengimbau orang-orang agar menjadi pribadi santun di tengah sistem sosial yang merusak. Beliau membawa perubahan sistemik, mengalihkan penghambaan dari sesama makhluk menuju penghambaan murni hanya kepada Allah ﷻ semata.

Beliau membina masyarakat dengan fondasi akidah Islam, membentuk kepribadian para sahabat, mendakwahkan Islam ke ruang publik, serta menghadapi berbagai penolakan politik. Hingga akhirnya, pascahijrah ke Madinah, Rasulullah ﷺ membangun tatanan masyarakat Islam dan memimpin langsung penerapan syariat Allah ﷻ dalam kehidupan bernegara.

Dari masyarakat yang tadinya tercerai-berai, lahirlah sebuah umat yang solid. Dari umat itulah tumbuh peradaban agung yang membawa cahaya Islam jauh melampaui Jazirah Arab. Inilah lembaran sejarah perjuangan Rasulullah ﷺ yang tidak boleh dihilangkan ketika kita berbicara tentang keteladanan beliau.


Maulid dan Kesadaran Perubahan Sistemik

Hari ini, umat Islam dihadapkan pada krisis multidimensi: kemiskinan yang mengimpit, ketimpangan ekonomi yang membesar, hingga kemerosotan moral yang makin masif di tengah masyarakat. Kerusakan terjadi di hampir seluruh pilar kehidupan.

Di tengah kondisi tersebut, dorongan untuk berubah sebenarnya sangat tinggi. Pertanyaannya: Ke mana arah perubahan itu hendak ditujukan, dan metode apa yang digunakan untuk mewujudkannya?

Di sinilah umat Islam perlu menengok kembali sirah Rasulullah ﷺ. Beliau tidak melakukan perubahan melalui aksi anarkis atau tindakan serampangan. Beliau membangun perubahan melalui dakwah ideologis, pembinaan akidah, penyadaran publik, interaksi politik, hingga lahirnya penyerahan kekuasaan yang menerima Islam sebagai hukum kehidupan di Madinah. Perjuangan beliau murni ditujukan agar manusia tunduk pada aturan Allah ﷻ.


Ketika Islam Direduksi Menjadi Urusan Pribadi

Salah satu problem terbesar umat hari ini adalah ketika Islam sekadar ditempatkan sebagai urusan ritual dan moral perorangan, seperti salat, puasa, zakat, haji, membaca Al-Qur'an, dan memperbaiki akhlak perorangan. Semua itu tentu bagian integral dari ajaran Islam, namun apakah Islam berhenti di sana?

Jika demikian, bagaimana dengan tatanan ekonomi Islam? Bagaimana dengan sistem hukum pidana? Bagaimana dengan kurikulum pendidikan, kebijakan politik luar negeri, pengelolaan sumber daya alam milik publik, serta hubungan antara rakyat dan penguasa? Bukankah seluruh ranah publik tersebut memiliki hukumnya dalam syariat Islam?

Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah ﷻ, melainkan juga hubungan manusia dengan sesamanya dalam kehidupan bernegara. Oleh karena itu, ketika kehidupan publik diatur dengan prinsip sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, umat Islam tidak boleh berhenti pada pertanyaan: "Bagaimana saya tetap menjadi muslim yang baik?" Umat perlu bertanya: "Bagaimana Islam dapat hadir sebagai solusi tuntas bagi persoalan kehidupan?"


Meneladani Metode, Bukan Sekadar Mengagumi Sosok

Mengenang Rasulullah ﷺ tentu menentramkan jiwa. Berselawat kepada beliau menyejukkan hati, dan membaca sirah beliau menumbuhkan cinta. Namun, cinta sejati semestinya membawa kita melangkah lebih jauh: mempelajari risalah yang beliau bawa serta memahami bagaimana metode beliau memperjuangkannya.

Rasulullah ﷺ memberikan teladan bahwa perubahan masyarakat dimulai dari transformasi pemikiran dan pembinaan manusia. Dakwah membentuk individu yang terbina, individu yang terbina berinteraksi menyadarkan masyarakat, dan masyarakat yang sadar menjadi pilar perubahan tatanan.

Dalam perjalanan dakwahnya, Rasulullah ﷺ menghadapi penolakan dan intimidasi, namun beliau tidak pernah menyimpang dari metode dakwah kenabian. Jika hari ini umat memimpikan perubahan, metode perjuangan Rasulullah ﷺ semestinya dijadikan standar pijakan.


Kesimpulan

Maulid Nabi pada akhirnya bukan tentang seberapa meriah kita memperingatinya, melainkan seberapa jauh kita mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ. Bukan sekadar seberapa banyak selawat dilantunkan, melainkan seberapa kuat kecintaan itu mendorong kita terikat pada risalah beliau.

Rasulullah ﷺ tidak diutus hanya untuk mengubah cara manusia beribadah ritual. Beliau diutus membawa risalah Islam untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya tauhid. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).

Jangan biarkan perayaan Maulid sebatas menjadi gema selawat yang indah tanpa meninggalkan jejak perubahan dalam tatanan kehidupan. Mari jadikan Maulid sebagai momentum untuk menghidupkan kembali kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dengan mempelajari metode perjuangan beliau dalam membangun peradaban Islam. Sebab, cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah ittiba', dan ittiba' berarti siap mengikuti jejak beliau dalam seluruh dimensi kehidupan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar