MENJEMPUT KEMUDAHAN ALLAH DALAM JALAN DAKWAH


Oleh: Ummu Wildan
Penulis Lepas

Jalan dakwah bukanlah jalan yang selalu mudah. Ia adalah jalan para nabi, jalan orang-orang yang menyeru manusia menuju kebenaran. Karena itu, setiap langkah di dalamnya pasti diiringi ujian, tantangan, dan berbagai kesulitan. Namun, seorang dai tidak pernah diajarkan untuk menyerah. Ia justru diajarkan untuk yakin bahwa setiap kesulitan selalu disertai pertolongan Allah ï·».

Kesulitan dalam dakwah dapat datang dari dalam diri maupun dari luar. Dari dalam diri, seorang dai mungkin merasa ilmunya masih terbatas, kurang percaya diri ketika berbicara di hadapan banyak orang, kurang peka melihat peluang dakwah, atau minim budaya membaca sehingga wawasannya tidak berkembang. Semua itu dapat menjadi hambatan dalam menyampaikan risalah Islam.

Kurangnya ilmu, misalnya, dapat menyebabkan seseorang keliru memahami maupun menjelaskan ajaran Islam. Padahal seorang penyampai dakwah memikul amanah yang besar untuk menyampaikan kebenaran sebagaimana yang diajarkan Rasulullah ï·º. Demikian pula rasa minder atau tidak percaya diri sering kali membuat materi yang sebenarnya telah dipahami menjadi tidak tersampaikan dengan baik. Pikiran menjadi tidak fokus, gugup menguasai diri, bahkan penjelasan yang seharusnya runtut menjadi membingungkan.

Tidak sedikit pula peluang dakwah yang terlewat hanya karena kita kurang mampu membaca kebutuhan masyarakat. Padahal dakwah memiliki banyak pintu. Ada yang membutuhkan guru tahsin Al-Qur'an, ada yang memerlukan pembinaan keluarga, ada pula yang membutuhkan pendampingan bagi anak-anak dan remaja. Jika kita memahami kebutuhan umat, insya Allah akan terbuka banyak jalan untuk menyampaikan Islam.

Selain faktor internal, hambatan dakwah juga datang dari luar diri. Cuaca yang tidak mendukung, kondisi geografis yang sulit dijangkau, keterbatasan fasilitas, lingkungan yang kurang kondusif, hingga kondisi kesehatan sering kali menjadi ujian yang harus dihadapi para pejuang dakwah. Semua itu adalah bagian dari sunnatullah yang akan selalu menyertai perjalanan dakwah.

Namun, setiap kesulitan sesungguhnya memiliki jalan keluar. Ilmu yang masih kurang dapat ditingkatkan dengan terus belajar. Rasa percaya diri dapat dibangun melalui latihan dan pengalaman yang terus-menerus. Wawasan dapat diperluas dengan memperbanyak membaca dan berdiskusi dengan para guru maupun senior dakwah. Kemampuan membaca peluang pun akan terasah ketika seorang dai mau turun langsung ke tengah masyarakat dan memahami persoalan mereka.

Meski demikian, seluruh ikhtiar tersebut tidak akan berarti tanpa pertolongan Allah ï·». Sebab, keberhasilan dakwah bukan semata hasil kecerdasan, kemampuan berbicara, ataupun strategi yang matang. Dakwah akan membuahkan hasil apabila Allah memberikan kemudahan dan keberkahan di dalamnya.

Allah ï·» berfirman:

ÙˆَÙ…َÙ†ْ ÙŠَتَّÙ‚ِ اللَّÙ‡َ ÙŠَجْعَÙ„ْ Ù„َÙ‡ُ Ù…َØ®ْرَجًا ÙˆَÙŠَرْزُÙ‚ْÙ‡ُ Ù…ِÙ†ْ Ø­َÙŠْØ«ُ Ù„َا ÙŠَØ­ْتَسِبُ
...Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3).

Ayat ini mengajarkan bahwa pertolongan Allah datang kepada hamba yang menjaga ketawakalannya. Karena itu, seorang dai hendaknya senantiasa memperbaiki hubungannya dengan Allah sebelum sibuk memperbaiki manusia.

Ada beberapa amalan yang dapat menjadi sebab turunnya kemudahan dari Allah. Pertama, memperbanyak istigfar dan bertobat. Istigfar bukan hanya menghapus dosa, melainkan juga membuka pintu keberkahan, melapangkan rezeki, dan memudahkan berbagai urusan. Kedua, memperbanyak doa. Rasulullah ï·º mengajarkan umatnya agar selalu memohon kemudahan kepada Allah dalam setiap urusan karena tidak ada kekuatan selain dengan pertolongan-Nya.

Ketiga, bersungguh-sungguh dalam berikhtiar kemudian bertawakal. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan mengerahkan kemampuan terbaik kemudian menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah. Ketika hasilnya sesuai harapan, seorang mukmin bersyukur. Sebaliknya, ketika hasilnya belum seperti yang diinginkan, ia bersabar dan bermuhasabah, karena yakin Allah mengetahui apa yang terbaik baginya.

Keempat, berbakti kepada kedua orang tua. Rida Allah bergantung pada rida kedua orang tua. Doa mereka merupakan salah satu sebab datangnya keberkahan dalam kehidupan, termasuk dalam perjuangan dakwah.

Di atas semua itu, seorang dai harus senantiasa meluruskan niat. Dakwah bukanlah jalan mencari popularitas, pujian manusia, ataupun kedudukan. Dakwah adalah ibadah untuk meraih keridaan Allah semata. Ketika niat tetap lurus, setiap lelah akan bernilai pahala, setiap air mata menjadi penghapus dosa, dan setiap langkah akan dicatat sebagai amal kebaikan.

Jangan pernah takut menghadapi sulitnya jalan dakwah. Sebab yang memanggil kita untuk berdakwah adalah Allah, dan Dia pula yang akan mencukupkan pertolongan bagi hamba-hamba-Nya yang ikhlas.

Semoga Allah ï·» senantiasa memudahkan langkah kita dalam menuntut ilmu, mengamalkannya, serta menyampaikan risalah Islam kepada umat. Semoga setiap kesulitan yang kita hadapi menjadi sebab datangnya pertolongan dan keberkahan dari-Nya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar