
Oleh: Santy
Penulis Lepas
Aneksasi wilayah Tepi Barat terus dilancarkan oleh Zionis Israel melalui ribuan serangan, ancaman, teror pemukim ilegal, penghancuran puluhan tempat ibadah, hingga rencana pembangunan 2.300 unit perumahan ilegal. Proyek New Gaza melalui kesepakatan Board of Peace (BoP) makin masif digaungkan.
Di sisi lain, militer Israel terus melakukan penangkapan terhadap para pengungsi di Kamp Qalandiya dan tidak pernah berhenti merampas tanah warga secara ilegal, terstruktur, sistematis, serta didukung penuh oleh pemerintahan Benjamin Netanyahu. Sementara itu, PBB hanya sebatas mengeluarkan peringatan retoris yang tidak memberikan dampak apa pun untuk menghentikan perampasan tanah warga Palestina.
Setelah Gaza, Beralih ke Tepi Barat
Aneksasi ini dijalankan dalam upaya memperluas wilayah permukiman warga Yahudi sekaligus mengusir warga Palestina agar pindah dan meninggalkan tanah air mereka. Ini adalah strategi licik Israel untuk menduduki seluruh wilayah Palestina secara utuh. Langkah ini akan terus dijalankan oleh Zionis sekalipun PBB dan dunia internasional menentang. Tampak jelas bahwa Israel ingin menunjukkan ambisinya untuk mewujudkan proyek "Israel Raya" (Greater Israel) secara serius dengan menghalalkan segala cara.
Kemerdekaan penuh bagi Palestina tidak akan pernah diberikan oleh Zionis karena hal itu bertentangan secara mendasar dengan proyek Israel Raya yang sedang mereka bangun. Bahkan wacana solusi dua negara (two-state solution) yang pernah menjadi opsi penawaran diplomasi mustahil disepakati oleh Zionis Israel. Apalagi, proyek New Gaza kini terbukti menjadi ladang investasi bisnis Amerika Serikat melalui strategi BoP-nya.
Kembali ke Syariat Islam
Cukup banyak upaya yang telah dilakukan oleh para pemimpin negeri-negeri Islam untuk menghentikan kejahatan Israel, bahkan dengan menawarkan solusi kompromi yang dianggap adil oleh kedua belah pihak. Namun, hasilnya tetap nihil. Zionis Israel tidak akan pernah menepati perjanjian kesepakatan damai, gencatan senjata, maupun solusi dua negara. Pada dasarnya, Zionis bersifat melanggar janji dan merasa jumawa karena terus dilindungi oleh negara komprador imperialis seperti Amerika Serikat beserta sekutunya.
Mengharapkan Zionis Israel untuk berdamai secara tulus adalah hal yang mustahil. Hanya pengerahan kekuatan militer (jihad fi sabilillah) dan persatuan negeri-negeri muslim yang mampu melawan Zionis, inilah kunci utama untuk membebaskan Palestina.
Bahkan, topeng diplomasi BoP harus dibongkar di hadapan umat agar masyarakat tidak tertipu atau mendukung penguasanya bergabung dalam skema tersebut. Sebab, bergabung dalam skema tersebut merupakan bentuk pengkhianatan penguasa muslim terhadap rakyatnya. Persatuan negeri-negeri muslim di bawah sistem Khilafah harus makin masif diperjuangkan melalui gerakan dakwah politik.
Allah ﷻ berfirman:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِك هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali 'Imran: 104).
Kembalinya Institusi Khilafah
Allah ﷻ memberikan perintah kepada kaum muslimin untuk membentuk kelompok dakwah berjemaah yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, yakni untuk mengajak umat menerapkan Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam kehidupan mereka. Untuk menghadapi Zionis Israel beserta sekutunya, diperlukan institusi negara Islam yang kuat dan mampu mengusir penjajah dari bumi Palestina, negara Islam tersebut adalah Khilafah 'ala Minhaj an-Nubuwwah.
Maka, fungsi strategis dari kelompok dakwah jemaah tersebut adalah mengembalikan kehidupan Islam di tengah-tengah umat melalui terwujudnya persatuan negeri-negeri Islam. Kelompok dakwah melakukan pembinaan (tatsqif) dan mengedukasi kesadaran politik umat akan krusialnya keberadaan Khilafah dalam kehidupan mereka. Sebab, Khilafah akan bertindak sebagai junnah (perisai) dan pelindung bagi kaum muslimin di seluruh dunia.
Saatnya umat menyambut seruan dakwah tersebut untuk bersama-sama mewujudkan persatuan hakiki. Dengan demikian, kehinaan, kesengsaraan, dan penderitaan saudara-saudari muslim yang selama ini terpisah oleh sekat-sekat nasionalisme dapat diakhiri di bawah naungan panji Rasulullah ﷺ yang menggentarkan musuh-musuh Islam.
Langkah selanjutnya, Khilafah akan menghadapi musuh-musuh Islam dan mengarahkan pasukan tentara muslim melalui komando jihad untuk membebaskan bumi Palestina secara tuntas. Sungguh, pertolongan Allah ﷻ itu dekat dan kemenangan Islam pasti akan datang, meskipun musuh-musuh Islam terus melancarkan tipu daya.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
“Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya mereka. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali 'Imran: 54).
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar