
Oleh: Yuni Ummu Uwais
Penulis Lepas
Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) merupakan salah satu pilar utama kemajuan teknologi modern yang menawarkan berbagai kemudahan luar biasa bagi kehidupan manusia. Teknologi ini mampu mengaselerasi performa berbagai sektor strategis, mulai dari efisiensi kurikulum pendidikan, diagnosis presisi di bidang kesehatan, optimalisasi produktivitas kerja, hingga kemudahan komunikasi global tanpa sekat.
Namun di balik potensi masif tersebut, kemajuan pesat AI menyimpan kekhawatiran global yang amat nyata apabila dikembangkan tanpa kendali moral serta mengabaikan batas-batas nilai etika kemanusiaan. Para peneliti dan tokoh pengembang teknologi terkemuka telah berulang kali mengingatkan pemerintah dan masyarakat dunia agar bersiap menghadapi eskalasi risikonya.
Bahkan pendiri Microsoft, Bill Gates, secara terbuka memperingatkan bahwa pengembangan AI tanpa kontrol ketat berisiko memicu bencana besar yang sanggup merenggut hingga satu miliar jiwa. Dalam wawancaranya bersama NBC, Gates menegaskan bahwa AI membutuhkan pengawasan regulasi yang mengikat dari penegak hukum dan politisi, sebab mekanisme regulasi mandiri (self-regulation) oleh internal industri teknologi terbukti tidak akan pernah cukup (CNBC, 1/10/2026).
Sebagai seorang muslim, kita tentu tidak sepatutnya bersikap antiteknologi (teknofobia). Akal dan ilmu pengetahuan merupakan karunia mulia dari Allah ﷻ yang wajib dioptimalkan untuk memakmurkan bumi. AI pada dasarnya hanyalah sebuah sarana (wasilah); dampak positif maupun negatifnya sangat bergantung pada landasan ideologis serta dorongan moral para pengembang dan penggunanya.
Etika Penggunaan AI dan Batasan Syariat Islam
Teknologi AI sangat berpotensi menghasilkan keputusan serta kalkulasi informasi yang manipulatif atau merugikan apabila berada di tangan pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, manusia dilarang keras menyerahkan kontrol kehidupan sepenuhnya kepada algoritma buatan tanpa mempertimbangkan tuntunan agama dan nilai-nilai moralitas.
Islam sangat mendukung pengembangan sains dan teknologi selama tidak bertentangan dengan hukum syariat. Allah ﷻ telah memperingatkan dalam Al-Qur'an:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya...” (QS Al-A'raf [7]: 56)
Ayat ini memberikan rambu-rambu tegas bahwa pemanfaatan teknologi apa pun diharamkan memicu kerusakan (ifsad) bagi kehidupan manusia maupun kelestarian lingkungan. AI harus tetap diletakkan sebagai alat bantu, bukan pengambil keputusan mutlak yang menggeser peran dan tanggung jawab taklif manusia. Manusia sebagai pengelola bumi (khalifah fil ardhi) tetap menjadi subjek utama yang wajib mengawasi, mengendalikan, dan bertanggung jawab atas setiap dampak dari teknologi yang diciptakannya.
Komparasi Paradigma Tata Kelola AI
Dampak penerpan kecerdasan buatan dalam peradaban manusia sangat ditentukan oleh sistem ideologi yang menaunginya:
- AI di Bawah Cengkeraman Kapitalisme Sekuler: Jika AI dikembangkan dalam tatanan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, teknologi ini sangat rentan dijadikan alat eksploitasi pasar, peretas privasi publik, instrumen disinformasi, hingga pemuas keserakahan materiil yang pada akhirnya membawa kebinasaan bagi tatanan kemanusiaan.
- AI di Bawah Naungan Akidah dan Syariat Islam: Sebaliknya, jika teknologi AI dikembangkan oleh individu dan negara yang berakidah Islam secara kokoh, keberadaannya akan dioptimalkan mutlak untuk kemaslahatan publik, seperti mempercepat pemetaan dakwah global, efisiensi diagnosis medis gratis, serta peningkatan akurasi tata kelola pelayanan publik.
Kecerdasan buatan bukanlah hal yang harus ditakuti secara berlebihan, tidak pula boleh diterima secara membabi buta tanpa batasan etis. Umat Islam dituntut untuk tidak sekadar menjadi konsumen pasif dari produk Barat, melainkan harus menguasai, mengembangkan, dan mengarahkan pemanfaatan AI agar senantiasa berada dalam koridor akidah dan syariat Islam.
Di bawah kendali manusia yang bertakwa serta kepemimpinan Islam yang menerapkan aturan syariat secara utuh, kemajuan teknologi AI akan terarah secara sempurna untuk mewujudkan rahmatan lil 'alamin, membawa kemaslahatan hakiki, bukan kebinasaan atau hilangnya peradaban manusia.
Wallahua’lam bish-shawab.

0 Komentar