
Oleh: Shalsha Baharrizqi
Muslimah Peduli Umat
Duka mendalam kini kembali dirasakan oleh masyarakat. Bagaimana tidak? Kehadiran banjir seolah menjadi hadiah pahit selama musim penghujan berlangsung.
Meskipun seringkali bencana alam seperti banjir ini sering dianggap sebagai hal yang lumrah, namun ketika banjir menampakkan murkanya hingga membawa korban jiwa dan material yang tak sedikit, patutlah kita sebagai manusia untuk merenungkan semuanya.
Sebagaimana banjir yang melanda Garut pada Jumat (15/7) malam yang telah menghanyutkan sembilan rumah, dan puluhan rumah mengalami kerusakan.
Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum menilai, banjir yang terjadi di Garut tidak hanya akibat curah hujan yang tinggi. Lebih dari itu, banjir karena adanya pembabatan dan alih fungsi lahan di kawasan hulu sungai. Usai meninjau lokasi bencana banjir, Wakil Gubernur Jawa Barat ini memberi edukasi kepada masyarakat bahwa "masyarakat harus paham bahwa bencana banjir tidak datang dengan begitu saja. Dan jangan melakukan tindakan yang dapat menyebabkan terjadinya bencana"
Apakah banjir ini datang diakibatkan dari curah hujan yang tinggi atau ada hal lainnya?
Kerusakan Akibat Ulah Manusia
Kerusakan ekologis alam diakibatkan karena ulah perbuatan tangan-tangan manusia. Ekosistem alam yang seharusnya dijaga agar tidak menimbulkan bencana, justru malah dijadikan lahan konsensi untuk korporasi. Dan korporasi menggarap dan memanfaatkanya berdasarkan asas kapitalisme.
Kerusakan ekologis adalah bukti bahwa sistem kapitalisme tidak dapat mengatasi bencana yang terjadi, karena dibangun atas paradigma berpikir yang salah. Inilah buah sistem ideologi kapitalisme demokrasi. Persoalan banjir akan terus terjadi jika penguasa tidak mau mengurus kepentingan publik dengan penerapan syariah, malah mengambil solusi dari hukum buatan manusia yaitu kapitalistik yang eksploitatif hanya memikirkan keuntungan semata.
Cara Islam Mengatasi Bencana Banjir
Sebagai seorang muslim, kita tentu harus mengimani bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas izin dari Allah ﷻ. Jika kita diberi sebuah musibah, maka bersabar adalah solusinya. Namun dibalik sebuah musibah yang Allah turunkan, kita tentu harus menjadikannya sebagai momen untuk bermuhasabah diri. Tentang apa yang telah kita lakukan? Hingga Allah menjadikan hujan sebagai banjir.
Alam merupakan ayat-ayat penanda manifestasi ketuhanan di muka bumi ini. Tanah dan kesatuan ekologinya merupakan makhluk yang bertasbih kepada Allah ﷻ "Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada didalamnya bertasbih kepada Allah" Maka Islam berpandangan bahwa alam tidak diposisikan sebagai benda mati atau benda ekonomi (capital) yang dapat diperjual belikan sebagaimana benda pada umumnya, yang mana hal tersebut dapat mengakibatkan kerusakan.
Sebagaimana firman Allah ﷻ:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan." (QS Al-Araf:7:56)
Agar bencana banjir ini tidak terulang terus menerus, maka perlu adanya upaya yang harus ditempuh dengan sungguh-sungguh dari rakyat dan pemerintah. Pemerintah haruslah mengeluarkan kebijakan-kebijakan dalam mengatasi banjir.
Islam lah solusi satu-satunya untuk mengatasi bencana ekologis, karena memiliki institusi politik yaitu Khilafah Islamiyah yang memiliki kebijakan memperhatikan dari sisi aspek sebelum, ketika dan pasca banjir. Dengan kebijakan ini, Inshaa Allah, masalah bencana banjir bisa ditangani dengan tuntas.
Wallahu a'lam bish-shawabi

0 Komentar