
Oleh: Uni
Penulis Lepas
Bulan Rabiulawal adalah bulan dimana nabi kita dilahirkan. Seperti biasa, sebagian umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ dengan berbagai ragam cara. Salah satunya yang dilakukan oleh warga Bengkulu, warga menggelar arak-arakan tumpeng dari rumah menuju masjid. Sebanyak 80 tumpeng diarak warga Kelurahan Pematang Gubernur Kota Bengkulu menuju masjid terdekat. Usai arak-arakan tumpeng kemudian dibawa ke dalam masjid dan dijajarkan di depan jamaah masjid dengan diiringi tabuhan gendang dan shalawat. Tumpeng kemudian dibagikan untuk disantap bersama. Tradisi tahunan ini menjadi wujud akan cinta nabi yang dipercaya membawa keberhakan untuk masyarakat sekitar. (Kompas.tv, 16/9/2024).
Kebahagiaan dalam mengenang momen-momen bersejarah dalam Islam adalah hal yang baik. Secara tidak langsung kita mengenalkan kepada generasi-generasi kita bahwa banyak momen yang patut untuk kita ingat sepanjang masa. Seperti halnya hari lahir Nabi Muhammad ﷺ dengan harapan semakin tumbuh suburnya rasa cinta umat kepada Rasulullah. Tapi, apakah hanya dengan ritual-ritual dan euforia saat perayaan saja kita menanamkan rasa cinta kita kepada nabi?
Bagaimana Islam dalam memandang hal ini?
Arti mencintai
Mencintai adalah seseorang akan melakukan apa saja yang membuat sang pujaan akan merasa senang, dan tentu dengan memberikan semua yang diinginkan. Nah, dalam konteks ini, adalah bagaimana seharusnya bukti cinta kita kepada rasul. Cinta kepada rasul adalah perintah dari Allah, seperti dalam firman-Nya:
قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ ࣖ
24. Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS At-Taubah: 24).
Jadi, jelas cinta kepada rasul adalah bukti patuh kita kepada Allah. Lalu, tahap selanjutnya adalah bagaimana cara membuktikannya?
Bukti Yang Pasti
Pembuktian cinta bukan dengan omong kosong belaka, melainkan dengan tindakan yang nyata yaitu sikap yang siap, tanpa tapi dan tanpa nanti dalam menaati ketetapan dan hukum Allah dan Rasul-Nya.
Allah berfirman:
۞ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَلَا تُبْطِلُوْٓا اَعْمَالَكُمْ
33. Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan janganlah kamu merusakkan segala amalmu. (QS. Muhammad: 33).
Taat dalam arti sebenarnya adalah sikap patuh kepada seluruh perintah, dalam konteks ini adalah aturan Sang Pencipta yang telah jelas dan terperinci dalam kitab suci Al Qur'an.
Yang harus kita laksanakan tanpa pilah-pilih sesuai kebutuhan kita. Seperti dalam Al-Qur;an surat Al-Baqarah ayat 208:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
208. Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.
Ayat ini menjelaskan tentang keharusan bahwa setiap muslim wajib untuk berislam secara kaffah (keseluruhan). Tidak boleh mengambil hukumnya sesuai dengan kebutuhan saja layaknya prasmanan. Karena Islam telah sempurna dan paripurna dalam mengatur berbagai aspek kehidupan. Seperti aspek ibadah, ekonomi, pendidikan, kesehatan, muamalah, sampai politik.
Maka, seharusnya manusia yang mengaku umatnya nabi pasti akan menjadikan setiap aturan dalam Islam sebagai pedoman untuk menjalankan berbagai peran dalam kehidupan. Entah itu sebagai rakyat biasa atau sebagai pemimpin. Karena pada dasarnya Rasulullah bukan hanya berperan sebagai ayah, suami dan keluarga saja, tapi rasul juga berperan sebagai pemimpin dan kepala negara. Maka sudah sepantasnya para pemimpin-pemimpin negara ini meneladani metode kepemimpinan Rasulullah ﷺ.
Pembuktian cinta kepada nabi seperti inilah yang akan menjadikan pribadi umat tumbuh rasa taat dan patuh akan syariat. Dengan demikian, Islam akan hadir menjadi rahmatan lil'alaamiin, yang akan membawa kepada kesejahteraan dan keselamatan yang hakiki.
Wallahu 'alam bishawab.

0 Komentar